"politics without principle, wealth without work, pleasure without conscience, knowledge without character, commerce without morality, science without humanity, worship without sacrifice." (Seven Social Sins, Mahatma Gandhi - 1925).
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 November 2011

Nasionalisme Kini

Dalam memerjuangkan negara republik Indonesia, kita dihadirkan pada kesadaran pentingnya arti pengorbanan. Nasionalisme yang selama ini dibunyikan dalam kehidupan, bernada Soekarnoisme. Nasionalisme bukan kebencian  pada bangsa lain (xenophobia). 




Namun adakah wajah baru nasionalisme yang menunjukkan dirinya sebagai cara mencintai bangsa dan negaranya sebagai bentuk elan perjuangan mencapai kesejahteraan, adil dan beradab? 

Banyak nian jawaban yang bisa diberikan untuk menambah keterangan mengenai hal tersebut. Namun adakah jawaban itu memungkinkan kita bisa melihat kenyataan saat ini yang penuh keterbukaan pada kemelaratan dan ketimpangan, khususnya dalam lapangan ekonomi?

Berdasarkan pandangan itulah, maka perlu kiranya mengupas persoalan nasionalisme yang tengah terjadi saat ini. Setidaknya setelah reformasi yang di dalamnya terdapat pemahaman baru mengenai arti mencintai bangsa dan negara. Bagian ini akan mengulas pokok persoalan dalam kerangka bernasionalisme yang mengalami krisis.

Nasionalisme Dulu
Antagonisme politik menentang adanya penjajahan dan penindasan oleh bangsa lain, diwujudkan dalam suatu tekad bersama, merdeka. Kemerdekaan yang memekik keras mengilhami semangat antikolonialisme dan imperialisme. Kesadaran bahwa dengan kebodohan tiada mungkin bisa melawan suatu bangsa penjajah yang lebih maju. Manakala tiba waktunya berdirilah lembaga pendidikan oleh kaum pribumi untuk melawan kebodohan. Melawan kebodohan bisa diartikan sebagai cara menentang penjajahan. Misal Trikoro Dharmo, Budi Utomo, Taman Siswa dan sebagainya itu merupakan alat untuk mendidik rakyat agar mengerti ilmu pengetahuan dan sadar bahwa ada cita-cita yang harus diperjuangkan.[1]
 
Namun tidak hanya itu, ada kekuatan yang sebelumnya memiliki pengaruh yang cukup kuat dan berakar pada alam kehidupan rakyat. Suatu jenis ilmu pengetahuan agama yang ditanam dalam hati sanubari umat islam di berbagai pelosok baik Sumatera, Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Pendidikan agamalah yang menolong rakyat pribumi hingga terbuka lah mata pada masa depan dirinya sebagai manusia yang tengah dijajah. 

Bagaimanakah cara pendidikan menyadarkan rakyat bahwa dirinya tengah dijajah? Pendidikan merupakan sarana tidak langsung dalam menegaskan bahwa ada kedaulatan yang dirampas. Ada yang dimiliki namun dihilangkan karena kepentingan pada keserakahan untuk menguasai kekayaan alam dan sumber daya kemanusiaan. 

Benedict Anderson dalam penelitiannya Revolusi Pemuda,[2] menjelaskan bahwa masuknya jepang ke indonesia dibantu karena adanya lembaga pendidikan, pesantren. Di Jepang, model pendidikan semacam ini bernama Dojo. Sehingga artikulasi perlawanan terhadap penjajahan bisa memungkinkan adanya kerjasama antara Jepang dan pribumi santri. Bukan berarti kaum santri bekerjasama dengan jepang untuk menjajah bangsa sendiri, melainkan untuk mengembangkan kekuatan militansi melawan Belanda. Setelah militansi terbentuk karena pendidikan ketentaraan oleh jepang, maka kekuatan itu digunakan untuk mengusir Jepang.

Setidaknya inilah sebagian yang sangat kecil pembacaan tentang semangat melawan penjajahan. Nasionalisme berbentuk ekspresi perlawanan terhadap kedzaliman menentang pembodohan dan penindasan oleh bangsa lain. Meski demikian, ada kerjasama penjajah dengan pihak pribumi sendiri untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang sesaat hingga pada akhirnya, hubungan antarpribumi yang dijajah terjadi perpecahan.

Perpecahan antarpribumi karena diadu domba melalui politik devide et impera, memecah dan kuasai digunakan untuk memperlemah kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Perasaan keterjajahan sedemikian kuat itulah yang menyebabkan terbuka lebar mata dan hati untuk tidak mau terus-menerus dalam kurungan kolonial. Mendidik sebagai cara yang tepat untuk mempercepat kesadaran tersebut. 

28 Oktober 1928 sebagai titik tolak kesadaran berbangsa dan bernegara. Kristalisasi kesempatan para pemuda untuk menegaskan identitasnya sebagai bangsa yang bersatu dan merdeka. Menegaskan haknya sebagai bagian dari kebudayaan yang beragam. Dari sabang sampai merauke, terbuka jalan menyatukan keragaman itu menjadi, berbangsa satu, tertanah air satu, berbahasa satu sebagai ciri kesadaran nasional dan perkembangan lebih lanjut nasionalisme. 

Sebagai ciri lanjutan tentang pandangan kebangsaan masa Soekarno. Masa ini adalah jaman di mana paham kebangsaan atau nasionalisme digunakan sebagai alat utama melawan kolonialisme dan imperialisme, khususnya Inggris dan Amerika. Belanda telah angkat kaki dari tanah air Indonesia meninggalkan sekutu yang kelak menjadi musuh utama negara yang baru merdeka ini. Malaysia dikendalikan Inggris, sehingga Soekarno menyebutnya negara boneka tanpa konsepsi. Singapura pun demikian, dibuat inggris sebagai lalu lintas perdagangan dalam rangka menguntungkan bagi bangsa Inggris dan sekutu. 

Begitupun usaha Soekarno menggaungkan Irian Barat sebagai bagian dari Indonesia, menunjukan sikap penyatukan keragaman budaya. Irian Barat diperhitungkan oleh Soekarno, semata untuk menjauhkan pengalaman seperti yang terjadi di Australia, di mana suku Aborogin mendapat perlakuan sangat diskriminatif oleh bangsa koloni yaitu Inggris raya. Padahal Inggris datang ke Australia hanya sebagai tempat pembuangan para kriminal kelas kakap di Inggris, namun kemudian, bangsa asli Aborigin dilenyapkan begitu saja.

Pengalaman semacam ini perlu dihindarkan. Irian Barat, tanah Papua tidak menjadi ajang penjajahan baru oleh bangsa kulit putih. Soekarno menyatukan pandangan berbangsa, jauh melampaui jaman. Nasionalisme sebagai paham menolak penindasan atas ras, suku dan setimen etnisitas. Sebuah bangsa bisa dibangun asalkan punya kesadaran untuk maju dan merdeka. Kemerdekaan dan kedaulatan adalah syarat utama untuk maju.

Satu masa telah berlalu, di mana penjajahan secara langsung sudah disingkirkan. L’ exploitation d’ homme par homme, l’ exlpoitation nation par nation, tidak dibenarkan sampai kapan pun. Jalan revolusi adalah cara terbaik melawan penjajah berkuasa selama-lamanya. Tidak ada alasan bagi suatu negeri menjajah negeri lain. Merampas dan menindas negeri lain. 

Kemerdekaan republik indonesia 17 Agustus 1945 menjadi momentum perubahan di banyak sudut, terutama dalam hati bisa berkata bahwa perjuangan yang selama ini diperjuangkan bisa berhasil. Proklamasi kemerdekaan sebagai jembatan emas mencapai cita-cita luhur bangsa Indonesia. Harapan yang terkandung dalam pembukaan UUD 45 adalah pokok perjuangan selanjutnya.

Nasionalisme Kini
Umumnya, nasionalisme dimengerti sebagai paham politik untuk menyatukan dan menyadarkan rakyat tentang hakikat berbangsa. Satu nasib, satu jiwa satu tanah air sepenanggungan dijalani dengan lapang hati. Penuh gelora perjuangan, itulah yang ditanamkan bapak pendiri negeri ini. Rela mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam hidup, di sanalah arti pengorbanan dalam perjuangan. Bahwa hidup sekalipun dikorban demi sesuatu yang amat berharga bagi kelangsungan hidup berbangsa di kemudian hari. Nasionalisme, rasa cinta pada tumpah darah dan negeri sendiri adalah yang utama. Demikian pemahaman yang perlu dibangun oleh generasi kemudian. 

