"politics without principle, wealth without work, pleasure without conscience, knowledge without character, commerce without morality, science without humanity, worship without sacrifice." (Seven Social Sins, Mahatma Gandhi - 1925).
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

Hitam Putih

Dalam kehidupan ini, berbagai macam warna menghiasi kisah perjalanan makhluk Tuhan khususnya manusia. Ada hitam dan putih, baik dan buruk, atas dan bawah, rakyat dan pejabat, pahala dan dosa dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan itu memberikan simbol bahwa Tuhanlah yang maha kuasa untuk mengatur sesuai dengan kehendakNya. Tentu tak etis manakala kita memaksakan perbedaan menjadi persamaan karena hal itu mengurangi estetika kehidupan yang seharusnya dinikmati dan dijunjung bersama-sama.

Berapa banyak tindakan intoleransi terjadi di muka bumi ini alih-alih hanya ingin menciptakan persamaan atau menolak perbedaan. Mereka mengira bahwa persamaan itu indah dan damai, Kemudian apa arti kehidupan ini seandainya semua yang ada sama. Agama, gagasan, baju, negara, ideologi sama semua, tentu tak menarik lagi hidup ini bukan?

Suatu ketika, Ustadz Yusuf Mansyur memberikan ceramah agama di majlis taklim, dihadiri mayoritas oleh ibu-ibu dan bapak-bapak. Pengajian itu disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Ia memberikan nasihat kepada para perempuan terutama bagi mereka wanita karir. Menurutnya tak sepantasnya seorang wanita berkorban membuka aurat (tak berjilbab) demi sebuah pekerjaan menjadi teller di sebuah Bank dengan imbalan gaji 1,200.000,00, dari pada mereka bekerja dengan berkorban meninggalkan Syariat Islam, lebih baik duduk di rumah saja.” Demikian nasihat Ustad Yusuf Mansyur terhadap para wanita karir (teller), padahal ia tanpa mengetahui mengapa dan kenapa mereka bekerja, dan seberapa besar beban hidup untuk ditanggulanginya, mungkin saja suaminya telah tiada sehingga beban keluaga dipikul oleh seorang ibu, tentu hal itu tak terlintas manakala ia selalu mengedepankan etika tanpa memahami kronologis kehidupan seseorang di dunia ini.

Tentu kita akan mengatakan bahwa berjilbab bagi seorang wanita muslimah ialah mulia, meskipun demikian, tak seharusnya kita merendahan wanita yang tak berjilbab. Terkait dengan moralitas tergantung kepribadiannya masing-masing, bahkan tak sedikit dari wanita yang berjilbab, justru lebih memprihatinkan kondisi moralitasnya. Nah, ada hal-hal yang tak kita sadari kenapa mereka rela berkorban demi sebuah pekerjaan yang kadang-kadang bertolak belakang dari nilai-nilai Islami. Terkait soal gaji tentu sangat relatif bagi setiap orang. 

Saya sempat membaca tulisan budayawan Gunawan Muhammad, yang mengangkat kisah real seorang ibu (ditinggal suaminya) yang membanting tulang siang dan malam demi memberikan makan, biaya sekolah, beli baju, beli mainan untuk anak-anaknya dengan mengorbankan harga diri sebagai seorang pelacur. Semua itu ia rela lakukan demi anak-anaknya tercinta. Meskipun demikian, tentu tak mengurangi kita untuk menghargai pengorbanan ibu tersebut, bahkan ia ikhlas berlumuran dosa, demi sesuap nasi dan anak-anaknya agar tetap bisa meneruskan sekolahnya. Hemat saya, tentu tak etis manakala kita menghina dan merendahkan martabatnya, sementara kita tak bisa berbuat apapun untuk meringankan beban ibu tersebut.

Tak hanya fenomena di atas, kita yang selalu mengatakan termasuk golongan orang-orang yang beriman dan menjalankan syariat sesuai dengan ketentuanNya, namun dalam praktiknya tak sedikit dari kita justru merusak tatanan alam ini, misalnya dengan menebang hutan sembarangan, membuang sampah semaunya, membuat pencemaran udara dan air di sepanjang hari dll, sehingga mengakibatkan banjir, kebakaran, polusi udara/air dan bencana-bencana lainnya. Sungguh paradoks mengingat bencana-bencana itu adalah ulah manusia yang merasa berintelektual, beriman, beradap dan mempunyai harga diri. Sedangkan kita sering mengklaim kepada golongan ekslusif yang hidup di tengah hutan, tanpa pakaian kecuali menutupi alat vitalnya, primitif, aneh, bodoh, dungu dan tak menjalankan undang-undang atau syariat, namun dalam praktiknya mereka tak pernah menebang hutan, mencemari lingkungan, membakar hutan bahkan mereka yang selama ini menjaga lingkungan agar tetap hijau sehingga tak berpotensi terjadinya bencana alam. “Kata Tuhan bahwa kerusakan di muka bumi ini tak lain disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.” Nah, siapa lagi kalau bukan kita, orang yang mengaku beriman, intelektual dan modern.

