"politics without principle, wealth without work, pleasure without conscience, knowledge without character, commerce without morality, science without humanity, worship without sacrifice." (Seven Social Sins, Mahatma Gandhi - 1925).

Kamis, 27 Oktober 2011

Diskusi Bersama


Mengenang 62 Tahun Hilangnya Tan Malaka
"Meneladani Pribadi Sederhana Penggagas Negara Republik Indonesia"
 Minggu, 20 Februari 2011 di Cilandak, Jakarta Selatan

Tan Malaka: Jalan Konfrontasi, Jalan Politik

Tan Malaka ibarat kabut dalam sejarah republik ini. Namanya memang tidak seakrab Syahrir, Soekarno atau Hatta karena memang dibekukan dari teks sejarah politik resmi selama puluhan tahun. Meski geraknya ibarat kabut, namun jalan perjuangan yang ditempuhnya sangat jelas: jalan konfrontasi. Tan Malaka sangat keras terhadap jalan negosiasi yang diambil para pendiri bangsa lainnya. Baginya, jalan tersebut hanya akan merawat kapitalisme-imperialisme Belanda. Jalan tersebut sekaligus jalan intelektual. Kata dan perbuatan tidak bercelah dalam diri Tan Malaka. Jalan konfrontasi yang dipilih bertolak dari filsafat dialektika material yang diyakininya. Madilog adalah manifesto pikiran untuk jalan politik yang ditempuhnya. Oleh sebab itu, ada baiknya kita bermula dari Madilog.
 
Madilog
 
Pemikir pejuang pasti memiliki traktat yang merangkum pikirannya yang terus bergerak. Marx menulis Manifesto Komunis, Lenin menulis The State and Revolution, Trotsky menulis Marxism and Terrorism, Gramsci menulis Prison Notebooks, Ferdinand Lassale menulis Zur Arbeiterfrage (On Labor Issue)  dan Althusser menulis Essays on Ideology. Semua pemikir pejuang pasti berpikir dan berbuat, bukan sekadar berbuat apa yang dipikirkan orang lain. Mereka memiliki sebuah cetak biru intelektual tentang keadaban baru pasca penindasan dan keterbelakangan.
 
Tan Malaka memiliki Madilog. Madilog adalah buah asketisme intelektual Tan Malaka. Traktat tersebut disusun Tan Malaka di desa rawajati, dekat pabrik sepatu kalibata Jakarta. Tan Malaka menyewa gubuk bambu ukuran 15 meter persegi untuk bekerja dari pukul enam pagi sampai dua belas siang merangkum gagasan-gagasannya. Dari gubuk itu Tan Malaka mondar mandir ke Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen (sekarang museum nasional) untuk riset literatur bagi bukunya. Madilog pun selesai kurang lebih satu tahun mulai dari 15 juli 1942 sampai 30 Maret 1943. 

Poeze dalam bukunya, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1925-1945, mengatakan bahwa inti madilog adalah penglihatan masa depan indonesia yang merdeka dan sosialis. Merdeka satu hal, sosialisme hal lain. Republik bisa merdeka secara formal namun rakyatnya tetap menjadi kuli di tanah airnya sendiri. Sebab itu, inti Madilog adalah dialektika. Dialektika adalah logika yang bertolak belakang dengan logika identitas Aristoteles. Apabila logika identitas mengatakan bahwa A = A dan ≠ Non A, maka dialektika justru menekankan betapa A (tesis) melahirkan Non A (anti tesis). Bentrokan antara tesis dan anti tesis akan mengalami sublasi menjadi sebuah sintesa. Semisal proposisi pulau adalah tanah (tesis) melahirkan proposisi pulau adalah air (anti tesis) yang bersublasi menjadi pulau adalah tanah yang dikelilingi air (sintesa). Kapitalisme (tesis) melahirkan sosialisme (anti tesis) dan bersublasi menjadi komunisme lanjut (sintesis). Dialektika tidak serta merta mengatakan bahwa satu epos sebangun dengan kesempurnaan melainkan mengandung cikal bakal kesempurnaan, seperti kapitalisme mengandung buruh sebagai kekuatan revolusioner yang akan membawa peradaban ke tingkat yang lebih humanis.
 

Dialektika adalah hukum sejarah. Kolonialisme pasti melahirkan anti kolonialisme. Kolonialisme menyiapkan jalan bagi anti kolonialisme. Betapa tidak, pendiri-pendiri bangsa kita sebagian besar mengecap pendidikan di negeri Belanda dan mengolah pikiran-pikiran revolusioner di sana. Dialektika sejatinya bukan negosiasi melainkan kontradiksi. Sosialisme bukan negosiasi terhadap kapitalisme tetapi kontradiksi total mengenai hak milik pribadi, relasi antar manusia, konsep negara dan hukum. Dialektika adalah imperatif untuk berhadapan secara frontal dengan rejim yang bobrok secara keadaban.
 

Dialektika adalah filsafat konfrontasi yang dibutuhkan proletar mesin dan tanah di bakal republik ini. Tan Malaka sendiri mengatakan, 

Banyak Proletar mesin dan tanah di Indonesia dan kekuatannya yang tersembunyi memang  sudah cukup kuat buat merebut kekuasaan dari imperialisme Belanda. Tetapi didikannya masih sangat tipis dan tiada cocok dengan keperluan dan kewajiban klasnya di hari depan. Mereka kekurangan pandangan dunia (Weltanschauung). Kekurangan Filsafat. Mereka masih tebal diselimuti ilmu buat akhirat dan tahyul campur aduk. Mereka tiada sadar akan kekuasaan klasnya. Belum insyaf sendiri, bahwa tak dengan pertolongan proletar mesin, semuanya percobaan buat merebut dan membentuk Indonesia merdeka adalah perbuatan sia-sia belaka. Dua puluh tahun dulu saya sudah yakin akan kekuatan kaum proletar yang tersembunyi itu. (Madilog, 1851, hal. 5)

Kekuatan kontra atau anti kolonialisme sudah tersembunyi di republik ini dan siap diledakkan. Namun, persoalannya adalah mereka belum memiliki filsafat yang tepat dan masih dibayang-bayangi logika non-dialektika yang mengidentikan antara kolonialisme dengan kemanusiaan. Jalan pikiran keliru itu yang dicoba dilempangkan Tan Malaka lewat Madilog. Namun, upaya tersebut tidak sekadar menyalin filsafat Barat tanpa menanamkannya dalam konteks lokal-keindonesiaan. Tan Malaka mengatakan,

Filsafat kaum proletar memang sudah ada, yaitu di barat. Tetapi dengan menyalin semua buku dialektis-materialisme dan menyorongkan buku-buku itu pada proletar Indonesia kita tiada akan dapat hasil yang menyenangkan. Saya pikir otak proletar mesin Indonesia tak bisa mencernakan paham yang berurat dan tumbuh pada masyarakat Indonesia dalam hal iklim, sejarah, keadaan jiwa dan idamannya. (Madilog,1951, hal. 6)

Filsafat harus ber-konteks. Ini posisi intelektual Tan Malaka sebagai pemikir pejuang. Konteks iklim, sejarah, keadaan jiwa dan cita-cita harus dipertimbangkan dalam merumuskan filsafat dialektika. Alam pikiran masyarakat Indonesia masih dipengaruhi oleh cara berpikir atau logika mistika. Logika mistika adalah aturan berpikir yang fantastis, tahyul dan sembarangan. Misalnya, pandangan mesianistik “ratu adil” yang menciptakan sikap fatalis, pasif dan beku di sebagian masyarakat Indonesia. Logika mistika tidak melihat pertentangan kelas dalam kapitalisme-imperialisme Belanda sebagai embrio revolusi kemerdekaan melainkan semata pembagian kerja yang diatur secara adi kodrati (semua orang sudah diatur tugas dan fungsinya secara ilahiah). Logika identitas, proporsionalisme dan stratifikasi harus digantikan dengan logika pertentangan atau dialektika. Untuk itu Tan Malaka mengingatkan,