Bahwa perjuangan itu diwariskan, dari generasi sebelumnya ke generasi selanjutnya, sebagai bukti luhurnya semangat satu nasib satu jiwa. Perlu ada semacam pendidikan yang terorganisir dengan baik sebagai cara mutlak bagi hidup berbangsa dan bernegara. Bedirinya organisasi yang turut berjuang melawan penjajahan, mulai dari pendidikan hingga perlawanan langsung dengan berperang secara fisik, itulah isyarat adanya kemauan bersama menolak hidup yang kuasai bangsa lain. 

Soekarno digulingkan oleh kekuasaan militer. Soeharto berada di pucuk kepemimpinan nasional. Kekuatan militer terkonsolidasi sedemikian kuat. Adanya antagonisme politik, di mana kekuasaan dipusatkan pada kepentingan militer dan kekuasaan ekonomi dikelola dengan model konglomerasi, kekuatan sumber daya ekonomi dimiliki segelintir orang. Adanya sikap politik soekarno yang dianggap tercela, dimanfaatkan untuk menjatuhkan kekuasaan soekarno yang sah. Rezim politik berganti, baju nasionalisme berganti.[3]  

Soeharto menjalankan otoriatarianisme kekuasaan. MPR berada di bawah bayang-bayang pengaruhnya. Nasionalisme ditafsirkan oleh penguasa politik menyesuaikan dengan kepentingannya. Rabun paham kebangsaan terjadi dalam kurun 30 tahun lebih, bahkan hingga kini. Terjadilah krisis paham kebangsaan antara rakyat dan negara. Dan reformasi adalah saat untuk memulihkan paham kebangsaan sebagaimana mestinya. Oleh generasi baru yang sesungguhnya memiliki cakrawala pemahaman yang baru pada bangsanya.

Era reformasi sebagai tonggak perubahan sosio politik nasional. Krisis ekonomi menyebabkan perubahan regulasi kekuasaan. Mahasiswa dan rakyat bersatu menjatuhkan kekuasaan paling otoriter di asia. Nasionalisme yang sempat mengalami krisis mulai bangkit sedikit demi sedikit untuk melawan perilaku politik yang menindas kemerdekaan rakyatnya sendiri. Usaha bersama untuk memulihkan tanah air yang rapuh karena kekuasaan sewenang-wenang selama 3 dekade. Isyarat perubahan untuk memulihkan paham kebangsaan bisa dilakukan melalui beragam cara, baik sadar maupun tidak disadari. Berikut beberapa faktor perubahan tersebut. 

Beberapa faktor penting tentang keterbukaan pemahaman arti sebuah bangsa, bisa melalui media informasi, aktifitas kemasyarakatan dan pendidikan, usaha ekonomi, kebudayaan dan perpolitikan. 

a.       Keterbukaan Informasi
Hadirnya abad informasi merupakan pertanda penting bagi horison perubahan sosial. Keberadaan sesuatu yang sebelumnya belum bisa diketahui kini bisa diakses, langsung dan cepat. Nasionalisme masa pergerakan nasional yang dipahami oleh ben anderson adalah nasionalisme oleh kapitalisme cetak. Bangkitnya pemahaman berbangsa dibarengi oleh berkembangnya pertumbukan industri penerbitan yang berisi berita tentang persoalan yang dihadapi oleh rakyat indonesia. Maka itu, Ben menyebutnya sebagai Imagined Community, “Komunitas yang Dibayangkan”. 

Bertolak dari tesis Ben Anderson itulah, kecenderungan informasi memiliki titik sentral dalam pembentukan pemahaman tentang paham berbangsa.[4] Ada agen yang membunyikan nasionalisme sehingga tersebar luas. Media internet memungkinkan revolusi pengetahuan dalam skala lebih massif dan mudah dicerna.

Dari beragam perspektif nasionalisme yang muncul di tengah kehidupan, memungkinkan beredarnya perdebatan oleh rakyat yang bisa mengakses media informasi tersebut. Keterbukaan informasi laksana pedang bermata dua. Satu bagian bisa digunakan untuk menguatkan pemahaman dan sadar berkebangsaan, namun di bagian berikutnya bisa saja menghancurkan paham nasionalisme itu sendiri, atau setidaknya mengubah paham menjadi internasionalisme. Batas-batas sebagai pemisah bisa ditabrak oleh perangkat informasi dan kecanggihan mengoperasikannya. 

b.      Aktivitas Kemasyarakatan dan Pendidikan
Olahraga menjadi bagian dari nasionalisme berupa kompetisi secara sportif. Persaingan niscaya terjadi ketika dalam pertandingan, tim kesebelasan Indonesia melawan Malaysia, misalnya. Api nasionalisme menguat meski sesaat. Bak jamur di musim hujan, jalan raya bisa bernuansa merah putih. Mulai kaos hingga lambang kenegaraan digunakan sebagai aksesoris. Demikian suasana sewaktu pertandingan berlangsung heboh. Nasionalisme menubuh sebagaimana baju kokoh atau kopiah digunakan sebagai identitas keagamaan. Lantas bisa saja dikatakan bahwa kenyataan semacam itu hanyalah kulit belaka. Nasionalisme hadir dari sanubari yang berkobar, semata bukan di kulit saja. Silahkan saja buktikan, apa yang hadir dalam dada setiap orang yang tangah menonton, bahkan pemainnya sekalipun.

Bidang yang tidak mungkin dilupakan adalah pendidikan. Bidang ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja sebagai ukuran perubahan sosial. Nasionalisme hadir di lapangan pendidikan, bisa diciptakan dengan pendidikan. Melalui pendidikan formal maupun non formal, agaknya memang meniscayakan pentingnya kesadaran berbangsa. Bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara melihat beberapa hal penting dalam pendidikan. Terutama sekali letak pendidikan adalah di tiga bagian; yaitu rumah, sekolah dan lingkungan terdekat di mana kehidupan seseorang berlangsung. Yang utama adalah pendidikan di rumah. Kedekatan hubungan dan perilaku sejak lahir dibangun di rumah. Melalui keteladanan, seseorang bisa belajar lebih baik tanpa paksaan atau pemahaman sempit. Letak pendidikan tidak hanya di sekolah melainkan terutama sekali di luar sekolah.

c.       Usaha Ekonomi
Di antara faktor penyebab lainnya adalah kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi yang memunculkan semangat nasionalisme adalah persaingan bisnis antara pihak pemodal asing dengan pemodal dalam negeri. Pun dalam peningkatan usaha menyejahterakan rakyat, kepemilikan oleh negara untuk memenuhi hajat hidup rakyat melalui BUMN. Kepentingan modal bangsa lain, diberikan kesempatan oleh negara dalam batas tertentu kerap membawa dampak tidak menguntungkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Oleh beberapa pihak misalnya, membiarkan pasar tradisional dikalahkan kegiatan bisnis swalayan modern. Mbok Minah bersaing dengan Indomart. Toko Mas Joko bertanding dengan Alfamart. Mbok Minah dan Mas Joko ditariki pajak untuk membiayai kehidupan bernegara, membangun dan memajukan negara. Namun, pada saat bersamaan, pedagang kecil tradisional tercekik karena beberapa pihak dalam negara ini menghalalkan praktik penjajahan para pemodal swalayan modern tersebut. 

Era globalisasi berekses pada kenyataan masuknya produk impor secara terbuka. Bahan kebutuhan pokok maupun kebutuhan rumah tangga lainnya. Beras dan buah-buahan, gandum dan gula, biasa dijadikan untuk pertukaran tersebut. Padahal, jika usaha memaksimalkan produksi dalam negeri ditingkatkan, kebutuhan semacam itu bisa memenuhi bangsa sendiri tanpa harus impor dari negeri lain. Dengan impor beras oleh para cukong menyebabkan sulitnya para petani mendapatkan keuntungan penjualan hasil buminya. Para nelayan mencari ikan di lautan berkompetisi dengan pemilik alat canggih penangkap ikan. Padahal, cara tradisional sebagai upaya menjaga kelestarian alam. Alat yang canggih biasanya berakibat pada penangkapan berlebihan sehingga merusak tatanan ekosistem di lautan. 

Alangkah naifnya, persaingan dagang yang dialami oleh rakyat dibiarkan. Proteksi oleh pihak yang berwajib, dalam hal ini adalah negara, bertanggung jawab memayunginya sehingga rasa kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh generasi selanjutnya bisa dirasakan rakyat seutuhnya. Kemerdekaan sebagai fakta adanya kedaulatan, berikutnya memunculkan perasaan cinta pada bangsa dan tanah air. Terutama sekali, nasionalisme harus tumbuh di kalangan yang mengerti adanya kecurangan dan ketidakadilan. 

d.      Kebudayaan
Aspek lebih luas yang melingkupi kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kebudayaan. Kebudayaan apa yang dimaksud? Tentu saja, nasionalisme dihidupkan untuk menghadapi kebudayaan penghambat laju perbaikan oleh rakyat. Negara bisa hancur, tapi kebudayaan akan tetap hidup. Berlalunya perjalanan sejarah, meninggalkan jejak berupa praktik keseharian. Kenyataan yang terpendam dalam kurun waktu sekian lama, memunculkan spirit baru. Dari manakah kesadaran sabang hingga merauke sebagai kesatuan organis? Idealisasi masa Majapahit oleh Soekarno dijadikan untuk menegaskan adanya kebudayaan dan kesatuan administratif menjadi negara Indonesia. 