Sebagi umat beragama, kita diwajibkan untuk menjalankan syariat sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Tuhanpun tidak akan memberikan ujian kepada makhlukNya di luar kapasitas dan kemampuan hamba-hambanya. Meskipun sholat, berjilbab, membaca kitab suci itu dianjurkan oleh Tuhan, namun tak etis seandainya kita memaksakan agar semua orang melaksanakan sesuai dengan perintah Tuhan. Sedangkan Tuhanpun tak pernah memaksakan kehendaknya, tentu semua itu mempunyai konsekuensinya masing-masing. Lantas, salahkah seorang Teller bank yang tak berjilbab, seorang ibu rela berlumuran dosa dengan bekerja siang dan malam demi sesuap nasi agar anak-anaknya bisa sekolah, dan golongan manusia primitif yang tak pernah menjalankan syariat Islam? Bukankah nanti akan ada seorang pelacur dan anjing yang akan masuk surga sesuai cerita dalam kitab suci? Pantaskah bagi orang yang merasa beriman namun selalu membuat ulah dimasukan ke Surga? Atau layakkah golongan manusia primitif yang selalu menjaga keseimbangan lingkungan dimasukkan ke Neraka?

Oleh: Muhammad Rosit

Aktivis Forum Studi M@KAR, kini menempuh studi Komunikasi di UI Salemba dan mengajar di UIN Jakarta untuk Ilmu Komunikasi Politik.

Homo Apelicus Erectus

Banyak yang histeris reaksionis bronkitis saat orang ini mati, entah apa yang menjadikannya begitu mempesona sehingga untuk ikut berduka dan kehilangan menjadikannya trendi. Sedangkan jutaan yang lain mati karena kelaparan, perang, ataupun oleh ketidakadilan yang tercipta oleh busuknya sistem, namun terlihat baik-baik saja dan wajar! Ironis. Saat ada yang meregang nyawa karena mogok makan untuk mempertahankan hidupnya, saat kombatan yang mati ditembak polisi karena gak rela tanahnya menjadi tambang, bahkan tetangga yang harus makan dari nasi aking menjadi terlalu "wajar" untuk dibawa ke ruang merakit citra ini. Satu mati jutaan menangis, jutaan mati tak ada yang menangis! Oh society, apple bless you all...

Introduksi pada Posmodernisme: Kisah Sebuah Apel dan Para Pemujanya

(~ dari diary PAM)

“Oh, pakai BB sekarang?”

“Iya. Pakai BB juga?”

“Oh, aku sih pake iPhone.”

Aku yang duduk di tengah-tengah antara kedua perempuan tersebut menggaruk leherku. Tak ada gatal apapun pada leherku, entah mengapa aku hanya kesal pada perempuan di samping kiriku. Perempuan seperti dirinya, yang tak memiliki aktivitas apapun selain kerja administratif di kantor menggunakan iPhone. Mungkin aku kesal karena ia yang mengatakan hal tersebut. Mungkin aku kesal karena sesaat sebelumnya ia membanggakan dirinya yang memiliki kamera tipe SLR merk Canon, sesuatu yang sama sekali tak dibutuhkan oleh dirinya yang tipe pembosan dan bergaya layaknya socialita posmodern urban lainnya. Mungkin aku kesal... entahlah, atau mungkin aku justru kasihan?

Jutaan rupiah dikeluarkan untuk bisa menggenggam iPhone di tangannya. Aku tidak paham untuk apa, saat apa yang ia lakukan tak lebih dari mengirimkan SMS, menelfon atau terkadang mengganti status di Facebook atau Twitter, setelah seharian di tempat kerjanya ia juga berhadap dengan komputer yang berjejaring melalui internet. Dan aku juga tahu benar, suaminya membanting tulang siang malam nyaris tanpa henti, demi mengais rejeki. Suaminya beberapa kali juga mengeluh padaku betapa ia hanya memiliki sedikit waktu untuk anak-anaknya karena ia harus bekerja keras. Dan dengan kenyataan seperti semua itu, perempuan ini masih dapat berbangga diri karena memiliki Canon SLR, iPhone... aku masih tak bisa paham.

***

Bulan Mei lalu, di kamar hotelku di Bayview, aku selalu melakukan sarapan sambil menonton televisi, mempelajari berita-berita dan laporan lokal tentang Hong Kong dan juga Cina lebih luasnya, dalam salah satu upayaku untuk dapat lebih mengenali negeri tersebut—selain berbincang langsung dengan orang-orang di jalanan tentu. Melalui siaran-siaran berita lokal, aku sadar bahwa ada satu dari beberapa berita yang selalu diulang-ulang dan tampaknya menjadi topik terhangat saat itu. Kawasan yang menjadi simbol keajaiban ekonomi Cina: Shenzhen, di mana Foxconn, sebuah pabrik raksasa di mana Apple diproduksi, diguncang tragedi. Dalam kurun waktu enam bulan, 11 kasus bunuh diri hadir bertubi-tubi di kalangan para pekerjanya. Setidaknya, rata-rata tiap bulan ada dua kasus.