Ahli filsafat yang jawa, ahli politik atau ahli siasat yang cerdas ahli ekonomi yang sempurna, mesti memakai senjata pertentangan, seperti senjata dalam pepatah Indonesia: yang tajam balik bertimbal, kalau tak ujung pangkal mengena. Ahli filsafat mesti selalu berjalan di antara kedua kutub, utara dan selatan, ujung dan pangkal, ya dan tidak, ada dan tak-ada. Sebentar dia bisa cemplungkan otaknya ke dalam ada, sebentar lagi ke dalam tak ada, dan pada tempat masing masing memakai logika, tetapi pada pemandangan jauh mempunyai waktu lama, dia mesti pikirkan ada itu terletak di kutub tak-ada, tak boleh bercerai satu sama lainnya. Si-ekonomis dan ahli politik, sebentar boleh memakai Logika, dalam menyelidiki beberapa perkara dalam golongan proletar atau kapitalis, tetapi dalam filsafat masyarakat sekarang, masyarakat kapitalisme, dia tidak boleh melupakan kedua kutub, kaum modal dikutub utara, kaum buruh di kutub selatan. Satu sama lain bertentangan, tak boleh dipadu. Disini dialektika yang merajalela (Madilog,1951, hal. 11)

Juga,
 
Tetapi tuan mesti kupas masyarakat sekarang, dengan cara berpikir yang beralasan benda, bukan roh, yang bertentangan, bukan perdamaian, memakai undang berpikir yang bukan fantastis, bertahyul, sembarangan. Jelaskan pentingnya benda buat kesehatan kecerdasan, kebudayaan, kemerdekaan dan kesenangan. Kupaslah pertentangan upah dan untung, pertentangan proletar dan kapitalis. Pertentangan politik buruh dan politik majikan dan akhirnya pertentangan kebudayaan kaum pekerja dengan kebudayaan kaum hartawan yang menganggur itu. Jelaskanlah kedudukan proletar dalam dunia kapitalisme ini. Peringatkanlah, bahwa mereka pekerjalah, yang menduduki lantai ekonomi perekonomian Indonesia. Bangunkanlah semangat kritis – menentang - dalam masyarakat yang memang berdiri atas beberapa golongan yang bertentangan. Dengan begitu bangunkanlah semangat menyerang buat meruntuhkan yang lama – usang – dan mendirikan masyarakat yang baru – kokoh – kuat.  (Madilog,1951, hal. 12) 

Kekuatan revolusioner anti kapitalisme-imperialisme tersembunyi pada pekerja mesin menurut Tan Malaka. Kita boleh berdebat mengenai ini mengingat sebagian besar pekerja kita adalah pekerja tanah (petani). Namun, Tan Malaka sepertinya yakin betul bahwa pekerja mesin adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Tanpa mereka, konfrontasi tidak akan melahirkan kemerdekaan yang bertahan lama. Kemerdekaan politik tanpa disertai ekonomi akan kembali membuat republik ini terjajah oleh kekuatan kapitalisme-imperialisme yang masuk melalui jalan negosiasi, bukan senjata. Dan perekonomian yang berdikari ditopang oleh pekerja mesin yang tangguh dan solid.

Walaupun dalam bagian badan kita, otak kita itu adalah barang yang perlu dan penting, hati, jantung, usus, dsb juga penting, tetapi kalau tak-bertulang belakang kita tak bisa berdiri. Klas tani itu penting, klas saudagar di dunia sekarang berguna, klas intelek berguna-penting, tetapi tak-ber-klas pekerja-mesin, Indonesia merdeka pasti tak akan bisa berdiri dan kalau berdiri tak akan bisa teguh dan lama. Pekerja di dalam tambang minyak, besi, timah, bengkel dan pabrik dan pada pengangkutan inilah tulang belakangnya ekonomi Indonesia. Inilah kaum yang bisa dikerahkan buat menyokong berdirinya dan majunya Indonesia Merdeka yang sejati dan terus-menerus mempertahankan kemerdekaan itu. Dekatilah golongan pekerja ini! Masuklah klasnya! Dengan klas ini bersama dengan golongan lain, maka klas pekerja seolah-olah akan menjadi klas, sebagai "teras’’ yang dikelilingi kayu dan kulit, kalau ia terus maju ke muka buat mencapai kemerdekaan sejati dan mendirikan negara yang cocok dengan kemakmuran sama-rata dan persaudaraan. (Madilog, 1951, hal. 11-12)

Jalan Konfrontasi

Dialektika, bagi Tan Malaka, bukan sekadar jalan pikiran melainkan juga jalan politik: politik konfrontasi. Tan Malaka prihatin dengan jalan negosiasi yang diambil oleh elit pemimpin republik. Baginya, negosiasi hanyalah jalan belakang bagi masuknya kembali kapitalisme-imperialisme Belanda. Tan Malaka membuat catatan khusus terhadap kesepakatan-kesepakatan yang dibuat dalam perundingan Linggardjati dan Renville. Tan Malaka membahas masalah inti persoalan pada kedua perjanjian tersebut, khususnya pasal 14 yakni pengakuan terhadap hak milik Belanda dan pengakuan terhadap utang negara. Dengan demikian, kedua perjanjian tersebut memberikan jaminan hukum dan berusaha bagi pedagang Balanda untuk menyewa tanah, air untuk perusahaan mereka, buruh dan kuli untuk dikuras tenaga mereka, kuli dan alat pengangkutan untuk membawa semua barang itu ke pantai, ke pulau-pulau lain dan ke dunia di luar Indonesia. Tan Malaka percaya betapa pelaksanaan pasal 14 akan berakibat buruk pada politik luar negeri, keuangan, militer dan kebudayaan Indonesia (Poeze, 2010, hal. 247)

Kesepakatan-kesepakatan tersebut lahir karena elit politik republik seperti Soekarno, Hatta, Amir Sjarifoeddin, dan Sjahrir semua berasal dari kelas borjuasi, mengikuti pendidikan tinggi di Belanda dan bekerja sama dengan imperialisme Belanda di dalam Linggarjati dan Renville. Tan Malaka mengemukakan analisa politikografi terhadap masing-masing tokoh tersebut, khususnya Soekarno, Hatta dan Sjahrir.  Soekarno dipandang Tan Malaka sebagai orator ulung, namun tidak memiliki cara berpikir dan filsafat revolusioner. Soekarno terlalu dekat dengan Jepang sehingga akan kehilangan kontak dengan massanya. Soekarno pun kembali menjadi borjuasi kecil dan memilih jalan yang paling tidak beresiko. Hatta, menurut Tan Malaka, bukan seorang revolusioner melainkan intelektual pendiam yang membosankan. Hatta tidak memiliki basis massa, dia hanya penghapal teori yang hanya didengar segelintir elit intelektual dari kalangan borjuis kecil. Sama dengan Soekarno, Hatta tidak memiliki sifat Murba dan mengambil jalan tanpa resiko dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Sjahrir bagi Tan Malaka adalah aktor intelektual politik negosiasi dengan kolonialisme Belanda. Sjahrir bertanggungjawab penuh dalam memisahkan babak pertama dan kedua revolusi kemerdekaan, yaitu diplomasi menggantikan aksi massa. Semua itu berakibat pada “keruntuhan republik lahir dan batin, ialah keruntuhan kemiliteran, perekonomian, sosial, politik dan moril” (Poeze, 2010, hal. 246 yang mengutip dari Pendjara III: 84)

Tan Malaka memahami betul bahwa politik bukan jabat tangan melainkan garis tebal yang memisahkan lawan/kawan. Jalan politik bukan negosiasi ekonomi yang menghitung untung/ rugi, jalan moral yang berporos pada baik/jahat atau jalan estetis yang melulu bicara soal indah/buruk (Schmitt, 1932, hal. 27). Malaka menarik garis antara pro-Murba dan anti-Murba, konfrontator dan kolaborator, pro-kapitalisme-imperalisme dan anti-kapitalisme-imperialisme. Elit politik republik pasca proklamasi sangat rentan terseret pada kubu yang bertolak belakang dengan Murba. Apa pun alasan para elit, Tan Malaka berpendapat bahwa konfrontasi total diperlukan untuk  memerdekakan republik baru ini baik secara formal-legal maupun substansial. Kebebasan dari penghisapan kapitalisme-imperialisme Belanda adalah syarat pokok untuk mendirikan republik yang berdikari secara politik, ekonomi dan budaya. Tan Malaka mengatakan,