Kebudayaan nasionalis adalah kebudayan yang mencintai bangsa dan tanah air. Beragam daerah bersatu menjadi bangsa indonesia. Kehendak hidup bersama diiringi saling membantu dan gotong royong. Dengan inilah negara republik indonesia bisa hidup dan tumbur bersemi. Bahasa dari beragam daerah memiliki keragamannya masing-masing. Sangat berbeda antarsuku yang satu dengan suku lainnya. 

Kesusastraan juga bagian aspek membangun kesadaran berbangsa. Karakter manusia diciptakan oleh budaya. Karya sastra anak bangsa diterjemahkan ke dalam banyak bahasa negara lain, menunjukkan adanya apresiasi sedemikian mendalam dari bangsa lain terhadap bangsa indonesia. Misal novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, mendapat  penghargaan dari negeri lain, di mana bangsa lain bisa mengetahui Indonesia melalui karya sastra tersebut. 

Naasnya, sebagai ciri utama penghargaan pada bangsa sendiri, beberapa waktu lalu, suatu tempat bernama Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, terlantar karena kurang biaya dari pemerintah daerah. Hemat penulis, kita harus sadar bahwa pendokumentasian itu penting. Melalui tempat semacam itulah, lembar-lembar perjalanan kebudayaan direkam, disimpan rapih di rak-rak peradaban.[5] Bisa saja berpendapat, tidak terlalu penting, namun bila kita memikirkan nasib generasi selanjutnya, mereka akan bertanya, di manakah catatan bersejarah itu? 

Kebudayaan nasionalisme sebagai upaya praktis memerjuangkan masa depan berbangsa yang lebih baik. Soedjatmoko pernah membahas kebudayaan sosialis. Lantas dia balik bertanya, kebudayaan macam apakah itu? Hingga pada kesimpulan pembahasan dia mengatakan bahwa kebudayaan sosialis adalah budaya yang diciptakan untuk kemakmuran tanah air dan rakyat seutuhnya. Dengan demikian, pertanyaan deduktif tentang macam apa kebuyaan nasionalis itu? Maka jawaban tersebut sudah jelas, bahwa kebudayaan berdasar rasa cinta pada bangsa dan tanah air segenap isinya adalah ciri utama kebudayaan nasionalis. 

e.      Perpolitikan
Pembahasan awal, nasionalisme berkutat pada perkara politik. Namun kini nasionalisme bisa dialami sebagai keseharian praktis yang lahir di keseharian. Beragam cara bisa ditunjukkan karena adanya semangat nasionalisme tersebut. Masa peralihan kekuasaan, nasionalisme terhimpit karena persoalan ekonomi yang menggerogoti sendi-sendi kenegaraan. Realitas politik tidak memberikan angin segar pada perbaikan kehidupan rakyat. 

Perihal utama yang paling bisa dilihat dalam perpolitikan adalah adanya korupsi. Negara semakin rapuh karena korupsi jelas melupakan sesuatu yang dianggap suci, bahkan tuhan sekali pun. Negara harus membersihkan diri dari penyakit yang dideritanya. Kesadaran berbangsa dan bernegara dilupakan, korupsi bisa terjadi begitu saja. Padahal, efek korupsi secara perlahan akan menghancurkan mentalitas dan kehidupan bernegara secara sehat. 

Korupsi mencuri hak orang lain yang bukan menjadi haknya. Sesuatu yang seharusnya digunakan untuk kemaslahatan banyak orang, digunakan untuk kepentingan segelintir orang atas nama kepentingan banyak orang. Membeli suara rakyat dengan uang, hingga mendapat posisi yang menguntungkan, jelas berakibat pada pengelolaan kesadaran nasionalisme. Uang pajak dibayarkan untuk pembangunan digunakan bagi kepentingan segelintir orang, dengan jelas adalah pencurian hak rakyat. Rasa berbangsa dan bernegara sejak kecil perlu dibentuk. Dengan begitu, adanya pengorbanan untuk kepentingan yang lebih besar bisa diwujudkan. Negara yang sehat, menciptakan kehidupan berbangsa juga sehat, adil dan makmur.

Kesimpulan
Nasionalisme tidak dibangun satu hari. Kesadaran mencintai bangsa dan negara perlu ditumbuhkan. Sebagaimana para pejuang rela mengorbankan segala sesuatu untuk kepentingan bangsa dan negara, termasuk rela kehilangan kebahagiaan dan hidupnya, maka itulah teladan sebagai pelajaran berharga. Masa lalu, nasionalisme dipahami untuk melawan bangsa lain yang merampas hak bangsa pribumi, namun kini nasionalisme bisa dipahami dengan beragam pengertian. 

Nasionalisme muncul sebagai ekspresi penolakan terhadap kedzaliman bangsa sendiri. Memperjuangkan sesuatu yang sudah semestinya menjadi hak rakyat pada umumya dan tidak mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok. Nasionalisme hadir dalam kenyataan hidup, seperti menghargai kelompok lain yang juga menjadi bagian dari tanah air indonesia, rasa berbangsa dengan mengayomi sesama, gotong royong dan bersolidaritas kuat. 

Rasa nasionalisme bukan hanya milik segelintir elit tertentu melainkan perlu dihidupakan di alam kenyataan. Realitas diciptakan oleh ide. Ide diilhami oleh adanya realitas, maka nasionalisme akan tumbuh sebagaimana realitas itu sendiri yang menciptakannya. Dengan demikian nasionalisme sebagai ide, butuh diciptakan dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Krisis nasionalisme terjadi sebagai bukti akan kehadiran kenyataan yang baru. Pahamilah nasionalisme, maka upaya kesejahtaraan, berkeadilan dan berkeadaban akan tercipta di bumi Indonesia tercinta.
   





[1] Slemet Muljana, Kesadaran Nasional Jilid 1; Yogjakarta; LKIS; 2008
[2] Benedict Anderson, Revolusi Pemuda; Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946; Jakarta; Pustaka Sinar Harapan; 1988
[3] Jeffery Winters, Dosa-Dosa Politik Orba; Jakarta; Djambatan; 1999
[4] Benedict Anderson, Imagined Community; Yogyakarta; Insist Press; 2001
[5] Di bulan Maret hingga Juni, media cetak seperti Kompas, membahas persoalan ini cukup mendalam. Tidak hanya cetak, beberapa media online banyak meliput persoalan ini.

Kamis, 27 Oktober 2011

Tan Malaka: Jalan Konfrontasi, Jalan Politik

Tan Malaka ibarat kabut dalam sejarah republik ini. Namanya memang tidak seakrab Syahrir, Soekarno atau Hatta karena memang dibekukan dari teks sejarah politik resmi selama puluhan tahun. Meski geraknya ibarat kabut, namun jalan perjuangan yang ditempuhnya sangat jelas: jalan konfrontasi. Tan Malaka sangat keras terhadap jalan negosiasi yang diambil para pendiri bangsa lainnya. Baginya, jalan tersebut hanya akan merawat kapitalisme-imperialisme Belanda. Jalan tersebut sekaligus jalan intelektual. Kata dan perbuatan tidak bercelah dalam diri Tan Malaka. Jalan konfrontasi yang dipilih bertolak dari filsafat dialektika material yang diyakininya. Madilog adalah manifesto pikiran untuk jalan politik yang ditempuhnya. Oleh sebab itu, ada baiknya kita bermula dari Madilog.
 
Madilog
 
Pemikir pejuang pasti memiliki traktat yang merangkum pikirannya yang terus bergerak. Marx menulis Manifesto Komunis, Lenin menulis The State and Revolution, Trotsky menulis Marxism and Terrorism, Gramsci menulis Prison Notebooks, Ferdinand Lassale menulis Zur Arbeiterfrage (On Labor Issue)  dan Althusser menulis Essays on Ideology. Semua pemikir pejuang pasti berpikir dan berbuat, bukan sekadar berbuat apa yang dipikirkan orang lain. Mereka memiliki sebuah cetak biru intelektual tentang keadaban baru pasca penindasan dan keterbelakangan.
 
Tan Malaka memiliki Madilog. Madilog adalah buah asketisme intelektual Tan Malaka. Traktat tersebut disusun Tan Malaka di desa rawajati, dekat pabrik sepatu kalibata Jakarta. Tan Malaka menyewa gubuk bambu ukuran 15 meter persegi untuk bekerja dari pukul enam pagi sampai dua belas siang merangkum gagasan-gagasannya. Dari gubuk itu Tan Malaka mondar mandir ke Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen (sekarang museum nasional) untuk riset literatur bagi bukunya. Madilog pun selesai kurang lebih satu tahun mulai dari 15 juli 1942 sampai 30 Maret 1943. 