Terry Gou, boss utama Foxconn, mengatakan bahwa hal tersebut adalah fenomena sosial yang seharusnya tak dilimpahkan bebannya hanya kepada Foxconn. Ia dengan segera mengadakan konferensi pers yang dihadiri lebih dari 200 media massa utama Cina sebelum segalanya menjadi bertambah buruk. Betapa tidak? Protes mulai hadir di sana-sini dari kalangan serikat pekerja yang mulai merembet ke tingkat internasional. Seruan boikot terhadap Apple bahkan telah mulai muncul walau masih samar pada peluncuran resmi iPad, yang jelas cukup membuat pihak Apple jengah dan menekan Foxconn. Gou, orang ketiga terkaya di Taiwan, hadir dikelilingi para pengawal bersenjata. Ia mengatakan, modernisasi memang mendorong orang untuk memeluk nilai-nilai baru. Mereka yang tak dapat beradaptasi, akan merasa depresi. Bunuh diri adalah fenomena sosial yang tak terelakkan, karenanya tidak layak apabila semua kesalahan ditimpakan pada Foxconn. Begitu ia berujar. Hanya dalam kurun waktu 24 jam setelah ia melakukan konferensi pers di pabriknya, dua orang pekerja lagi menyambut pernyataan Gou tersebut dengan melakukan aksi bunuh diri. Korban bertambah dalam sekejap menjadi 13.

Para sosiolog terkemuka di Cina menyatakan bahwa pabrik Foxconn memperlakukan para pekerjanya di luar batas. Tak memiliki pilihan lain yang mampu memberikan harapan, para pekerja memilih bunuh diri. 13 orang dalam satu tahun di satu tempat yang sama, bukanlah sesuatu yang wajar. Gou menampik, ia telah mempekerjakan 2000 orang tenaga psikiater dan bimbingan, ia juga membangun kolam renang dan arena rekreasi yang didisain khusus bagi para pekerjanya yang berjumlah sekitar 400.000 orang. Semua itu didisain untuk meringankan beban psikologis para pekerjanya. Menanggapi pernyataan tersebut, seperti yang diliput oleh sebuah harian nasional Cina, seorang pekerja berkata, “Bagaimana kami bisa berenang saat kami hanya diberi waktu 30 menit untuk makan siang, itu pun sudah termasuk waktu yang harus kami tempuh dari tempat kerja kami ke kafetaria dan juga waktu untuk mengantri? Saat kami juga harus meninggalkan tempat kerja begitu jam kerja usai dan kami begitu kelelahan?”

*****

“Aku abis 20 juta lebih buat dapetin iMac ini. Begitu nanti kamu datang lagi, di kantorku bakal ada iMac dong, lebih gampang ntar kalo kamu ngasihin file buat dicetak.”

Wajahnya tampak riang. Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Aku hanya tersenyum dan menanggapi pendek, “Lagi bagus ya usahamu?”

Ia masih tersenyum. “Enggak juga sih. Biasa aja. Aku nyicil kok tiap bulannya.”

“Emang komputer lamamu lagi bermasalah? Atau Macbook-mu ngadat?”

Ia masih juga tersenyum. “Enggak. Pengen aja.”

“Saya sih nggak pernah komplain dengan kualitas hasil cetakmu, atau juga cara kerjamu. Selama ini baik-baik aja. Kamu malah yang sering ngeluhin soal pendapatanmu yang nggak seberapa.”

Senyumnya mulai menipis. Ia menggaruk kepalanya yang pasti tidak gatal. “Iya sih.”

“Jadi ngapain kamu musti keluar duit begitu banyak, musti nyicil tiap bulan dari pendapatanmu yang katamu nggak seberapa, buat bisa majang iMac di kantormu?”

Sungguh. Aku tidak berniat kasar padanya. Aku hanya lelah setelah nyaris dalam dua bulan terakhir ini, Jackie, terus menerus membahas betapa ia membutuhkan iMac dengan layar lebar. Aku hanya lelah, karena ia tak pernah membahas padaku mengapa ia membutuhkannya, saat semua hasil kerjanya selama ini baik dan akurat. Aku hanya lelah, karena ia selalu mengeluh betapa pendapatannya tiap bulan tak seberapa. Saat aku melihat senyumnya memudar, entah dari mana asalnya, sebersit perasaan bersalah merambati hatiku.

“Maap, maap. Nggak niat gimana juga. Toh saya juga pakai iMac buat nyelesein kerjaan ini,” ujarku, berusaha membuatnya kembali riang dengan cara membandingkan kesamaannya dengan diriku. Tak ada poin apapun untuk membuatnya murung.

Mungkin malaikat menutup tirai bagiku saat itu. Aku terlalu lancang berkata-kata untuk orang yang setiap harinya dilalui dengan rutinitas yang membosankan, yang dalam hidupnya, barang baru adalah satu-satunya pengharapan dan pencerahan. Aku salah. Tapi tampaknya aku memang terlambat menyadari. Di hadapanku, Jackie terdiam dan menunduk. Senyum telah lenyap sama sekali dari wajahnya. Ia bergumam pelan.