Beginilah paham saya sebelum dibuang keluar Negara lebih dari 20 tahun yang lampau. Di bawah bendera Dai Nippon paham itu tak bertambah lemah, malah sebaliknya bertambah kuat. Perjuangan nasionalis setelah robohnya PKI (1927), yang dipimpin oleh kaum intelek sudah lebih dari pada cukup memberi bukti yang nyata, bahwa perjuangan yang tiada berdasarkan pekerja-murba tidak akan mendapat Indonesia Merdeka. Sikap keras terhadap para pemimpin prajurit pekerja, jauh lebih kejam dari pada sikap yang diambilnya terhadap para pemimpin nasionalis adalah sikap yang sangatjitu sekali menggambarkan taksirannya imperialisme Belanda terhadap berbagai golongan Masyarakat Indonesia yang mengancam dirinya itu (Madilog, 1951, hal. 11)

Meskipun dikenal kritis terhadap para kolaborator, Tan Malaka sesungguhnya menginginkan adanya persatuan kekuatan-kekuatan politik bangsa demi menghancurkan kolonialisme. Tan Malaka sebagai pimpinan PKI berupaya meyakinkan wakil-wakil kelompok Islam pada Konggres PKI ke-8 untuk bersinergi melawan kolonialisme. Pada Konggres yang dibuka pada tanggal 25 Desember 1921, Tan Malaka berpidato selama enam jam mengenai pentingnya unifikasi gerakan massa (McVey, 2006, hal.115). Dalam pidatonya Tan Malaka membandingkan antara keberhasilan politik non-kooperasi Indian National Conggress dibanding gerakan politik di Indonesia yang terpecah belah. Solidaritas adalah kata kuncinya. Pemerintahan kolonial Inggris tidak berani menangkap Gandhi karena tahu rakyat India bersatu di belakangnya. Di luar dugaan Tan Malaka, respon dari kelompok Islam sangat positif. Kyai Haji Tubagus Hadikusumo, wakil Muhammadyah, menanggapi Tan Malaka dengan mengatakan betapa perjuangan melawan kolonialisme Belanda hanya dapat dituntaskan dengan persatuan rakyat. Beliau mengatakan bahwa mereka yang melawan persatuan adalah kolaborator Belanda dan dapat dicap sebagai musuh Islam. Politik negosiasi Tan Malaka di Konggres ke-8 PKI menghasilkan sesuatu yang positif. Meski ada tantangan kecil di sana sini, semuanya bisa diselesaikan dengan baik. Peserta sepakat bahwa konggres lanjutan akan diadakan di bulan April 1922 untuk lebih memantapkan aliansi komunis-Islam demi perjuangan melawan kolonialisme. Semua itu membuktikan betapa Tan Malaka, meski kritis terhadap politik negosiasi yang dilakukan elit, sesungguhnya mengidamkan kolaborasi antar kekuatan anti kolonial di Indonesia. Tan Malaka, dapat dikatakan, melakukan negosiasi di dalam dan konfrontasi keluar.
 
Oleh: Donny Gahral Adian (Dosen Filsafat Politik dan Ideologi, Universitas Indonesia)

Makalah ini didiskusikan bersama Forum Studi M@KAR pada peringatan 62 Tahun Hilangnya Tan Malaka di Cilandak, 20 Februari 2011.

Kepustakaan
Schmitt, Carl. The Concept of Political. Chicago, University of Chicago Press: 1996
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Jilid 3: Maret 1947-Agustus1948. Jakarta, Buku Obor: 2010
Malaka, Tan. Madilog. Jakarta, Widjaya: 1951
McVey, Ruth T. The Rise of Indonesian Communism. Singapore, Equinox Publishing: 2006
Zulkifli Arif, et.al (ed.). Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan. Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia: 2010 


Rabu, 26 Oktober 2011

Hitam Putih

Dalam kehidupan ini, berbagai macam warna menghiasi kisah perjalanan makhluk Tuhan khususnya manusia. Ada hitam dan putih, baik dan buruk, atas dan bawah, rakyat dan pejabat, pahala dan dosa dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan itu memberikan simbol bahwa Tuhanlah yang maha kuasa untuk mengatur sesuai dengan kehendakNya. Tentu tak etis manakala kita memaksakan perbedaan menjadi persamaan karena hal itu mengurangi estetika kehidupan yang seharusnya dinikmati dan dijunjung bersama-sama.

Berapa banyak tindakan intoleransi terjadi di muka bumi ini alih-alih hanya ingin menciptakan persamaan atau menolak perbedaan. Mereka mengira bahwa persamaan itu indah dan damai, Kemudian apa arti kehidupan ini seandainya semua yang ada sama. Agama, gagasan, baju, negara, ideologi sama semua, tentu tak menarik lagi hidup ini bukan?

Suatu ketika, Ustadz Yusuf Mansyur memberikan ceramah agama di majlis taklim, dihadiri mayoritas oleh ibu-ibu dan bapak-bapak. Pengajian itu disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Ia memberikan nasihat kepada para perempuan terutama bagi mereka wanita karir. Menurutnya tak sepantasnya seorang wanita berkorban membuka aurat (tak berjilbab) demi sebuah pekerjaan menjadi teller di sebuah Bank dengan imbalan gaji 1,200.000,00, dari pada mereka bekerja dengan berkorban meninggalkan Syariat Islam, lebih baik duduk di rumah saja.” Demikian nasihat Ustad Yusuf Mansyur terhadap para wanita karir (teller), padahal ia tanpa mengetahui mengapa dan kenapa mereka bekerja, dan seberapa besar beban hidup untuk ditanggulanginya, mungkin saja suaminya telah tiada sehingga beban keluaga dipikul oleh seorang ibu, tentu hal itu tak terlintas manakala ia selalu mengedepankan etika tanpa memahami kronologis kehidupan seseorang di dunia ini.

Tentu kita akan mengatakan bahwa berjilbab bagi seorang wanita muslimah ialah mulia, meskipun demikian, tak seharusnya kita merendahan wanita yang tak berjilbab. Terkait dengan moralitas tergantung kepribadiannya masing-masing, bahkan tak sedikit dari wanita yang berjilbab, justru lebih memprihatinkan kondisi moralitasnya. Nah, ada hal-hal yang tak kita sadari kenapa mereka rela berkorban demi sebuah pekerjaan yang kadang-kadang bertolak belakang dari nilai-nilai Islami. Terkait soal gaji tentu sangat relatif bagi setiap orang. 

Saya sempat membaca tulisan budayawan Gunawan Muhammad, yang mengangkat kisah real seorang ibu (ditinggal suaminya) yang membanting tulang siang dan malam demi memberikan makan, biaya sekolah, beli baju, beli mainan untuk anak-anaknya dengan mengorbankan harga diri sebagai seorang pelacur. Semua itu ia rela lakukan demi anak-anaknya tercinta. Meskipun demikian, tentu tak mengurangi kita untuk menghargai pengorbanan ibu tersebut, bahkan ia ikhlas berlumuran dosa, demi sesuap nasi dan anak-anaknya agar tetap bisa meneruskan sekolahnya. Hemat saya, tentu tak etis manakala kita menghina dan merendahkan martabatnya, sementara kita tak bisa berbuat apapun untuk meringankan beban ibu tersebut.