Poeze dalam bukunya, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1925-1945, mengatakan bahwa inti madilog adalah penglihatan masa depan indonesia yang merdeka dan sosialis. Merdeka satu hal, sosialisme hal lain. Republik bisa merdeka secara formal namun rakyatnya tetap menjadi kuli di tanah airnya sendiri. Sebab itu, inti Madilog adalah dialektika. Dialektika adalah logika yang bertolak belakang dengan logika identitas Aristoteles. Apabila logika identitas mengatakan bahwa A = A dan ≠ Non A, maka dialektika justru menekankan betapa A (tesis) melahirkan Non A (anti tesis). Bentrokan antara tesis dan anti tesis akan mengalami sublasi menjadi sebuah sintesa. Semisal proposisi pulau adalah tanah (tesis) melahirkan proposisi pulau adalah air (anti tesis) yang bersublasi menjadi pulau adalah tanah yang dikelilingi air (sintesa). Kapitalisme (tesis) melahirkan sosialisme (anti tesis) dan bersublasi menjadi komunisme lanjut (sintesis). Dialektika tidak serta merta mengatakan bahwa satu epos sebangun dengan kesempurnaan melainkan mengandung cikal bakal kesempurnaan, seperti kapitalisme mengandung buruh sebagai kekuatan revolusioner yang akan membawa peradaban ke tingkat yang lebih humanis.
 

Dialektika adalah hukum sejarah. Kolonialisme pasti melahirkan anti kolonialisme. Kolonialisme menyiapkan jalan bagi anti kolonialisme. Betapa tidak, pendiri-pendiri bangsa kita sebagian besar mengecap pendidikan di negeri Belanda dan mengolah pikiran-pikiran revolusioner di sana. Dialektika sejatinya bukan negosiasi melainkan kontradiksi. Sosialisme bukan negosiasi terhadap kapitalisme tetapi kontradiksi total mengenai hak milik pribadi, relasi antar manusia, konsep negara dan hukum. Dialektika adalah imperatif untuk berhadapan secara frontal dengan rejim yang bobrok secara keadaban.
 

Dialektika adalah filsafat konfrontasi yang dibutuhkan proletar mesin dan tanah di bakal republik ini. Tan Malaka sendiri mengatakan, 

Banyak Proletar mesin dan tanah di Indonesia dan kekuatannya yang tersembunyi memang  sudah cukup kuat buat merebut kekuasaan dari imperialisme Belanda. Tetapi didikannya masih sangat tipis dan tiada cocok dengan keperluan dan kewajiban klasnya di hari depan. Mereka kekurangan pandangan dunia (Weltanschauung). Kekurangan Filsafat. Mereka masih tebal diselimuti ilmu buat akhirat dan tahyul campur aduk. Mereka tiada sadar akan kekuasaan klasnya. Belum insyaf sendiri, bahwa tak dengan pertolongan proletar mesin, semuanya percobaan buat merebut dan membentuk Indonesia merdeka adalah perbuatan sia-sia belaka. Dua puluh tahun dulu saya sudah yakin akan kekuatan kaum proletar yang tersembunyi itu. (Madilog, 1851, hal. 5)

Kekuatan kontra atau anti kolonialisme sudah tersembunyi di republik ini dan siap diledakkan. Namun, persoalannya adalah mereka belum memiliki filsafat yang tepat dan masih dibayang-bayangi logika non-dialektika yang mengidentikan antara kolonialisme dengan kemanusiaan. Jalan pikiran keliru itu yang dicoba dilempangkan Tan Malaka lewat Madilog. Namun, upaya tersebut tidak sekadar menyalin filsafat Barat tanpa menanamkannya dalam konteks lokal-keindonesiaan. Tan Malaka mengatakan,

Filsafat kaum proletar memang sudah ada, yaitu di barat. Tetapi dengan menyalin semua buku dialektis-materialisme dan menyorongkan buku-buku itu pada proletar Indonesia kita tiada akan dapat hasil yang menyenangkan. Saya pikir otak proletar mesin Indonesia tak bisa mencernakan paham yang berurat dan tumbuh pada masyarakat Indonesia dalam hal iklim, sejarah, keadaan jiwa dan idamannya. (Madilog,1951, hal. 6)

Filsafat harus ber-konteks. Ini posisi intelektual Tan Malaka sebagai pemikir pejuang. Konteks iklim, sejarah, keadaan jiwa dan cita-cita harus dipertimbangkan dalam merumuskan filsafat dialektika. Alam pikiran masyarakat Indonesia masih dipengaruhi oleh cara berpikir atau logika mistika. Logika mistika adalah aturan berpikir yang fantastis, tahyul dan sembarangan. Misalnya, pandangan mesianistik “ratu adil” yang menciptakan sikap fatalis, pasif dan beku di sebagian masyarakat Indonesia. Logika mistika tidak melihat pertentangan kelas dalam kapitalisme-imperialisme Belanda sebagai embrio revolusi kemerdekaan melainkan semata pembagian kerja yang diatur secara adi kodrati (semua orang sudah diatur tugas dan fungsinya secara ilahiah). Logika identitas, proporsionalisme dan stratifikasi harus digantikan dengan logika pertentangan atau dialektika. Untuk itu Tan Malaka mengingatkan,

Ahli filsafat yang jawa, ahli politik atau ahli siasat yang cerdas ahli ekonomi yang sempurna, mesti memakai senjata pertentangan, seperti senjata dalam pepatah Indonesia: yang tajam balik bertimbal, kalau tak ujung pangkal mengena. Ahli filsafat mesti selalu berjalan di antara kedua kutub, utara dan selatan, ujung dan pangkal, ya dan tidak, ada dan tak-ada. Sebentar dia bisa cemplungkan otaknya ke dalam ada, sebentar lagi ke dalam tak ada, dan pada tempat masing masing memakai logika, tetapi pada pemandangan jauh mempunyai waktu lama, dia mesti pikirkan ada itu terletak di kutub tak-ada, tak boleh bercerai satu sama lainnya. Si-ekonomis dan ahli politik, sebentar boleh memakai Logika, dalam menyelidiki beberapa perkara dalam golongan proletar atau kapitalis, tetapi dalam filsafat masyarakat sekarang, masyarakat kapitalisme, dia tidak boleh melupakan kedua kutub, kaum modal dikutub utara, kaum buruh di kutub selatan. Satu sama lain bertentangan, tak boleh dipadu. Disini dialektika yang merajalela (Madilog,1951, hal. 11)

Juga,
 
Tetapi tuan mesti kupas masyarakat sekarang, dengan cara berpikir yang beralasan benda, bukan roh, yang bertentangan, bukan perdamaian, memakai undang berpikir yang bukan fantastis, bertahyul, sembarangan. Jelaskan pentingnya benda buat kesehatan kecerdasan, kebudayaan, kemerdekaan dan kesenangan. Kupaslah pertentangan upah dan untung, pertentangan proletar dan kapitalis. Pertentangan politik buruh dan politik majikan dan akhirnya pertentangan kebudayaan kaum pekerja dengan kebudayaan kaum hartawan yang menganggur itu. Jelaskanlah kedudukan proletar dalam dunia kapitalisme ini. Peringatkanlah, bahwa mereka pekerjalah, yang menduduki lantai ekonomi perekonomian Indonesia. Bangunkanlah semangat kritis – menentang - dalam masyarakat yang memang berdiri atas beberapa golongan yang bertentangan. Dengan begitu bangunkanlah semangat menyerang buat meruntuhkan yang lama – usang – dan mendirikan masyarakat yang baru – kokoh – kuat.  (Madilog,1951, hal. 12) 

Kekuatan revolusioner anti kapitalisme-imperialisme tersembunyi pada pekerja mesin menurut Tan Malaka. Kita boleh berdebat mengenai ini mengingat sebagian besar pekerja kita adalah pekerja tanah (petani). Namun, Tan Malaka sepertinya yakin betul bahwa pekerja mesin adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Tanpa mereka, konfrontasi tidak akan melahirkan kemerdekaan yang bertahan lama. Kemerdekaan politik tanpa disertai ekonomi akan kembali membuat republik ini terjajah oleh kekuatan kapitalisme-imperialisme yang masuk melalui jalan negosiasi, bukan senjata. Dan perekonomian yang berdikari ditopang oleh pekerja mesin yang tangguh dan solid.