“Nggak apa-apa. Iya juga sih, benernya ngapain ya aku keluar duit banyak gitu cuman karna yang itu merk-nya Mac.”

Tetap saja aku merasa bersalah. Macbook di pangkuankupun kubuka perlahan dan kunyalakan dalam suasana hati yang tak nyaman.

*****

Bulan Mei lalu pula, seorang teknisi Silicon Valley, Gizmodo, diserang oleh pihak Apple karena mempublikasikan melalui blognya deskripsi mengenai iPhone generasi ke-4, setelah ia menemukan perangkat tersebut di sebuah taman dalam sebuah pesta bir. Gizmodo mengembalikan iPhone tersebut pada pihak Apple, tapi pihak Apple tampaknya masih tak puas. Mereka masih mencari-cari cara untuk terus melancarkan perang. Empat hari kemudian, polisi menggerebek kediaman seorang reporter yang menanggapi tulisan Gizmodo, mempublikasikan melalui medianya dan membuat seluruh penggila gadget negeri tersebut beradu argumen teknis seputar iPhone tersebut.

Kasus Gizmodo, bukanlah satu-satunya skandal dan perang yang dilancarkan oleh Apple. Apple secara terbuka menyatakan permusuhannya dengan Google, Apple menuntut HTC, perusahaan Taiwan pemroduksi ponsel, menuduh HTC menggunakan pola produksi yang telah dimiliki hak patennya oleh Apple. Apple juga belum lama memecat salah satu teknisinya karena ia sekedar memperlihatkan iPad 3G pada Steve Wozniak, sang pendiri Apple sendiri. Dan perang terburuk terjadi dengan Adobe. Apple menolak program Adobe Flash diaplikasikan pada iPhone dan iPad, padahal Adobe Flash nyaris digunakan oleh mayoritas video di internet. Entah apa yang akan dikeluhkan pada pengguna iPhone dan iPad nanti dengan adanya sikap demikian. Tapi mungkin saja malah tak ada keluhan apa-apa. Mungkin saja. Mengapa tidak? Banyak orang yang kulihat dan kutemui di sekitar hidupku, menggunakan Apple, bukan karena fasilitas, kemampuan atau apapun yang ditawarkan oleh Apple, melainkan karena Apple adalah hip tersendiri.

*****

Tahun pertama aku bekerja di Jakarta ini, sang manager di tempatku bekerja adalah juga seorang penggila Apple. Setidaknya, ia sering membanding-bandingkan antara Apple dan PC, yang tentu saja dengan dibumbui kalimat-kalimat seperti, “Memang Apple ini keren ya?”. Boss kami berdua, yang dulu sering menghabiskan waktu bersama sang manager untuk berbagai urusan, juga membeli Macbook. Aku menebak, bahwa ia pasti membelinya lebih karena terpengaruh oleh puja-puji sang manager atas Apple. Aku sadar beberapa bulan setelahnya, bahwa boss-ku tersebut tidak terlalu paham mengenai hal-hal seputar gadget. Ia hanya butuh laptop untuk mengetik, menyusun jadwal, membaca dan mengirim e-mail dalam frekwensi yang intens. Tak lebih. Hal-hal yang kini mungkin ia sadar, sehingga ia memang menggantungkan dirinya pada Blackberry—karena semua yang ia butuhkan telah terpenuhi oleh gadget tersebut.

Tapi ada hal baik yang muncul dari dari kasus sang boss dan Apple: Macbook yang tak pernah ia sentuh itu ia serahkan padaku, untuk kubawa dan kugunakan manakala aku membutuhkannya. Sang boss juga menyerahkan iPod—yang tentu ia beli dulu akibat terpengaruh promosi sang manager—untuk kugunakan. Maka jadilah aku kini, hanya perlu tambahan iPhone atau iPad, lengkap tampil seperti seorang penggila Apple. Sayangnya, bagiku membawa-bawa laptop kemana aku pergi, adalah hal yang merepotkan. Aku juga lebih memilih menikmati suara-suara yang dihasilkan oleh suasana sekelilingku, baik itu di taman yang rindang, mall, kafe ataupun di tengah bisingnya Metromini, dibandingkan mendengarkan musik dari mp3 melalui earphone—aku hanya memasang mp3 kala aku di rumahku, kamar kost atau kala aku sedang bekerja. Satu-satunya hal yang kusukai dari menggunakan Apple adalah bahwa virus atau worm tidak mampu menggerogotinya—dan aku terlalu malas untuk mulai belajar menggunakan Linux.

Jackie pernah berkata padaku, bagaimana apabila kita menggunakan iMac, maka aktivitas berselancar di internet juga terbantu dengan maksimal. Aku bertanya padanya, apakah ia menggunakan Indosat 3GP yang seringkali kecepatannya turun, sebagai sumber koneksi internetnya? Ia hanya memberiku cengiran dan menggeleng. Secara tak langsung, ia menyatakan bahwa hal tersebut hanya berlaku apabila koneksi internet kita juga baik. Aku hanya bisa menghela nafas.