Tak hanya fenomena di atas, kita yang selalu mengatakan termasuk golongan orang-orang yang beriman dan menjalankan syariat sesuai dengan ketentuanNya, namun dalam praktiknya tak sedikit dari kita justru merusak tatanan alam ini, misalnya dengan menebang hutan sembarangan, membuang sampah semaunya, membuat pencemaran udara dan air di sepanjang hari dll, sehingga mengakibatkan banjir, kebakaran, polusi udara/air dan bencana-bencana lainnya. Sungguh paradoks mengingat bencana-bencana itu adalah ulah manusia yang merasa berintelektual, beriman, beradap dan mempunyai harga diri. Sedangkan kita sering mengklaim kepada golongan ekslusif yang hidup di tengah hutan, tanpa pakaian kecuali menutupi alat vitalnya, primitif, aneh, bodoh, dungu dan tak menjalankan undang-undang atau syariat, namun dalam praktiknya mereka tak pernah menebang hutan, mencemari lingkungan, membakar hutan bahkan mereka yang selama ini menjaga lingkungan agar tetap hijau sehingga tak berpotensi terjadinya bencana alam. “Kata Tuhan bahwa kerusakan di muka bumi ini tak lain disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.” Nah, siapa lagi kalau bukan kita, orang yang mengaku beriman, intelektual dan modern.

Sebagi umat beragama, kita diwajibkan untuk menjalankan syariat sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Tuhanpun tidak akan memberikan ujian kepada makhlukNya di luar kapasitas dan kemampuan hamba-hambanya. Meskipun sholat, berjilbab, membaca kitab suci itu dianjurkan oleh Tuhan, namun tak etis seandainya kita memaksakan agar semua orang melaksanakan sesuai dengan perintah Tuhan. Sedangkan Tuhanpun tak pernah memaksakan kehendaknya, tentu semua itu mempunyai konsekuensinya masing-masing. Lantas, salahkah seorang Teller bank yang tak berjilbab, seorang ibu rela berlumuran dosa dengan bekerja siang dan malam demi sesuap nasi agar anak-anaknya bisa sekolah, dan golongan manusia primitif yang tak pernah menjalankan syariat Islam? Bukankah nanti akan ada seorang pelacur dan anjing yang akan masuk surga sesuai cerita dalam kitab suci? Pantaskah bagi orang yang merasa beriman namun selalu membuat ulah dimasukan ke Surga? Atau layakkah golongan manusia primitif yang selalu menjaga keseimbangan lingkungan dimasukkan ke Neraka?

Oleh: Muhammad Rosit

Aktivis Forum Studi M@KAR, kini menempuh studi Komunikasi di UI Salemba dan mengajar di UIN Jakarta untuk Ilmu Komunikasi Politik.

Homo Apelicus Erectus

Banyak yang histeris reaksionis bronkitis saat orang ini mati, entah apa yang menjadikannya begitu mempesona sehingga untuk ikut berduka dan kehilangan menjadikannya trendi. Sedangkan jutaan yang lain mati karena kelaparan, perang, ataupun oleh ketidakadilan yang tercipta oleh busuknya sistem, namun terlihat baik-baik saja dan wajar! Ironis. Saat ada yang meregang nyawa karena mogok makan untuk mempertahankan hidupnya, saat kombatan yang mati ditembak polisi karena gak rela tanahnya menjadi tambang, bahkan tetangga yang harus makan dari nasi aking menjadi terlalu "wajar" untuk dibawa ke ruang merakit citra ini. Satu mati jutaan menangis, jutaan mati tak ada yang menangis! Oh society, apple bless you all...

Introduksi pada Posmodernisme: Kisah Sebuah Apel dan Para Pemujanya

(~ dari diary PAM)

“Oh, pakai BB sekarang?”

“Iya. Pakai BB juga?”

“Oh, aku sih pake iPhone.”

Aku yang duduk di tengah-tengah antara kedua perempuan tersebut menggaruk leherku. Tak ada gatal apapun pada leherku, entah mengapa aku hanya kesal pada perempuan di samping kiriku. Perempuan seperti dirinya, yang tak memiliki aktivitas apapun selain kerja administratif di kantor menggunakan iPhone. Mungkin aku kesal karena ia yang mengatakan hal tersebut. Mungkin aku kesal karena sesaat sebelumnya ia membanggakan dirinya yang memiliki kamera tipe SLR merk Canon, sesuatu yang sama sekali tak dibutuhkan oleh dirinya yang tipe pembosan dan bergaya layaknya socialita posmodern urban lainnya. Mungkin aku kesal... entahlah, atau mungkin aku justru kasihan?

Jutaan rupiah dikeluarkan untuk bisa menggenggam iPhone di tangannya. Aku tidak paham untuk apa, saat apa yang ia lakukan tak lebih dari mengirimkan SMS, menelfon atau terkadang mengganti status di Facebook atau Twitter, setelah seharian di tempat kerjanya ia juga berhadap dengan komputer yang berjejaring melalui internet. Dan aku juga tahu benar, suaminya membanting tulang siang malam nyaris tanpa henti, demi mengais rejeki. Suaminya beberapa kali juga mengeluh padaku betapa ia hanya memiliki sedikit waktu untuk anak-anaknya karena ia harus bekerja keras. Dan dengan kenyataan seperti semua itu, perempuan ini masih dapat berbangga diri karena memiliki Canon SLR, iPhone... aku masih tak bisa paham.

***

Bulan Mei lalu, di kamar hotelku di Bayview, aku selalu melakukan sarapan sambil menonton televisi, mempelajari berita-berita dan laporan lokal tentang Hong Kong dan juga Cina lebih luasnya, dalam salah satu upayaku untuk dapat lebih mengenali negeri tersebut—selain berbincang langsung dengan orang-orang di jalanan tentu. Melalui siaran-siaran berita lokal, aku sadar bahwa ada satu dari beberapa berita yang selalu diulang-ulang dan tampaknya menjadi topik terhangat saat itu. Kawasan yang menjadi simbol keajaiban ekonomi Cina: Shenzhen, di mana Foxconn, sebuah pabrik raksasa di mana Apple diproduksi, diguncang tragedi. Dalam kurun waktu enam bulan, 11 kasus bunuh diri hadir bertubi-tubi di kalangan para pekerjanya. Setidaknya, rata-rata tiap bulan ada dua kasus.

Terry Gou, boss utama Foxconn, mengatakan bahwa hal tersebut adalah fenomena sosial yang seharusnya tak dilimpahkan bebannya hanya kepada Foxconn. Ia dengan segera mengadakan konferensi pers yang dihadiri lebih dari 200 media massa utama Cina sebelum segalanya menjadi bertambah buruk. Betapa tidak? Protes mulai hadir di sana-sini dari kalangan serikat pekerja yang mulai merembet ke tingkat internasional. Seruan boikot terhadap Apple bahkan telah mulai muncul walau masih samar pada peluncuran resmi iPad, yang jelas cukup membuat pihak Apple jengah dan menekan Foxconn. Gou, orang ketiga terkaya di Taiwan, hadir dikelilingi para pengawal bersenjata. Ia mengatakan, modernisasi memang mendorong orang untuk memeluk nilai-nilai baru. Mereka yang tak dapat beradaptasi, akan merasa depresi. Bunuh diri adalah fenomena sosial yang tak terelakkan, karenanya tidak layak apabila semua kesalahan ditimpakan pada Foxconn. Begitu ia berujar. Hanya dalam kurun waktu 24 jam setelah ia melakukan konferensi pers di pabriknya, dua orang pekerja lagi menyambut pernyataan Gou tersebut dengan melakukan aksi bunuh diri. Korban bertambah dalam sekejap menjadi 13.

Para sosiolog terkemuka di Cina menyatakan bahwa pabrik Foxconn memperlakukan para pekerjanya di luar batas. Tak memiliki pilihan lain yang mampu memberikan harapan, para pekerja memilih bunuh diri. 13 orang dalam satu tahun di satu tempat yang sama, bukanlah sesuatu yang wajar. Gou menampik, ia telah mempekerjakan 2000 orang tenaga psikiater dan bimbingan, ia juga membangun kolam renang dan arena rekreasi yang didisain khusus bagi para pekerjanya yang berjumlah sekitar 400.000 orang. Semua itu didisain untuk meringankan beban psikologis para pekerjanya. Menanggapi pernyataan tersebut, seperti yang diliput oleh sebuah harian nasional Cina, seorang pekerja berkata, “Bagaimana kami bisa berenang saat kami hanya diberi waktu 30 menit untuk makan siang, itu pun sudah termasuk waktu yang harus kami tempuh dari tempat kerja kami ke kafetaria dan juga waktu untuk mengantri? Saat kami juga harus meninggalkan tempat kerja begitu jam kerja usai dan kami begitu kelelahan?”