Walaupun dalam bagian badan kita, otak kita itu adalah barang yang perlu dan penting, hati, jantung, usus, dsb juga penting, tetapi kalau tak-bertulang belakang kita tak bisa berdiri. Klas tani itu penting, klas saudagar di dunia sekarang berguna, klas intelek berguna-penting, tetapi tak-ber-klas pekerja-mesin, Indonesia merdeka pasti tak akan bisa berdiri dan kalau berdiri tak akan bisa teguh dan lama. Pekerja di dalam tambang minyak, besi, timah, bengkel dan pabrik dan pada pengangkutan inilah tulang belakangnya ekonomi Indonesia. Inilah kaum yang bisa dikerahkan buat menyokong berdirinya dan majunya Indonesia Merdeka yang sejati dan terus-menerus mempertahankan kemerdekaan itu. Dekatilah golongan pekerja ini! Masuklah klasnya! Dengan klas ini bersama dengan golongan lain, maka klas pekerja seolah-olah akan menjadi klas, sebagai "teras’’ yang dikelilingi kayu dan kulit, kalau ia terus maju ke muka buat mencapai kemerdekaan sejati dan mendirikan negara yang cocok dengan kemakmuran sama-rata dan persaudaraan. (Madilog, 1951, hal. 11-12)

Jalan Konfrontasi

Dialektika, bagi Tan Malaka, bukan sekadar jalan pikiran melainkan juga jalan politik: politik konfrontasi. Tan Malaka prihatin dengan jalan negosiasi yang diambil oleh elit pemimpin republik. Baginya, negosiasi hanyalah jalan belakang bagi masuknya kembali kapitalisme-imperialisme Belanda. Tan Malaka membuat catatan khusus terhadap kesepakatan-kesepakatan yang dibuat dalam perundingan Linggardjati dan Renville. Tan Malaka membahas masalah inti persoalan pada kedua perjanjian tersebut, khususnya pasal 14 yakni pengakuan terhadap hak milik Belanda dan pengakuan terhadap utang negara. Dengan demikian, kedua perjanjian tersebut memberikan jaminan hukum dan berusaha bagi pedagang Balanda untuk menyewa tanah, air untuk perusahaan mereka, buruh dan kuli untuk dikuras tenaga mereka, kuli dan alat pengangkutan untuk membawa semua barang itu ke pantai, ke pulau-pulau lain dan ke dunia di luar Indonesia. Tan Malaka percaya betapa pelaksanaan pasal 14 akan berakibat buruk pada politik luar negeri, keuangan, militer dan kebudayaan Indonesia (Poeze, 2010, hal. 247)

Kesepakatan-kesepakatan tersebut lahir karena elit politik republik seperti Soekarno, Hatta, Amir Sjarifoeddin, dan Sjahrir semua berasal dari kelas borjuasi, mengikuti pendidikan tinggi di Belanda dan bekerja sama dengan imperialisme Belanda di dalam Linggarjati dan Renville. Tan Malaka mengemukakan analisa politikografi terhadap masing-masing tokoh tersebut, khususnya Soekarno, Hatta dan Sjahrir.  Soekarno dipandang Tan Malaka sebagai orator ulung, namun tidak memiliki cara berpikir dan filsafat revolusioner. Soekarno terlalu dekat dengan Jepang sehingga akan kehilangan kontak dengan massanya. Soekarno pun kembali menjadi borjuasi kecil dan memilih jalan yang paling tidak beresiko. Hatta, menurut Tan Malaka, bukan seorang revolusioner melainkan intelektual pendiam yang membosankan. Hatta tidak memiliki basis massa, dia hanya penghapal teori yang hanya didengar segelintir elit intelektual dari kalangan borjuis kecil. Sama dengan Soekarno, Hatta tidak memiliki sifat Murba dan mengambil jalan tanpa resiko dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Sjahrir bagi Tan Malaka adalah aktor intelektual politik negosiasi dengan kolonialisme Belanda. Sjahrir bertanggungjawab penuh dalam memisahkan babak pertama dan kedua revolusi kemerdekaan, yaitu diplomasi menggantikan aksi massa. Semua itu berakibat pada “keruntuhan republik lahir dan batin, ialah keruntuhan kemiliteran, perekonomian, sosial, politik dan moril” (Poeze, 2010, hal. 246 yang mengutip dari Pendjara III: 84)

Tan Malaka memahami betul bahwa politik bukan jabat tangan melainkan garis tebal yang memisahkan lawan/kawan. Jalan politik bukan negosiasi ekonomi yang menghitung untung/ rugi, jalan moral yang berporos pada baik/jahat atau jalan estetis yang melulu bicara soal indah/buruk (Schmitt, 1932, hal. 27). Malaka menarik garis antara pro-Murba dan anti-Murba, konfrontator dan kolaborator, pro-kapitalisme-imperalisme dan anti-kapitalisme-imperialisme. Elit politik republik pasca proklamasi sangat rentan terseret pada kubu yang bertolak belakang dengan Murba. Apa pun alasan para elit, Tan Malaka berpendapat bahwa konfrontasi total diperlukan untuk  memerdekakan republik baru ini baik secara formal-legal maupun substansial. Kebebasan dari penghisapan kapitalisme-imperialisme Belanda adalah syarat pokok untuk mendirikan republik yang berdikari secara politik, ekonomi dan budaya. Tan Malaka mengatakan,

Beginilah paham saya sebelum dibuang keluar Negara lebih dari 20 tahun yang lampau. Di bawah bendera Dai Nippon paham itu tak bertambah lemah, malah sebaliknya bertambah kuat. Perjuangan nasionalis setelah robohnya PKI (1927), yang dipimpin oleh kaum intelek sudah lebih dari pada cukup memberi bukti yang nyata, bahwa perjuangan yang tiada berdasarkan pekerja-murba tidak akan mendapat Indonesia Merdeka. Sikap keras terhadap para pemimpin prajurit pekerja, jauh lebih kejam dari pada sikap yang diambilnya terhadap para pemimpin nasionalis adalah sikap yang sangatjitu sekali menggambarkan taksirannya imperialisme Belanda terhadap berbagai golongan Masyarakat Indonesia yang mengancam dirinya itu (Madilog, 1951, hal. 11)

Meskipun dikenal kritis terhadap para kolaborator, Tan Malaka sesungguhnya menginginkan adanya persatuan kekuatan-kekuatan politik bangsa demi menghancurkan kolonialisme. Tan Malaka sebagai pimpinan PKI berupaya meyakinkan wakil-wakil kelompok Islam pada Konggres PKI ke-8 untuk bersinergi melawan kolonialisme. Pada Konggres yang dibuka pada tanggal 25 Desember 1921, Tan Malaka berpidato selama enam jam mengenai pentingnya unifikasi gerakan massa (McVey, 2006, hal.115). Dalam pidatonya Tan Malaka membandingkan antara keberhasilan politik non-kooperasi Indian National Conggress dibanding gerakan politik di Indonesia yang terpecah belah. Solidaritas adalah kata kuncinya. Pemerintahan kolonial Inggris tidak berani menangkap Gandhi karena tahu rakyat India bersatu di belakangnya. Di luar dugaan Tan Malaka, respon dari kelompok Islam sangat positif. Kyai Haji Tubagus Hadikusumo, wakil Muhammadyah, menanggapi Tan Malaka dengan mengatakan betapa perjuangan melawan kolonialisme Belanda hanya dapat dituntaskan dengan persatuan rakyat. Beliau mengatakan bahwa mereka yang melawan persatuan adalah kolaborator Belanda dan dapat dicap sebagai musuh Islam. Politik negosiasi Tan Malaka di Konggres ke-8 PKI menghasilkan sesuatu yang positif. Meski ada tantangan kecil di sana sini, semuanya bisa diselesaikan dengan baik. Peserta sepakat bahwa konggres lanjutan akan diadakan di bulan April 1922 untuk lebih memantapkan aliansi komunis-Islam demi perjuangan melawan kolonialisme. Semua itu membuktikan betapa Tan Malaka, meski kritis terhadap politik negosiasi yang dilakukan elit, sesungguhnya mengidamkan kolaborasi antar kekuatan anti kolonial di Indonesia. Tan Malaka, dapat dikatakan, melakukan negosiasi di dalam dan konfrontasi keluar.
 
Oleh: Donny Gahral Adian (Dosen Filsafat Politik dan Ideologi, Universitas Indonesia)

Makalah ini didiskusikan bersama Forum Studi M@KAR pada peringatan 62 Tahun Hilangnya Tan Malaka di Cilandak, 20 Februari 2011.