Di sekitarku, mayoritas para penggunanya, merasa dirinya rendah dan bukan siapa-siapa. Saat mereka menenteng produk tertentu dengan logo buah apel melekat di permukaannya, mereka merasa telah menjadi seseorang. Menyedihkan memang. Tapi rasanya tidak adil juga apabila aku lantas mempersalahkan atau menyudutkan mereka, setelah hidup mereka tak memberi arti apapun dan memiliki logo apel adalah salah satu penyelamatan mereka walau hanya sementara. Aku tidak lagi kesal pada mereka. Aku hanya merasa sedih...

Aku jadi teringat saat isteriku pernah berkata tentang sebuah status di Twitter yang menurutnya menarik. Status tersebut tertulis: “I like the time better when apple and blackberry were merely fruits.”

Mengapa fasisme telah menubuh sedemikian rupa dalam teknologi?

Dapatkah teknologi menghapus fasisme dalam tubuhnya sendiri? Kenapa semakin laku dibeli dan diminati, teknologi apa pun semakin fasis? Kenapa pula teknologi tidak netral? Di tangan siapakah teknologi akan netral? Apa di tangan balita dan anak TK? :)

Oleh Acha Ramadina Putri
Aktivis Forum Studi M@KAR yang juara Bassis di Kampus. Kini menetap di Jalan Pajajaran, Bogor.

Modus Kekerasan

Suara jangkrik terlibat dalam perbincangan malam itu. Cahaya bulan meremang menembus kaca jendela kontrakan. Hembusan angin malam mengelus tubuh kami, menambah mesra untuk saling bercerita. Kukira, sayup-sayup samar suara kami terdengar tetangga, kadang berbumbu gelak canda-tawa. Kami berkumpul seperti biasa, menceritakan pengalaman masing-masing.

Semuanya berawal dari keinginan temanku untuk menguasai ilmu kanuragan membuatnya harus berguru pada perguruan silat terlebih dahulu, sebut saja ilmu seni bela diri. Tepatnya, perguruan silat beraliran putih berdasarkan tirakat batin. Beragam rintangan, pantangan dan ujian harus dilewati dengan kesabaran dan penuh ikhlas.

 Di luar dugaan, ia bercerita hampir dua jam sendiri. Telak, bagi yang menyukai kisahnya mendengarkan penuh hikmat. Tetapi bagi yang tidak, mereka terhempas dalam rayuan tubuh yang juga butuh istirahat.

Di tengah-tengah redupan mata melihat, ia spontan memeragakan kemampuan menggerakkan benda-benda di sekitar. Tiba-tiba saja, tanpa disentuh, teko’ berisi air terangkat dan menuangkan isinya ke cangkir. Dan, cangkir itu bergerak perlahan seolah memperkenankanku untuk minum. Kami, benar-benar terkejut.

“Aku bersyukur kalau ada kebaikan datang tanpa harus menggoda atau tergoda perempuan,” tegasnya sembari menjelaskan kalau menggoda ataupun tergoda perempuan merupakan pantangan pokok baginya.

Bukan ilustrasi itu yang hendak kupaparkan di sini. Ia hanya dijadikan contoh untuk melihat bagaimana pengalaman mempelajari seni ilmu bela diri, tidak harus dengan kekerasan.

***

Ikhwal perilaku kekerasan yang terjadi belakangan ini, boleh jadi melahirkan pertanyaan berantai dalam pikiran kita. Adakah hubungannya antara kekerasan dengan mempertahankan diri, agresifitas atau kekerasan sebagai modus pengamanan terhadap kelangsungan hidup? Apakah pengalaman teman di atas bisa dikategorikan sebagai cara mempertahankan diri dengan cara yang berbeda untuk menjaga kelangsungan diri? Lantas, kenapa bela diri dan apa hubunganya dengan kekerasan?

Tindak kekerasan yang tampil secara langsung maupun tidak, setidaknya telah membuka mata kita, apa yang sebenarnya terjadi? apa penyebabnya? Ruwet memang. Namun bukan berarti berhenti dan hanya membuka mata, tanpa bertindak apa-apa. Tulisan ini akan berupaya membongkar, kekerasan sebagai modus eksistensi manusia yang tampil menunjukkan dirinya pada yang lain. Kalau dicari dan ditarik akarnya, semoga bisa mengidentifikasi potensi dan penanggulangannya. Apakah bisa? Mudah-mudahan.

Kekerasan Menyentuh Siapa Saja dan di Mana Saja

Tindak kekerasan bisa menyerang siapa saja, hadir di manapun. Tak terkecuali yang dianggap paling aman sekalipun. Bahkan, dalam kegembiraan dan kesenangan, kekerasan biasa dan senantiasa hadir. Individu maupun kelompok, dalam segala kegiatannya, terbuka untuk kekerasan.