*****

“Aku abis 20 juta lebih buat dapetin iMac ini. Begitu nanti kamu datang lagi, di kantorku bakal ada iMac dong, lebih gampang ntar kalo kamu ngasihin file buat dicetak.”

Wajahnya tampak riang. Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Aku hanya tersenyum dan menanggapi pendek, “Lagi bagus ya usahamu?”

Ia masih tersenyum. “Enggak juga sih. Biasa aja. Aku nyicil kok tiap bulannya.”

“Emang komputer lamamu lagi bermasalah? Atau Macbook-mu ngadat?”

Ia masih juga tersenyum. “Enggak. Pengen aja.”

“Saya sih nggak pernah komplain dengan kualitas hasil cetakmu, atau juga cara kerjamu. Selama ini baik-baik aja. Kamu malah yang sering ngeluhin soal pendapatanmu yang nggak seberapa.”

Senyumnya mulai menipis. Ia menggaruk kepalanya yang pasti tidak gatal. “Iya sih.”

“Jadi ngapain kamu musti keluar duit begitu banyak, musti nyicil tiap bulan dari pendapatanmu yang katamu nggak seberapa, buat bisa majang iMac di kantormu?”

Sungguh. Aku tidak berniat kasar padanya. Aku hanya lelah setelah nyaris dalam dua bulan terakhir ini, Jackie, terus menerus membahas betapa ia membutuhkan iMac dengan layar lebar. Aku hanya lelah, karena ia tak pernah membahas padaku mengapa ia membutuhkannya, saat semua hasil kerjanya selama ini baik dan akurat. Aku hanya lelah, karena ia selalu mengeluh betapa pendapatannya tiap bulan tak seberapa. Saat aku melihat senyumnya memudar, entah dari mana asalnya, sebersit perasaan bersalah merambati hatiku.

“Maap, maap. Nggak niat gimana juga. Toh saya juga pakai iMac buat nyelesein kerjaan ini,” ujarku, berusaha membuatnya kembali riang dengan cara membandingkan kesamaannya dengan diriku. Tak ada poin apapun untuk membuatnya murung.

Mungkin malaikat menutup tirai bagiku saat itu. Aku terlalu lancang berkata-kata untuk orang yang setiap harinya dilalui dengan rutinitas yang membosankan, yang dalam hidupnya, barang baru adalah satu-satunya pengharapan dan pencerahan. Aku salah. Tapi tampaknya aku memang terlambat menyadari. Di hadapanku, Jackie terdiam dan menunduk. Senyum telah lenyap sama sekali dari wajahnya. Ia bergumam pelan.

“Nggak apa-apa. Iya juga sih, benernya ngapain ya aku keluar duit banyak gitu cuman karna yang itu merk-nya Mac.”

Tetap saja aku merasa bersalah. Macbook di pangkuankupun kubuka perlahan dan kunyalakan dalam suasana hati yang tak nyaman.

*****

Bulan Mei lalu pula, seorang teknisi Silicon Valley, Gizmodo, diserang oleh pihak Apple karena mempublikasikan melalui blognya deskripsi mengenai iPhone generasi ke-4, setelah ia menemukan perangkat tersebut di sebuah taman dalam sebuah pesta bir. Gizmodo mengembalikan iPhone tersebut pada pihak Apple, tapi pihak Apple tampaknya masih tak puas. Mereka masih mencari-cari cara untuk terus melancarkan perang. Empat hari kemudian, polisi menggerebek kediaman seorang reporter yang menanggapi tulisan Gizmodo, mempublikasikan melalui medianya dan membuat seluruh penggila gadget negeri tersebut beradu argumen teknis seputar iPhone tersebut.

Kasus Gizmodo, bukanlah satu-satunya skandal dan perang yang dilancarkan oleh Apple. Apple secara terbuka menyatakan permusuhannya dengan Google, Apple menuntut HTC, perusahaan Taiwan pemroduksi ponsel, menuduh HTC menggunakan pola produksi yang telah dimiliki hak patennya oleh Apple. Apple juga belum lama memecat salah satu teknisinya karena ia sekedar memperlihatkan iPad 3G pada Steve Wozniak, sang pendiri Apple sendiri. Dan perang terburuk terjadi dengan Adobe. Apple menolak program Adobe Flash diaplikasikan pada iPhone dan iPad, padahal Adobe Flash nyaris digunakan oleh mayoritas video di internet. Entah apa yang akan dikeluhkan pada pengguna iPhone dan iPad nanti dengan adanya sikap demikian. Tapi mungkin saja malah tak ada keluhan apa-apa. Mungkin saja. Mengapa tidak? Banyak orang yang kulihat dan kutemui di sekitar hidupku, menggunakan Apple, bukan karena fasilitas, kemampuan atau apapun yang ditawarkan oleh Apple, melainkan karena Apple adalah hip tersendiri.

*****

Tahun pertama aku bekerja di Jakarta ini, sang manager di tempatku bekerja adalah juga seorang penggila Apple. Setidaknya, ia sering membanding-bandingkan antara Apple dan PC, yang tentu saja dengan dibumbui kalimat-kalimat seperti, “Memang Apple ini keren ya?”. Boss kami berdua, yang dulu sering menghabiskan waktu bersama sang manager untuk berbagai urusan, juga membeli Macbook. Aku menebak, bahwa ia pasti membelinya lebih karena terpengaruh oleh puja-puji sang manager atas Apple. Aku sadar beberapa bulan setelahnya, bahwa boss-ku tersebut tidak terlalu paham mengenai hal-hal seputar gadget. Ia hanya butuh laptop untuk mengetik, menyusun jadwal, membaca dan mengirim e-mail dalam frekwensi yang intens. Tak lebih. Hal-hal yang kini mungkin ia sadar, sehingga ia memang menggantungkan dirinya pada Blackberry—karena semua yang ia butuhkan telah terpenuhi oleh gadget tersebut.

Tapi ada hal baik yang muncul dari dari kasus sang boss dan Apple: Macbook yang tak pernah ia sentuh itu ia serahkan padaku, untuk kubawa dan kugunakan manakala aku membutuhkannya. Sang boss juga menyerahkan iPod—yang tentu ia beli dulu akibat terpengaruh promosi sang manager—untuk kugunakan. Maka jadilah aku kini, hanya perlu tambahan iPhone atau iPad, lengkap tampil seperti seorang penggila Apple. Sayangnya, bagiku membawa-bawa laptop kemana aku pergi, adalah hal yang merepotkan. Aku juga lebih memilih menikmati suara-suara yang dihasilkan oleh suasana sekelilingku, baik itu di taman yang rindang, mall, kafe ataupun di tengah bisingnya Metromini, dibandingkan mendengarkan musik dari mp3 melalui earphone—aku hanya memasang mp3 kala aku di rumahku, kamar kost atau kala aku sedang bekerja. Satu-satunya hal yang kusukai dari menggunakan Apple adalah bahwa virus atau worm tidak mampu menggerogotinya—dan aku terlalu malas untuk mulai belajar menggunakan Linux.

Jackie pernah berkata padaku, bagaimana apabila kita menggunakan iMac, maka aktivitas berselancar di internet juga terbantu dengan maksimal. Aku bertanya padanya, apakah ia menggunakan Indosat 3GP yang seringkali kecepatannya turun, sebagai sumber koneksi internetnya? Ia hanya memberiku cengiran dan menggeleng. Secara tak langsung, ia menyatakan bahwa hal tersebut hanya berlaku apabila koneksi internet kita juga baik. Aku hanya bisa menghela nafas.

Di sekitarku, mayoritas para penggunanya, merasa dirinya rendah dan bukan siapa-siapa. Saat mereka menenteng produk tertentu dengan logo buah apel melekat di permukaannya, mereka merasa telah menjadi seseorang. Menyedihkan memang. Tapi rasanya tidak adil juga apabila aku lantas mempersalahkan atau menyudutkan mereka, setelah hidup mereka tak memberi arti apapun dan memiliki logo apel adalah salah satu penyelamatan mereka walau hanya sementara. Aku tidak lagi kesal pada mereka. Aku hanya merasa sedih...