Kepustakaan
Schmitt, Carl. The Concept of Political. Chicago, University of Chicago Press: 1996
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Jilid 3: Maret 1947-Agustus1948. Jakarta, Buku Obor: 2010
Malaka, Tan. Madilog. Jakarta, Widjaya: 1951
McVey, Ruth T. The Rise of Indonesian Communism. Singapore, Equinox Publishing: 2006
Zulkifli Arif, et.al (ed.). Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan. Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia: 2010 


Kamis, 20 Oktober 2011

Masyarakat & Manusia Ideal

Masyarakat ideal dalam Islam disebut ummah. Konsep ummah mengakomodir seraya mengatasi keterbatasan semua konsep sejenis—yang dalam berbagai bahasa serta budaya menunjuk pada penggolongan manusia: ”komunitas”, ”masyarakat”, ”rakyat”, “bangsa”, “orang”, “suku”, “klan”, ”gerakan”, ”kolektif”, dan sebagainya. Semua konsep ini sesungguhnya satu, sudah terangkum dalam istilah ummah—sebuah konsep ideal dengan gradasi makna eklektik dan fleksibel (baca: dapat dipahami secara terbuka maupun tertutup),[1] serta dijiwai dengan semangat progresif, mengandung arti bergerak atau aktif, mengandung pandangan sosial yang dinamis dan ”berkomitmen ideologis.”

Kata ummah berasal dari akar kata amm (amma-ya’ummu), dapat berarti: ”jalan, maksud-tujuan, menuju, menjadi, keikutsertaan-partisipasi, juga gerakan”. Maka dengan mengacu pada pemaknaan demikian, ummah dapat dipahami sebagai suatu masyarakat di mana individu-individu, berkeyakinan serta bertujuan sama, terhimpun dan bersatu secara sukarela, berpartisipasi harmonis, dengan niatan untuk maju berjama’ah dan bergerak ke arah tujuan bersama.

Pendapat-pendapat lain dalam soal penggolongan umat manusia dan kelompok masyarakat mengandung unsur-unsur diskriminatif dan hirarkis—menggunakan kriteria ras, ikatan-pertalian darah, kepemilikan tanah/benda dan pembagian keuntungan material. Tapi istilah ummah sangat berbeda, tidak mengandung unsur-unsur rasial dan feodal semacam itu. Dengan memilih gagasan ummah, Islam telah menegaskan suatu tanggung jawab sosial serta intelektual, dan merekomendasikan suatu gerakan bersama (jama’ah, afinitas, afiliasi, kolektif) sebagai bagian mendasar dari filsafat sosialnya.

Infrastruktur ummah adalah ekonomi;[2] karena secara sederhana, “jika manusia tidak mencukupi kehidupan duniawi, tentu ia pun akan kesulitan dan terhambat dalam menjalani kehidupan ruhaniah.” Sistem sosial dari ummah didasarkan pada kesetaraan, kesamaan, keadilan; tidak boleh ada monopoli individual. Kepemilikan sumber-sumber kehidupan tertentu, semuanya berada di tangan rakyat (bukan di tangan pejabat negara atau penguasa dan kaum elit). Inilah karakteristik utama “sistem Habil”[3]yang mesti wujud kembali, di mana suatu masyarakat bergerak dengan semangat kebersamaan, kesetaraan, kesamaan antar manusia, dan oleh karenanya, juga hidup dalam spirit kekeluargaan-persaudaraan; dengan demikian, ini berarti pula masyarakat tanpa kelas (non-hirarki, tanpa kasta). Hal tersebut merupakan sebuah prinsip dasar, suatu prinsipalitas eksistensi masyarakat sejati; bukan merupakan tujuan sebagaimana dalam sosialisme Barat—yang sekalipun berbeda dalam cara (metode), tetapi pada hakikatnya, berpandangan serupa dengan prinsip utama serta cita-cita kaum borjuis-kapitalis Barat.[4]

Filsafat politik dan bentuk “pemerintahan” dalam ummah bukan demokrasi menurut perhitungan kepala (baca juga: bukan demokrasi representasional-perwakilan-kepartaian). Tidak pula demokrasi berdasarkan liberalisme, karena paham ini keterlaluan miskin dari tanggung jawab sosial dan moral, membuat masyarakat hilang arah—tidak menentu lantaran dipermainkan elit-elit dengan kekuatan-kekuatan sosial yang saling bersebrangan, chaotik tanpa tujuan. Kemudian, bukan pula aristokrasi busuk (otoritarian) maupun diktator ploretariat, dan bukan oligarki kalangan tertentu. Ummah lebih dari sekadar “kemurnian-kepemimpinan” (sangat menolak tegas gagasan satu pemimpin—karena ini jelas fasisme), ummah didasarkan pada kepemimpinan revolusioner kolektif (tanpa perwakilan; langsung diprakarsai rakyat banyak), di mana segenap individu partisipan bertanggungjawab dalam pergerakan, serta mengambil peran mengembangkan masyarakat dengan mandiri sesuai pandangan dunia tauhid;[5] aktif bertanggungjawab dalam merealisasikan fitrah manusia sejalan rencana penciptaannya sebagai khalifah di muka bumi. Inilah sesungguhnya makna imamah sejati![6]

Catatan kaki:
[*] Terjemah bebas “The Ideal Society—the Umma,” dalam kumpulan kuliah Ali Syari’ati, On the Sociology of Islam. Berkeley: Mizan Press, 1979, hlm. 119-120.

[1] Al-Quran menyebut kata ummah dalam berbagai bentuknya sebanyak 64 kali. Lima puluh satu buah di antaranya tercantum pada ayat-ayat Makkiyah. Sekalipun saling bersangkut-paut satu sama lain, terdapat karakteristik masing-masing antara ayat Makkiyah dan Madaniyah. Pada ayat-ayat Makkiyah, penggunaan kata ummah-umam lebih banyak mengacu kepada gagasan soal kesatuan dengan mengakomodir berbagai kelompok primordial masyarakat, termasuk kepada aksentuasi titik temu berbagai kepercayaan dalam masyarakat. Sementara penggunaan kata ummah-umam pada ayat-ayat Madaniyah, banyak dihubungkan dengan peradaban. [pen., dari beberapa sumber Studi al-Qur’an]

[2] Ali Syari’ati memang kerap meminjam retorika Marxis. Tetapi maksud serta pendasarannya sangat berbeda. Ia tidak mengikuti paham determinisme ekonomi Marxian. Bagi Syari’ati, ekonomi bukan suatu faktor determinan, melainkan lebih merupakan faktor pendukung, untuk masyarakat mencapai ”tujuan-tujuan non-material” [...] Penjelasan lebih spesifik tentang krtitik Syari’ati terhadap determinisme ekonomi [serta berbagai hal lain menyangkut diskursus Marxisme-Komunisme-Sosialisme dan sejumlah ideologi Barat lain], terdapat dalam kumpulan karangannya dengan judul, Marxism and Other Western Fallacies: An Islamic Critique. Penting kita baca jika kita menginginkan penjelasan mendalam. [pen.]

[3] “Sistem Habil” dijelaskan Syari’ati dalam tulisannya, “The Philosophy of History: Cain and Abel.” [pen]

[4] Lebih lanjut, buku Syari’ati dengan judul, Marxism and Other Western Fallacies: An Islamic Critique, menunjukkan analisis tajam mengenai persoalan ini. [pen.]

[5] Tentang pandangan dunia tauhid, dijelaskan Syari’ati dalam tulisannya, “The World-View of Tauhid.” [pen]

[6] Buku hasil kumpulan kuliah Syari’ati dengan judul, Ummah and Imamah, memperjelas perkara ini dengan proporsional. [pen.]


II

Manusia Ideal—Khalifah Allah[*]


Manusia ideal ialah manusia teomorfis (“sadar akan keilahian”); ia selalu berjuang melawan dorongan negatif, hingga Allah SWT memenangkan dan menyelamatkan dia dari sisi buruk dirinya (basyar) yang bersangkutan dengan tipudaya Iblis maupun dengan dominasi “unsur tanah” (sifat kotor atau rendah) dan “unsur sedimental” (sifat pasif, stagnan, mandeg).[1] Dia telah terbebaskan dari keraguan, kebimbangan, juga dari kontradiksi antara “dua infinitas” (“dorongan baik dan dorongan buruk”) dalam pribadinya sebagai manusia. “Keseluruhan akhlaknya menjadi sejalan dengan sifat-sifat Allah SWT” (tidak lagi mengacu pada sistem etika manusia yang serba relatif); inilah sejatinya totalitas filsafat pendidikan kita, utuh menyeluruh, lengkap; standar tunggal kita! Hal tersebut merupakan suatu negasi terhadap semua sistem baku maupun standar konvensional; kerena demi pencapaian kemanusiaan sempurna, akhlak memang mesti sejalan dengan atribusi, karakteristik, dan sifat-sifat Allah. Manusia ideal berakhlak demikian, ia terus bergerak maju ke sasaran mutlak dan mengarah kepada kesempurnaan absolut, bertujuan kepada yang abadi, tak berhingga, bukan mengacu kepada banalitas atau prototipe manusia kerumunan maupun pembingkaian pribadi seragam.