Laki, perempuan, anak atau orang dewasa, tokoh atau orang biasa, sama saja. Ketika kekerasan terjadi, ada subjek dan ada objek yang dikenakan kekerasan. Lantas, bagaimana memahaminya? Apa yang menjadi sasarannya? Melalui pendekatan psikologi, dapat dimengerti bahwa kekerasan bisa timbul dari dalam diri manusia, atau bisa saja berada di luar, menyentuh kita. Menyentuh luar dalam kita.

Kekerasan berakar pada dorongan agresif, yang sadar atau tidak sadar, tersimpan dalam diri kita sebagai manusia yang harus bertahan hidup dalam lingkungan yang sepenuhnya tidak mungkin bebas dari ancaman. Demikian Fuad Hassan menjelaskan: Bagi manusia, kesungguhan bertahan hidup merupakan awal perkembangannya untuk mendewasakan diri. Mempertahankan (survival) adalah prasyarat yang mendahului eksistensi manusiawi.

Perjuangan mempertahankan diri dalam pengertian teori evolusi, bukan sekadar berlangsung untuk bertahan hidup. Perjuangan manusia, tidak sepenuhnya terjerat pada kondisi alamiah dan tuntutan biologis semata, namun juga berlaku bagi tiap mahluk hidup lain.

Dalam keterjeratan, reaksi yang terjadi masih sangat berpola sederhana, terhadap kenyataan di sekitar yang umumnya berupa mendekati atau menghindari. Kedua pola reaksi tersebut, bisa berupa pengalaman senang atau sakit (pleasure or pain). Tentu dengan tingkat intensitas yang beragam.

Kenyataan yang terjadi, bisa dilihat sebagai bentuk mengancam dan terhadap sesuatu ancaman reaksi mahluk hidup berupa berkelahi atau melarikan diri; keduanya terjadi untuk bertahan hidup. Berkelahi, dianggap sebagai sumber ancaman, dapat ditumpas dan dilumpuhkan dengan melarikan diri, maka ancaman berupa tindak kekerasan dapat dihindari.

Yang membedakan antara manusia dengan makhluk hidup lain adalah karena ia tidak selamanya berada dalam jeratan kenyataan dan ketidaknyataan seperti ingatan-ingatan atau khayalan. Dalam perkembangan menuju penyempurnaan, manusia melampaui tahapan kehidupan yang serba naluri. Dan nurani mengarahkan manusia pada pelestarikan keberlangsungan hidup. Ini sejalan dengan kesanggupan untuk memerdekakan diri dari ikatan-ikatan.

Kemampuan mentransendenkan diri manusia sebagai bentuk pengendalian dorongan agresif adalah penjelmaan nalurinya untuk meyalurkan agresifitasnya lewat beragam cara serta dalam batas-batas yang masih ditolerir oleh citarasa masyarakat.

Naluri terejawantah dalam perilaku agresif tidak begitu saja dapat dihilangkan, namun bisa dikendalikan. Oleh karena itu, perilaku agresif tidak bisa ditindas sepenuhnya. Manusia tidak saja tumbuh secara fisiologis, tapi juga berkembang di tingkat kejiwaan. Yang diamati, tidak hanya pertumbuhan fisiologisnya saja, melainkan juga perkembangan yang terjadi pada jiwa.

Perkembangan jiwa akan mendukung manusia dalam kesiapannya menjadi pribadi yang khas dan unik. Untuk menjadi dewasa, manusia mengaktualisikan dirinya sebagai pribadi di masyarakat, berwujud ikhtiar untuk tetap maju dan bertahan sebagai pribadi dengan identitasnya sendiri. Ciri pribadi dewasa, adalah kesungguhannya untuk senantiasa berkembang mekar hingga sanggup menunjukkan isyarat kemandiriannya.

Dorongan agresif menjelma menjadi tindakan kekerasan, tetapi tidak semua penjelmaan dorongan agresif tampil sebagai tindakan berciri kekerasan. Berbeda dengan penjelmaan naluri hewani, manusia dewasa sanggup meyalurkan dorongan nalurinya melalui perilaku dan tindakan di masyarakat. Bahkan lebih dari itu, kehadiran naluri diupayakan tersalur melalui perilaku dan tindakan yang bagi diriya sendiri dapat diterima. Dalam menyalurkan nalurinya, manusia dibatasi oleh rambu-rambu.

Rambu-rambu tersebut bisa berupa hubungan antara manusia dengan kenyataan eksternalnya, maupun manusia dengan keberadaan diri dengan kenyataan internalnya seperti nurani sebagai suara batin diri sendiri.

***

Manusia yang dilanda kehampaan spiritual, sungguh memprihatinkan. Kemajuan positivisme ilmu pengetahuan dan teknologi sejak abad Pencerahan di Eropa, belum sanggup memenuhi kebutuhan fundamental manusia dalam aspek nilai transendental, suatu kebutuhan vital yang hanya bisa didapat dan bersumber dari nilai-nilai mutlak yang harus diamalkan.