Aku jadi teringat saat isteriku pernah berkata tentang sebuah status di Twitter yang menurutnya menarik. Status tersebut tertulis: “I like the time better when apple and blackberry were merely fruits.”

Mengapa fasisme telah menubuh sedemikian rupa dalam teknologi?

Dapatkah teknologi menghapus fasisme dalam tubuhnya sendiri? Kenapa semakin laku dibeli dan diminati, teknologi apa pun semakin fasis? Kenapa pula teknologi tidak netral? Di tangan siapakah teknologi akan netral? Apa di tangan balita dan anak TK? :)

Oleh Acha Ramadina Putri
Aktivis Forum Studi M@KAR yang juara Bassis di Kampus. Kini menetap di Jalan Pajajaran, Bogor.

Modus Kekerasan

Suara jangkrik terlibat dalam perbincangan malam itu. Cahaya bulan meremang menembus kaca jendela kontrakan. Hembusan angin malam mengelus tubuh kami, menambah mesra untuk saling bercerita. Kukira, sayup-sayup samar suara kami terdengar tetangga, kadang berbumbu gelak canda-tawa. Kami berkumpul seperti biasa, menceritakan pengalaman masing-masing.

Semuanya berawal dari keinginan temanku untuk menguasai ilmu kanuragan membuatnya harus berguru pada perguruan silat terlebih dahulu, sebut saja ilmu seni bela diri. Tepatnya, perguruan silat beraliran putih berdasarkan tirakat batin. Beragam rintangan, pantangan dan ujian harus dilewati dengan kesabaran dan penuh ikhlas.

 Di luar dugaan, ia bercerita hampir dua jam sendiri. Telak, bagi yang menyukai kisahnya mendengarkan penuh hikmat. Tetapi bagi yang tidak, mereka terhempas dalam rayuan tubuh yang juga butuh istirahat.

Di tengah-tengah redupan mata melihat, ia spontan memeragakan kemampuan menggerakkan benda-benda di sekitar. Tiba-tiba saja, tanpa disentuh, teko’ berisi air terangkat dan menuangkan isinya ke cangkir. Dan, cangkir itu bergerak perlahan seolah memperkenankanku untuk minum. Kami, benar-benar terkejut.

“Aku bersyukur kalau ada kebaikan datang tanpa harus menggoda atau tergoda perempuan,” tegasnya sembari menjelaskan kalau menggoda ataupun tergoda perempuan merupakan pantangan pokok baginya.

Bukan ilustrasi itu yang hendak kupaparkan di sini. Ia hanya dijadikan contoh untuk melihat bagaimana pengalaman mempelajari seni ilmu bela diri, tidak harus dengan kekerasan.

***

Ikhwal perilaku kekerasan yang terjadi belakangan ini, boleh jadi melahirkan pertanyaan berantai dalam pikiran kita. Adakah hubungannya antara kekerasan dengan mempertahankan diri, agresifitas atau kekerasan sebagai modus pengamanan terhadap kelangsungan hidup? Apakah pengalaman teman di atas bisa dikategorikan sebagai cara mempertahankan diri dengan cara yang berbeda untuk menjaga kelangsungan diri? Lantas, kenapa bela diri dan apa hubunganya dengan kekerasan?

Tindak kekerasan yang tampil secara langsung maupun tidak, setidaknya telah membuka mata kita, apa yang sebenarnya terjadi? apa penyebabnya? Ruwet memang. Namun bukan berarti berhenti dan hanya membuka mata, tanpa bertindak apa-apa. Tulisan ini akan berupaya membongkar, kekerasan sebagai modus eksistensi manusia yang tampil menunjukkan dirinya pada yang lain. Kalau dicari dan ditarik akarnya, semoga bisa mengidentifikasi potensi dan penanggulangannya. Apakah bisa? Mudah-mudahan.

Kekerasan Menyentuh Siapa Saja dan di Mana Saja

Tindak kekerasan bisa menyerang siapa saja, hadir di manapun. Tak terkecuali yang dianggap paling aman sekalipun. Bahkan, dalam kegembiraan dan kesenangan, kekerasan biasa dan senantiasa hadir. Individu maupun kelompok, dalam segala kegiatannya, terbuka untuk kekerasan.

Laki, perempuan, anak atau orang dewasa, tokoh atau orang biasa, sama saja. Ketika kekerasan terjadi, ada subjek dan ada objek yang dikenakan kekerasan. Lantas, bagaimana memahaminya? Apa yang menjadi sasarannya? Melalui pendekatan psikologi, dapat dimengerti bahwa kekerasan bisa timbul dari dalam diri manusia, atau bisa saja berada di luar, menyentuh kita. Menyentuh luar dalam kita.

Kekerasan berakar pada dorongan agresif, yang sadar atau tidak sadar, tersimpan dalam diri kita sebagai manusia yang harus bertahan hidup dalam lingkungan yang sepenuhnya tidak mungkin bebas dari ancaman. Demikian Fuad Hassan menjelaskan: Bagi manusia, kesungguhan bertahan hidup merupakan awal perkembangannya untuk mendewasakan diri. Mempertahankan (survival) adalah prasyarat yang mendahului eksistensi manusiawi.

Perjuangan mempertahankan diri dalam pengertian teori evolusi, bukan sekadar berlangsung untuk bertahan hidup. Perjuangan manusia, tidak sepenuhnya terjerat pada kondisi alamiah dan tuntutan biologis semata, namun juga berlaku bagi tiap mahluk hidup lain.

Dalam keterjeratan, reaksi yang terjadi masih sangat berpola sederhana, terhadap kenyataan di sekitar yang umumnya berupa mendekati atau menghindari. Kedua pola reaksi tersebut, bisa berupa pengalaman senang atau sakit (pleasure or pain). Tentu dengan tingkat intensitas yang beragam.

Kenyataan yang terjadi, bisa dilihat sebagai bentuk mengancam dan terhadap sesuatu ancaman reaksi mahluk hidup berupa berkelahi atau melarikan diri; keduanya terjadi untuk bertahan hidup. Berkelahi, dianggap sebagai sumber ancaman, dapat ditumpas dan dilumpuhkan dengan melarikan diri, maka ancaman berupa tindak kekerasan dapat dihindari.

Yang membedakan antara manusia dengan makhluk hidup lain adalah karena ia tidak selamanya berada dalam jeratan kenyataan dan ketidaknyataan seperti ingatan-ingatan atau khayalan. Dalam perkembangan menuju penyempurnaan, manusia melampaui tahapan kehidupan yang serba naluri. Dan nurani mengarahkan manusia pada pelestarikan keberlangsungan hidup. Ini sejalan dengan kesanggupan untuk memerdekakan diri dari ikatan-ikatan.

Kemampuan mentransendenkan diri manusia sebagai bentuk pengendalian dorongan agresif adalah penjelmaan nalurinya untuk meyalurkan agresifitasnya lewat beragam cara serta dalam batas-batas yang masih ditolerir oleh citarasa masyarakat.

Naluri terejawantah dalam perilaku agresif tidak begitu saja dapat dihilangkan, namun bisa dikendalikan. Oleh karena itu, perilaku agresif tidak bisa ditindas sepenuhnya. Manusia tidak saja tumbuh secara fisiologis, tapi juga berkembang di tingkat kejiwaan. Yang diamati, tidak hanya pertumbuhan fisiologisnya saja, melainkan juga perkembangan yang terjadi pada jiwa.

Perkembangan jiwa akan mendukung manusia dalam kesiapannya menjadi pribadi yang khas dan unik. Untuk menjadi dewasa, manusia mengaktualisikan dirinya sebagai pribadi di masyarakat, berwujud ikhtiar untuk tetap maju dan bertahan sebagai pribadi dengan identitasnya sendiri. Ciri pribadi dewasa, adalah kesungguhannya untuk senantiasa berkembang mekar hingga sanggup menunjukkan isyarat kemandiriannya.