Manusia demikian, manusia unggul, merangkap dua dimensi: membumi, sekaligus melangit seumpama burung yang berkemampuan terbang tinggi menjelajahi cakrawala dengan kedua sayapnya. Dia bukanlah produk dari kebudayaan dan peradaban mana pun yang mencetak manusia-manusia secara fragmentaris atau terpisah satu sama lain di mana ada kelas sosial atau kasta, maupun terdapat segregasi peran antara kelompok manusia “bijak” (filosof, intelektual, agamawan, dsb), kelompok manusia kuat (militer, kesatria, prajurit, dsb), dan kelompok manusia bawah (sudra, paria, tukang, buruh, dsb). Peradaban-peradaban dengan hirarki macam demikian, mengandung ketimpangan antar manusia: di satu pihak terdapat manusia tulus dan saleh namun lemah pemikiran; pada satu pihak lagi, ada kelompok cerdik pandai dengan pengaruh luas, tetapi hati serta jiwanya bobrok dan picik (oportunis), pun tangan mereka penuh dosa; sedang di lain pihak, terdapat kelompok manusia yang hidup hariannya hanya dicurahkan pada kehidupan batin, keakhiratan, kerohanian, dan ada pula orang-orang yang total mengabdikan diri pada keindahan serta kesenian, akan tetapi sayang, kedua golongan ini kebanyakan miskin secara material, terhina dan lemah secara politik; sebagaimana halnya ratusan ribu pertapa India pada zaman kolonial, dianugrahi kapasitas ruhani luar biasa beserta kepekaan perasaan sebegitu rupa, namun melulu dipermainkan dan dijadikan bahan olok-olok yang amat menyedihkan oleh kaum penjajah Inggris, bahkan ditawan, dipenjara, disiksa. Sementara itu, pada lain pihak lagi, di dunia ini terdapat suatu kelompok bangsa manusia modern; mereka mengeksploitasi bumi, mengeruk isi gunung-gunung, lautan, merambah angkasa, dengan segenap kekuatan material, industri, teknologi, hingga mereka menghasilkan kehidupan material berlebih, sangat berlimpah ruah, namun betapa sangat ironis, hati mereka hampa, mati rasa, sepi dari segala kepekaan nurani dan terasing dari segala nilai luhur. Keutamaan hidup untuk menjiwai realitas, menghayati kedalaman hidup, serta mensyukuri keindahan, menyelami kepercayaan akan satu ihwal yang jauh lebih mulia dibanding alam serta sejarah, semuanya ini pada diri mereka telah melemah dan layu, bahkan boleh dibilang sudah di ambang kepunahan total.

Demikian sekilas gambaran soal kelompok-kelompok manusia dalam peradaban-peradaban hirarkis. Manusia ideal melampaui penggolongan dari sebagian kelompok di antaranya maupun salah satunya. Ia tidak tergolong ke dalam kelompok mana pun.

Manusia ideal, mengada dan bergerak di tengah-tengah alam, ia tidak lupa kepada Sang Pencipta, malah ia justru menjadi lebih memahami keagungan Allah Swt, merasa lebih dekat dengan-Nya. Dia turun ke bawah, membumi, memperjuangkan nasib rakyat serta kemanusiaan, membela kaum tertindas; dan dengan begitu, dia semakin menghayati betapa sangat dekatnya Allah Swt. Terhadap alam, ia bersikap santun, memeliharanya, tentu ia juga tidak mengabaikan umat manusia.

Karakternya lengkap. Beberapa perumpaman pribadinya, antara lain: keberaniannya ibarat Caesar, sementara di kedalaman dadanya bermukim hati Putra Maryam. Dia berpikir dengan akal Socrates sekaligus mencintai Allah SWT dengan kemurnian sanubari al-Hallaj. Sebagaimana sosok manusia dambaan Alexis Carrel, dia seorang manusia yang memahami keindahan ilmu pengetahuan serta keindahan Allah. Ia menghargai perkataan dari kelompok orang seperti Pascal atau Descartes. Seumpama Buddha, ia merdeka dari belenggu nafsu, telah bebas dari penjara hedonisme dan egoisme. Ibarat Lao Tze, ia menghayati kebersatuan dirinya dengan semesta alam. Seperti Konfusius, ia tulus memikirkan bagaimana nasib rakyat jelata. Seperti Spartacus, ia juga seorang pemberontak, berjuang melawan para penindas rakyat, pun sebagaimana Abu Dzar, ia konsisten menjadi seorang revolusioner, berjuang menggalang kekuatan, demi membela kaum papa dan lapar. Sebagaimana Nabi Isa juga, ia menyebarkan cinta, kasih sayang, dan perdamaian; sekaligus seperti Musa alaihissalam, ia setia berjihad di jalan Allah Swt dan mengupayakan pembebasan. Kemudian, lebih daripada itu semua, ia senantiasa bersungguh-sungguh meneladani Nabi Muhammad Saw dalam berbagai aspek kehidupan.

Ia, manusia ideal, berpemikiran filosofis, namun penting ditegaskan lagi, bahwa hal ini tidak menjadikannya lalai terhadap nasib umat manusia, justru sebaliknya, membuat ia semakin peka, makin bertanggungjawab, dan berkesadaran sosial semakin tinggi. Dalam keterlibatan politik, ia tidak terseret arus, apalagi terjerumus ke dalam demagogi; ia sama sekali tidak berkeinginan mencari popularitas atau kedudukan—jauh dari sifat riya. Ilmu pengetahuan tidak mengurangi keimanannya terhadap Allah Swt, sementara keyakinan tidak melumpuhkan kekuatan akal pikirannya. Kesalehan tidak mengubah dirinya jadi pertapa, biarawan, atau pendeta yang larut dalam kepasrahan pasif. Sedang aktivisme berserta komitmen revolusionernya tidak ternodai oleh immoralitas dan kemunafikan. Ia, manusia ideal, merupakan manusia jihad dan ijtihad (mujahid sekaligus mujtahid); manusia puitis dan pejuang; manusia penyendiri seraya berkomitmen sosial; manusia berperasaan mendalam sekaligus tajam dalam pemikiran; manusia kuat pemberani serta penuh kasih sayang; manusia berkeyakinan teguh dan berpengetahuan luas. Pendek kata, ia sosok manusia berkepribadian utuh, mempersatukan seluruh dimensi kemanusiaan sejati. Semua aspek kehidupan tidak mendeterminasinya jadi makhluk satu dimensi (one dimensional man), atau terbelah, kalah, dan teralienasi dari dirinya sendiri. Dengan mengabdikan diri kepada Allah sepenuhnya, ia terbebas dari belenggu perbudakan terhadap benda maupun manusia. Ketawakalannya kepada kehendak mutlak Allah Swt, membangkitkan segenap kesadarannya untuk memberontak melawan segala paksaan serta sistem dan hirarki opressif. Dia, manusia ideal, ialah manusia yang meluluhkan temporalitas sifat-sifat pribadinya, hijrah ke dalam identitas abadi umat manusia; di mana dengan cara penegasian diri (mem-fana-kan diri), ia menjadi bergerak sinergis dengan [spirit] “kehidupan kekal”.

Dia diberikan amanah besar oleh Allah Swt. Karenanya, dengan segala potensialitas dan kapasitas yang dianugrahkan kepadanya, ia mesti bersungguh-sungguh melaksanakan kehendak Allah, ia harus menjalankannya sepenuh rasa tanggung jawab dan komitmen penuh. Ia merasakan derajat “kesempurnaan” (baca juga: keutuhan) sebagai manusia ideal, bukan karena ia menjalin hubungan personal dengan Allah lewat jalan mengenyampingkan manusia-manusia lain, tetapi, ia mencapai kemanunggalan bersama-Nya dalam perjuangan mewujudkan kesempurnaan umat manusia (baca juga: mewujudkan ummah—masyarakat ideal). Allah Maha Mandiri, tidak butuh apa-apa dari siapa pun itu. Manusia ideal dalam menjaga hubungan dengan-Nya, justru menyatu dengan rakyat untuk berjuang bersama dalam menghadapi penderitaan, kesengsaraan, sekaligus memberantas kebodohan, syirik, dan keterbelakangan; konsisten mengatasi rintangan bagi kesejahteraan serta keselamatan umat manusia, istikomah melaksanakan perjuangan sosial. Pada kondisi demikianlah ia menemukan kesalehan, keutuhan diri dan keakraban dengan Allah Swt.