Sedangkan, apa yang bisa diperoleh manusia tanpa mentransendenkan dirinya? Hanya berupa jurang-jurang dan batas-batas nisbi. Mungkin, salah satu penyebab kedangkalan manusia mentransendenkan dirinya adalah ilmu pengetahuan yang kehilangan visi sesungguhnya, yakni visi memanusiakan manusia. Jelas, caranya bukan dengan jalan agresi kekerasan, menegasikan yang lain, penjajahan atau sejenisnya.

Perhatian yang utama baik terhadap lingkungan maupun diri sendiri dalam relasinya membuka jalan bagi kelangsungan kehidupan bersama. Manusia sebagai mahluk pembawa obor pengetahuan, namun justru tampak sebagai pencipta kerusakan.

Jaman yang dianggap maju, modern dan menghargai peradaban justru tampil sebagai sangkar besi terhadap indahnya kehidupan yang rukun dan damai. Kesadaran pribadi; bahwa pentingnya keterbukaan dan pengendalian diri merupakan cara menjaga keharmonisan kehidupan. Keberlangsungan kehidupan, tergantung bagaimana manusianya. Memang, banyak faktor yang menyebabkan tindakan kekerasan hadir dalam kehidupan, tapi banyak juga cara menyelesaikan persoalan tersebut.

Dominasi kekerasan yang kerap dialami manusia menyebabkan hilangnya kepekaan terhadap kekerasan. Sungguh mencemaskan sekaligus menggemaskan, ketika media massa, baik cetak maupun elektronik mempertontonkan adegan kekerasan. Social learning terjadi. Bagaimana dampak psikologi penonton yang belum cukup siap baik mental maupun usia? Seperti anak-anak, apakah harus didampingi terus menerus ketika asyik menonton TV?

Dengan dalih kebebasan pers bisa dijadikan legitimasi untuk mengulang-ulang bahasa kekerasan. Tentu media massa juga dilihat sebagai industri yang juga harus menghidupi pekerja-pekerjanya. Sebagaimana industri pada umumnya, juga dilihat mencari keuntungan dan kehormatan sebesar-besarnya; hingga mungkin lupa bahwa telah melakukan eksploitasi publik dengan bahasa kekerasan yang lain. Maaf kalau penulis keliru menilai (salah membongkar).

Lantas, bagaimana cara praktis untuk mengidentifikasi kekerasan, kemudian memperkirakan potensi-potensi yang diakibatkannya. Kepentingan dunia bukanlah kepentingan individu atau kelompok tertentu saja. Individu dalam kepentingan ruang publik yang kita alami sebagai warga dan yang hanya bisa diperoleh dengan berbuat melebihi kepentingan kita.

Sebagai warga, kita memiliki ruang publik, tetapi, kepentingan adalah milik ruang publik, milik ruang yang kita huni bersama “tanpa memilikinya,” milik ruang yang melebihi batasan jangka hidup dan tujuan pribadi kita yang terbatas.

Hannah Arendt mengilustrasikan kepentingan publik, ia melihat kegiatan manusia sebagai warga sebagai juri. Sebagai juri, kita berpegang pada kepentingan kebenaran permainan serta kejujuran publik. Itu bukanlah kepentingan pribadi kita, maupun kepentingan pribadi yang merasa tercerahkan, melainkan kepentingan komunitas politik yang mengatur beragam persoalan dengan dasar aturan dan prosedur konstitusional.

Kepentingan publik berwujud berupa konstitusi untuk mengatasi kepentingan pribadi kita sebagai individu. Secara etis, kejujuran dan imparsialitas adalah tuntutan warga harus ditegakkan.

Kembali untuk Kembali

TIDAK BIASA, ada juga kekhawatiran tidak bisa-tapi memang perlu mencoba. Begitulah pengalaman temanku ketika mempelajari ilmu bela diri. Sepuluh tahun melawan hasrat membunuh apapun, mengendalikan diri dan tidak makan dalam tiga hari hanya untuk mengukuhkan kesaktiannya. Makan saja tidak, apalagi merokok atau ngopi yang manjadi kegemarannya. Tampak menyedihkan rasanya.

Namun alhasil, sekarang ia sanggup menguasai apa yang menjadi mimpinya dulu. Kini bukan lagi angan, tapi pertanyaan-pertanyaan telah terjawab. Prasangka tidak sanggup atau cemas pada kegagalan, terbukti dikalahkan oleh kekuatan tekad.

Bukankah, menjaga diri berarti menjaga kehidupan? Spirit pembebasan, bukan untuk meniadakan yang lain, dimulai dengan melawan kuasa diri yang meracuni diri lain dan kehidupan. Walau tindakan yang dilakukan sekadar berupa amalan, menyebut kata-kata Agung nan Suci, sekadar kata, bukan Wujud sebenarnya, kini mengisi dada.

Namun merasakan dampaknya seakan hadir sebagai pusaka. Kata temanku, “kata-kata telah mengendalikan kita.” Bersemayam menguasai diri. Seni ilmu bela diri hanya upaya membela diri untuk melawan diri. Benda pusaka yang dulu menjadi bagian dari mimpi, kini menjadi miliknya di hati sahaja. Tidak untuk melawan mahluk hidup lain. Bahkan nyamuk, semut, kecoa sekalipun, pantang dilenyapkan.