Dorongan agresif menjelma menjadi tindakan kekerasan, tetapi tidak semua penjelmaan dorongan agresif tampil sebagai tindakan berciri kekerasan. Berbeda dengan penjelmaan naluri hewani, manusia dewasa sanggup meyalurkan dorongan nalurinya melalui perilaku dan tindakan di masyarakat. Bahkan lebih dari itu, kehadiran naluri diupayakan tersalur melalui perilaku dan tindakan yang bagi diriya sendiri dapat diterima. Dalam menyalurkan nalurinya, manusia dibatasi oleh rambu-rambu.

Rambu-rambu tersebut bisa berupa hubungan antara manusia dengan kenyataan eksternalnya, maupun manusia dengan keberadaan diri dengan kenyataan internalnya seperti nurani sebagai suara batin diri sendiri.

***

Manusia yang dilanda kehampaan spiritual, sungguh memprihatinkan. Kemajuan positivisme ilmu pengetahuan dan teknologi sejak abad Pencerahan di Eropa, belum sanggup memenuhi kebutuhan fundamental manusia dalam aspek nilai transendental, suatu kebutuhan vital yang hanya bisa didapat dan bersumber dari nilai-nilai mutlak yang harus diamalkan.

Sedangkan, apa yang bisa diperoleh manusia tanpa mentransendenkan dirinya? Hanya berupa jurang-jurang dan batas-batas nisbi. Mungkin, salah satu penyebab kedangkalan manusia mentransendenkan dirinya adalah ilmu pengetahuan yang kehilangan visi sesungguhnya, yakni visi memanusiakan manusia. Jelas, caranya bukan dengan jalan agresi kekerasan, menegasikan yang lain, penjajahan atau sejenisnya.

Perhatian yang utama baik terhadap lingkungan maupun diri sendiri dalam relasinya membuka jalan bagi kelangsungan kehidupan bersama. Manusia sebagai mahluk pembawa obor pengetahuan, namun justru tampak sebagai pencipta kerusakan.

Jaman yang dianggap maju, modern dan menghargai peradaban justru tampil sebagai sangkar besi terhadap indahnya kehidupan yang rukun dan damai. Kesadaran pribadi; bahwa pentingnya keterbukaan dan pengendalian diri merupakan cara menjaga keharmonisan kehidupan. Keberlangsungan kehidupan, tergantung bagaimana manusianya. Memang, banyak faktor yang menyebabkan tindakan kekerasan hadir dalam kehidupan, tapi banyak juga cara menyelesaikan persoalan tersebut.

Dominasi kekerasan yang kerap dialami manusia menyebabkan hilangnya kepekaan terhadap kekerasan. Sungguh mencemaskan sekaligus menggemaskan, ketika media massa, baik cetak maupun elektronik mempertontonkan adegan kekerasan. Social learning terjadi. Bagaimana dampak psikologi penonton yang belum cukup siap baik mental maupun usia? Seperti anak-anak, apakah harus didampingi terus menerus ketika asyik menonton TV?

Dengan dalih kebebasan pers bisa dijadikan legitimasi untuk mengulang-ulang bahasa kekerasan. Tentu media massa juga dilihat sebagai industri yang juga harus menghidupi pekerja-pekerjanya. Sebagaimana industri pada umumnya, juga dilihat mencari keuntungan dan kehormatan sebesar-besarnya; hingga mungkin lupa bahwa telah melakukan eksploitasi publik dengan bahasa kekerasan yang lain. Maaf kalau penulis keliru menilai (salah membongkar).

Lantas, bagaimana cara praktis untuk mengidentifikasi kekerasan, kemudian memperkirakan potensi-potensi yang diakibatkannya. Kepentingan dunia bukanlah kepentingan individu atau kelompok tertentu saja. Individu dalam kepentingan ruang publik yang kita alami sebagai warga dan yang hanya bisa diperoleh dengan berbuat melebihi kepentingan kita.

Sebagai warga, kita memiliki ruang publik, tetapi, kepentingan adalah milik ruang publik, milik ruang yang kita huni bersama “tanpa memilikinya,” milik ruang yang melebihi batasan jangka hidup dan tujuan pribadi kita yang terbatas.

Hannah Arendt mengilustrasikan kepentingan publik, ia melihat kegiatan manusia sebagai warga sebagai juri. Sebagai juri, kita berpegang pada kepentingan kebenaran permainan serta kejujuran publik. Itu bukanlah kepentingan pribadi kita, maupun kepentingan pribadi yang merasa tercerahkan, melainkan kepentingan komunitas politik yang mengatur beragam persoalan dengan dasar aturan dan prosedur konstitusional.

Kepentingan publik berwujud berupa konstitusi untuk mengatasi kepentingan pribadi kita sebagai individu. Secara etis, kejujuran dan imparsialitas adalah tuntutan warga harus ditegakkan.

Kembali untuk Kembali

TIDAK BIASA, ada juga kekhawatiran tidak bisa-tapi memang perlu mencoba. Begitulah pengalaman temanku ketika mempelajari ilmu bela diri. Sepuluh tahun melawan hasrat membunuh apapun, mengendalikan diri dan tidak makan dalam tiga hari hanya untuk mengukuhkan kesaktiannya. Makan saja tidak, apalagi merokok atau ngopi yang manjadi kegemarannya. Tampak menyedihkan rasanya.

Namun alhasil, sekarang ia sanggup menguasai apa yang menjadi mimpinya dulu. Kini bukan lagi angan, tapi pertanyaan-pertanyaan telah terjawab. Prasangka tidak sanggup atau cemas pada kegagalan, terbukti dikalahkan oleh kekuatan tekad.

Bukankah, menjaga diri berarti menjaga kehidupan? Spirit pembebasan, bukan untuk meniadakan yang lain, dimulai dengan melawan kuasa diri yang meracuni diri lain dan kehidupan. Walau tindakan yang dilakukan sekadar berupa amalan, menyebut kata-kata Agung nan Suci, sekadar kata, bukan Wujud sebenarnya, kini mengisi dada.

Namun merasakan dampaknya seakan hadir sebagai pusaka. Kata temanku, “kata-kata telah mengendalikan kita.” Bersemayam menguasai diri. Seni ilmu bela diri hanya upaya membela diri untuk melawan diri. Benda pusaka yang dulu menjadi bagian dari mimpi, kini menjadi miliknya di hati sahaja. Tidak untuk melawan mahluk hidup lain. Bahkan nyamuk, semut, kecoa sekalipun, pantang dilenyapkan.

Sesuatu yang besar, harus dari yang kecil-kecil. Mulanya, kita hanya membayangkan betapa hebatnya kakak bisa membaca, kemudian kita belajar melafal huruf demi huruf, kata demi kata, kata dirangkai menjadi kalimat, kalimat dirangkai menjadi paragraf, antarparagraf disatupadukan berupa pengertian khusus. Hingga membawa pesan dan makna. Sampai-sampai kita bisa membaca dan menggoreskan arti dan makna, berupa makna kehidupan, melalui lembaran kitab kenyataan.

Anak, Masa Depan Kita

Jika anak lahir tanpa membawa apapun, tentunya hal tersebut tidak terlalu tepat. Anak lahir membawa emosi-emosi dasar yang ia miliki.

Saat bayi, anak sudah memiliki rasa senang, misalnya ia tertawa saat orang di sekitar menggodanya. Bayi juga sudah memiliki rasa sedih, marah, kesal. Saat ada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman, seperti saat ia lapar, haus, popoknya basah, dan sebagainya.

Hal tersebut tentu adalah emosi yang dimiliki sejak lahir (given). Namun, apakah saat sang bayi tumbuh menjadi anak kecil kemudian ia hanya memiliki emosi-emosi itu saja?

Tentu tidak, sebagai orang dewasa yang berada di sekitar anak kecil, secara tidak langsung mempunyai tanggung jawab membantu mereka menemukan emosi-emosi positif, sehingga emosi anak perlu terus dikembangkan dalam kehidupannya.