Seperti dikemukakan sebelumnya, manusia ideal bukan hasil bentukan lingkungan tertentu; sebaliknya, dia justru mengubah lingkungannya, seideal mungkin (dalam kata lain: sesesuai mungkin dengan kehendak Allah Swt, bukan atas dasar kehendak individual, bukan pula berdasarkan kepentingan golongan/kelompok, etnis, atau ras tertentu). Dengan keimanan dan kesadaran, ia telah memerdekakan diri dari semua bentuk paksaan, juga dari sistem opresif yang menyempitkan perkembangan masyarakat serta memaksa manusia menjadi mekanis dalam bingkai dunia modern dan dominasi industri. Ia bebas dari paksaan alam dan keturunan, bebas dari belenggu sejarah maupun dari paksaan lingkungan sosial. Dengan iman dan kesadaran yang didukung ilmu pengetahuan dan penggunaan teknologi secara bijaksana, ia dapat membebaskan dirinya dari tiga bentuk penjara: “alam”, “sejarah”, “masyarakat”; penjara keempat ialah “diri sendiri”,[2] dan ia memerdekakan dirinya melalui jalan cinta damai dan kasih sayang. Dengannya, ia memberontak terhadap ego, melawan-menundukkannya hingga mencapai tingkat ketenangan, memurnikannya kembali sesuai kehendak Ilahi.

Ia membebaskan karakter serta kepribadiannya dari norma-norma warisan rasnya dan dari kebiasaan maupun aturan opressif dalam masyarakat—semuanya ini serba relatif, temporal, produk lingkungan. Ia merevaluasi (baca juga: menjungkirbalikkan) semua nilai nisbi melalui jalan menerapkan hikmah abadi dan nilai-nilai ilahiah. Dengan demikian, ia meneladani sifat-sifat Allah Swt dan hidup di dalam kehendak mutlak-Nya. Bertindak saleh, mengamalkan perbuatan baik, bukan lagi dirasakannya sebagai suatu kewajiban atau beban; tetapi, atas dasar ketulusan-keikhlasan, ia merasakannya sebagai kebiasaan harian dan kenikmatan hidup. Akhlaknya tidak lagi dipengaruhi paksaan sosial (baca juga: social control) maupun hukum manusia dan konstitusi, atau kekangan otoriter lain. Perbuatan baik telah menjadi identik dengan dirinya, di mana fitrahnya sejalan dengan semesta. Nilai-nilai sakral (mulia-luhur) merupakan bagian fundamental dan integral dari dirinya, semua itu inheren, melekat erat dalam eksistensinya, dalam kehidupannya, pemikirannya, cintanya.

Di tangannya, seni atau kesenian bukan barang permainan, bukan produk hiburan yang melenakan, bukan pula sarana untuk pelarian diri dari kehidupan sosial, pun bukan alat buat mengalihkan perhatian rakyat atau mengalienasikan mereka; kesenian bukanlah pelampiasan hasrat terpendam, juga bukan abdi bagi kapital atau seksualitas dan politik, bukan pula abdi untuk seni itu sendiri. Jika seni dijejali hal-hal demikan, maka itu adalah perbudakan-penindasan. Seni, sejatinya, bagian kehidupan, merupakan amanah khusus dari Allah untuk umat manusia. Seni, hakikatnya, kalam kreatif Sang Khalik. Ia yang Maha Indah mengaruniakan seni kepada manusia, agar manusia, sebagai khalifah di muka bumi, memelihara alam sekreatif mungkin, hingga dengan penuh kesyukuran mereka dapat merasakan bumi sebagai “firdaus kedua” (bukan sebagai penjara atau tempat pembuangan), merawatnya dengan berkreativitas melestarikan kehidupan, mengembangkan keindahan, pemikiran, semangat, risalah, supaya semuanya terasa selalu baru, segar, harmonis serta dinamis, tidak monoton atau membosankan.

Allah memiliki kehendak dan kebebasan absolut, serta kesadaran dan kreativitas mutlak. Manusia ideal, sebagai pengemban amanah Allah, sejak lama telah dibentuk sebagai makhluk sempurna sesuai ketentuan-Nya, ia hasil kehendak mutlak Allah, dianugrahi dengan keindahan, kesalehan, kebijaksanaan. Dari sekian banyak makhluk di semesta alam, hanya manusia saja yang sanggup mencapai kemerdekaan, kesadaran, dan kreativitas—sekalipun semuanya ini nisbi. Allah SWT menciptakan manusia menurut “citra”-Nya sendiri [Allah telah berfirman, “jika kau mencari Aku, tandanya adalah dirimu sendiri”] dan manusia dilantik-Nya sebagai khalifah-Nya di muka bumi.

Manusia ideal memiliki tiga aspek: kebenaran, kebajikan, keindahan. Atau dalam ungkapan lain: pengetahuan, akhlak, dan seni. Fitrah dirinya adalah khalifah Allah. Ia hasil kehendak mutlak-Nya, dianugrahi dengan tiga dimensi utama: kesadaran, kemerdekaan, kreativitas.

Ia merupakan makhluk teomorfis yang telah diturunkan ke bumi. Dengan cinta, kasih sayang, ilmu pengetahuan, beserta segala potensialitas lain pada dirinya, ia sebagai khalifah diperkenankan “memimpin seraya memelihara” (baca: bukan menguasai, apalagi mengeksploitasi!) segenap makhluk di dunia; Allah memang telah menakdirkan semesta alam sujud kepadanya, semua malaikat pun ikut bersujud (kecuali Iblis).

Dia merupakan pembawa misi perubahan di dunia. Ibarat pemberontak besar atau seorang revolusioner sejati, ia berjuang sungguh-sungguh menghadapi setiap kezaliman, membela kebenaran, menebar kasih sayang dan perdamaian. Singkatnya, mengikuti jalan para Nabi dan Rasul. Dengan keistkomahan dan konsistensi, eksistensi hidupnya bagaikan lintasan mulus yang ia jalani sesuai kehendak Allah, sampai ia dapat mencapai tujuan akhir penciptaan—“diperkenankan Allah Swt merasakan kemanunggalan bersamaNya”. Maksud ia diturunkan dari alam surgawi ke padang dunia nan gersang ini, yaitu demikianlah: untuk bersama-sama berjuang mewujudkan kesejahteraan lahir-batin umat manusia segaris lurus dengan amanah dan kehendak Allah.

Dia, yang sekarang mengemban tugas sebagai khalifah Allah, berjalan tulus di jalur pengabdian yang tak mudah, seraya membawa pesan dan memikul amanah. Kini zaman memang telah tua. Ia, sebagaimana manusia-manusia lain, telah sampai pada periode akhir sejarah dan berada pada masa-masa terakhir alam semesta.

[Hari] kebangkitan akan segera dimulai; dan suatu proyek rahasia terbentang antara Allah, manusia, dan cinta, [mungkin] sebuah proyek untuk menciptakan kehidupan baru, untuk mengisahkan babak penciptaan baru. Allah Maha Pencipta.

*

Demikianlah, Allah telah menawarkan kepada langit, bumi, beserta gunung-gunung untuk mengemban amanah sebagai khalifah, akan tetapi, mereka semua menolak, tak sanggup. Hanya manusialah yang menerimanya.

*

Manusia. Itulah dia. Pada mulanya melanggar Allah:
sebelah tangannya terperdaya syaitan—akal bulus,
lainnya terpesona peluk jemari Hawa—cinta manusia.
Lalu ia pun memikul amanah berat di punggungnya;
ia [juga Hawa] diturunkan dari surga, tempat penuh nikmat.
Di dunia, asing sendiri, saling terpisah merasa sunyi.
Ia memang telah memberontak titah Ilahi, namun selalu rindu ’tuk kembali.
Dan kini, telah dipahaminya, ia tercipta sebagai khalifah, ’tuk belajar
melalui segala bentuk ibadah, bagaimana mencapai jalan keselamatan.
Dengan ketawakkalan, ia sampai pada kasih sayang,
usai melancarkan pemberontakan terhadap diri sendiri.
Sekarang dia dibebaskan dari kepedihan dan kecemasan;
ia yang sebelumnya lari dari Allah, menjalani
ujian seraya dibersihkan dalam perapian dunia ini—
hingga sadar, murni, istikomah.
Dan kini ia insyaf,
ia ada di jalan kembali menuju Allah,
Sahabat Sejati, yang dengan keagungan-Nya,
setia menemani, selalu memberi petunjuk serta harapan
‘tuk menuju kepada-Nya, larut menyatu bersama-Nya.

*

Catatan Kaki:
[*] Terjemah bebas “The Ideal Man—The Viceregent of God,” dalam kumpulan kuliah Ali Syari’ati, On the Sociology of Islam. Berkeley: Mizan Press, 1979, hlm. 121-125.

[1] Persoalan ini dijelaskan Syari’ati dalam tulisannya, “Anthropology: The Creation of Man and The Contradiction of God dan Iblis, or Spirit and Clay.” [pen.]

[2] Lebih lanjut, silakan baca salah satu tulisan Syari’ati, “Modern Man and His Prisons”, dalam Man and Islam. Iran: University of Mashhad Press, 1982. [pen.]

Penulis: Ali Syari’ati