Apakah anak bisa berkata "maaf aku salah" atau "terima kasih ya, sudah membantu," dengan sendirinya?

Tentu tidak, mereka akan meniru orang dewasa di sekitarnya. Hal tersebutlah yang terlewat dari pendidikan kita.

Saat kita sebagai murid, kita kurang mendapat kepekaan sisi-sisi kemanusiaan sebagai manusia. Kita menjadi murid pasif, tidak bisa bertindak apapun. Semua dominasi guru. Perkembangan sosialisasi jadi  terhambat. Di sekolah tidak menemukan ruang pemaknaan, pendidikan jadi terasa hampa. Semua senantiasa hal-hal kaku, monoton. Hadir ke sekolah, duduk, diam, catat, main, pulang.



Bebaskan Anak Bermain

Saat bermain, anak justru belajar banyak. Perhatikan saat mereka bermain. Sesekali ada benturan antarmereka. Misalnya rebutan mainan, tidak mau bergantian, berkata kasar. Hal-hal tersebut akan menjadi pembelajaran bermakna bagi anak saat orang dewasa sekitarnya mampu membimbing mereka memecahkan masalah. Kita perlu ingat, membimbing bukan membantu. Membimbing adalah sebuah cara dimana orang dewasa hanya berperan sebagai fasilitator yang mencoba memahami masalah anak.

Bagaimana kita bisa pahami masalah anak? Tentunya dengan mengajukan pertanyaan. Bukan dengan memberikan pernyataan. Misalnya, anak rebutan mainan. Orang dewasa acapkali melihat masalah dari sudut pandang mereka sendiri. Kemudian memberikan penyataan "heh udah jangan rebutan, kamu salah. Jangan narik mainan dia," padahal orang dewasa sendiri belum tahu alasan apa yang membuat mereka rebutan mainan? Alangkah bijaknya bila kita memulai dengan bertanya, "ada apa ini? Atau apa yang terjadi? Bagaimana agar bermainnya bisa menyenangkan?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan contoh sangat sederhana untuk membimbing anak berpikir mandiri saat menemukan masalah dan jalan keluar.

Jika diingat, apakah pernah kita mendapatkan pengalaman seperti itu di sekolah?
Hmmm… Rasanya tidak. 

Manusia makhluk sosial yang mendayagunakan komunikasi dalam keseharian. Sebagai mahluk sosial, umumnya manusia berkomunikasi, baik verbal maupun non verbal. Di sekolah, anak jarang atau bahkan sama sekali tidak dibimbing untuk bisa berkomunikasi dengan baik. Apakah dengan menggunakan intonasi yang tepat, pemilihan kata, misalnya.

Menurut Vigotsky, menjadikan anak berpikir mandiri adalah tujuan belajar. Dan penggunaan bahasa adalah kunci utamanya. Dalam hal ini anak-anak harus didorong menggunakan bahasa dalam mengekspresikan perasaannya. Misalnya, saat Jarwo kesal dengan Abi (hehe… ini nama teman-teman diskusi, teman cela-celaan). Karena Abi terus meledeknya kurus, item, hidup lagi. Nah, Jarwo langsung memukul Abi. Tentunya jika Abi dan Jarwo sudah dewasa hal tersebut tidak tepat dilakukan. Namun, bagaimana jika Abi dan Jarwo masih anak-anak? Misalnya kelas 1 SD. Bagaimana?

Dalam situasi seperti ini, Jarwo memilih memukul Abi karena Jarwo berpikir hanya itulah cara yang tepat menyelesaikan masalah. Ini asal muasalnya tindak kekerasan, dan orang dewasa sekitarnya tidak membimbingnya. Malah bilang "Abi, pukul balik kalau dipukul" atau Jarwo yang dimarah-marahin karena mukul Abi.

Bimbing Anak Selesaikan Masalah

Anak perlu bimbingan dan perhatian besar dalam hal semacam ini. Kita bisa mulai dengan membawa Abi dan Jarwo duduk bersama. Kemudian, bungkukan badan kita sesuai tinggi badan anak-anak.  Bisa jongkok. Mata kita harus menatap mata mereka.

Kemudian mulai dengan pertanyaan "apa yg terjadi?"
Berikan aturan agar bicara bergantian. Biasanya masing-masing akan membela diri dan berebut bicara.
Pertanyaan berikutnya, "Jarwo mengapa memukul?"
Asumsinya Jarwo akan bilang , "abisnya aku dibilang kurus, item, jelek, hidup lagi."
Kemudian kita balik bertanya pada Abi, "Abi, bener kamu bilang gitu? Kenapa?"
Lalu Abi mungkin akan bilang , "aku iseng aja Bu, pengen ledekin Jarwo."
Kita bisa tanya lagi, "apa perasaan Abi, saat ada orang meledek kamu, Abi?"
Umumnya, anak akan menjawab "sedih/kesel."  
Saat ini kita membimbing Abi berempati pada Jarwo, "Itulah perasaan Jarwo, saat kamu meledeknya."
Namun apa yang salah di sini?
Jarwo memilih cara menghadapinya dengan kekerasan, dia memukul. Kita coba memahami perasaan Jarwo, "Jarwo kamu kesel ya? Sedih ya? Dibilang item, kurus, hidup lagi? Adakah cara lain yang bisa kamu pilih selain memukul Abi? Kamu bisa bilang apa sama Abi biar dia nggak meledek kamu terus?" Nah, pada proses ini kita membimbing Jarwo untuk menggunakan lisannya dalam mengungkapkan perasaanya, "aku nggak suka diledekin. Hentikan, jangan lakukan itu."

Dengan cara ini anak dibimbing memecahkan masalah tidak dengan kekerasan, melainkan dengan ucapan terlebih dahulu. Setelah Jarwo dan Abi mengungkapkan pikiran dan perasaanya, kita bisa tahu motivasi apa sehingga mereka melakukan itu. Untuk menutup proses ini kita bisa bertanya kepada keduanya, "Jarwo, Abi apa yang bisa kalian lakukan agar menjadi teman kembali dan dapat bermain bersama?" Kita fasilitasi mereka agar saling bermaafan. Bukan dengan berkata, "udah, ayo saling maafan. Salaman."

Dalam buku cerita untuk anak-anak, berjudul "STOP. Jangan Ganggu Aku," diceritakan tahapan mengatasi masalah jika ada orang lain menggangu kita. Anak-anak butuh bimbingan menerapkan hal tersebut. Jika sesuatu membuatmu terganggu, hal pertama yang dilakukan, hiraukan, setelah masih menggangu juga, kita bisa bilang, "aku nggak mau diganggu, STOP jangan ganggu aku!" Jika tetap diganggu juga, saat inilah mereka butuh orang dewasa di sekitarnya. Namun, cara memberitahu pada guru/orang tua belum tentu selesaikan masalah. Hal ini perlu dilakukan karena kerjadian ini sering sekali. Anak jadi pengadu sebelum mereka coba untuk mengatasi masalah tersebut.

Dengan cara-cara terbaik, kita menginginkan anak kita jadi yang terbaik. Anak adalah masa depan kita. Bantu mereka temukan diri mereka melalui belajar cara berkomunikasi yang baik dan tepat. Bimbing mereka memilih cara-cara dialogis memecahkan masalahnya. Jika sejak dini membiasakannya mengungkapkan perasaan, pikiran dengan cara yang baik, tentu esok, mungkin di kemudian hari, 20 tahun lagi, saat mereka sebagai mahasiswa, kalau demonstrasi ya nggak rusak-rusakan, nggak mukul-mukul, nggak berkata kasar.

Mudah-mudahan kekerasan bisa berangsur berkurang saat semua orang dewasa berpikir untuk terlibat sebagai orang yang bertanggung jawab membimbing anak-anak dalam memecahkan masalahnya melalui proses komunikasi.

Hayooo… Sebelum punya anak, cari tahu dulu gimana cara membimbingnya.. Karena anak, amanah Allah yang paling indah.. ^.^

Oleh: Isma Bonita Sari
Aktivis Forum Studi M@KAR, kini mengajar di Sekolah Dasar Gemala Ananda, Fatmawati Jakarta Selatan.