Sesuatu yang besar, harus dari yang kecil-kecil. Mulanya, kita hanya membayangkan betapa hebatnya kakak bisa membaca, kemudian kita belajar melafal huruf demi huruf, kata demi kata, kata dirangkai menjadi kalimat, kalimat dirangkai menjadi paragraf, antarparagraf disatupadukan berupa pengertian khusus. Hingga membawa pesan dan makna. Sampai-sampai kita bisa membaca dan menggoreskan arti dan makna, berupa makna kehidupan, melalui lembaran kitab kenyataan.

Senin, 24 Oktober 2011

“Occupy Wall Street” Movement

Kita mungkin masih ingat ketika sebagian masyarakat golongan kaya Amerika Serikat menyadari kesalahan mereka dalam praktik ekonomi mereka di Amerika Serikat. Dengan banyaknya keuntungan yang mereka dapat dari usaha atau perusahaan korporasi, entah datang darimana, kesadaran itu muncul dari diri mereka untuk memberikan kembali apa yang telah mereka dapatkan dari bisnis mereka. Krisis ekonomi dan degradasi kualitas hidup rakyat Amerika di pelbagai sektor menambah internal conflict dalam diri mereka untuk melakukan sesuatu yang positip bagi negara mereka.

Kebijakan Obama dengan menaikkan jumlah pajak bagi mereka yang berpenghasilan tinggi memang menimbulkan pro dan kontra. Uniknya, dulu, ketika kebijakan yang sama muncul, lebih banyak kontra yang mayoritas muncul dari kalangan elit Amerika. Akan tetapi, pro terhadap kebijakan ini ternyata mendapat dukungan dari sebagian para pengusaha elit. Kelompok ini menamakan diri mereka dengan sebutan Patriotic Millionaires dengan slogan mereka “put our country ahead of politics” (kedepankan kepentingan bangsa daripada politik). Kebijakan yang diberi nama Buffet Rules mendapat dukungan sekitar 73% rakyat Amerika menurut sebuah hasil survei. Di sisi lain, ada juga konglomerlat yang berkeberatan dengan kebijakan tersebut dan berencana untuk dan ada yang sudah memindahkan bisnis ke regional yang memiliki aturan pajak yang lebih ringan.

Masih terekam juga dalam memori kita mengenai gerakan Tea Party di Amerika; sebuah gerakan populis yang ditengarai sebagai sebuah gerakan yang menentang kenaikan pajak. Gerakan yang didominasi kalangan tua dan konservatip ini mendapat sambutan yang cukup kuat di Amerika Serikat. Namun, sangat disayangkan sifat gerakan “populis” Tea Party yang mereka dengungkan pada akhirnya hanya menjadi bagian dari koalisi Partai Republik. Perbedaan signifikan gerakan ini dengan gerakan pendudukan Wall Street terletak di ranah ideologi.

Tea Party dapat diketegorikan sebagai gerakan konservatip, libertarian, cenderung rasis, anglosentris, elitis dan condong fanatik terhadap agama tertentu. Sedangkan Occupy Wall Street masuk dalam kategori kiri cenderung bervisikan paham anarcho; sebuah gerakan dengan pola kepemimpinan komunal. Akan tetapi, gerakan terakhir menganggap gerakan mereka bukanlah bagian dari ideologi manapun karena klaim yang didengungkan merupakan gerakan populis-anarcho; sebuah gerakan kesadaran dan pencerahan dengan tujuan perbaikan atas sistem yang gagal dan memposisikan diri mereka bukan sebagai bagian dari Republik maupun Demokrat.

Fenomena ini akibat dari semakin menurunnya citra pemeritah; kampanye perang melawan terorisme yang terlalu membabi buta yang tidak hanya menyedot devisa negara tapi juga membengkaknya hutang negara; sebesar $14 triliun. Rakyat Amerika pun akhirnya sadar, jauh paska tragedi 911, kampanye anti terorisme hanyalah sebuah strategi belaka perburuan energi dan akumulasi capital dalam industri militer. Di tambah lagi, kegagalan dalam menangani bank-bank bermasalah yang berujung pada krisis keuangan di tahun 2008 membuat muak rakyat Amerika.

Berdasarkan beberapa sumber, Adbusters yang memberikan seruan pertama di pertengahan Juli, dan juga memproduksi poster seksi seorang balerina berdiri di atas seekor patung Kerbau dan polisi anti huru-hara sebagai latar belakangnya. Adbuster adalah sebuah organisasi non profit, anti-konsumeris, pro-lingkungan yang didirikan di tahun 1989 oleh Kalle Lasn dan Bill Schmalz di Vancouver, British Columbia, Canada. Lembaga ini merupakan sekumpulan jaringan seniman dunia, aktivis, penulis, mahasiswa, pendidik/guru, entrepreneur yang menginginkan kemajuan gerakan aktivis sosial baru di era informasi.

Perencanaan dan implementasi gerakan pendudukan Wall Street melibatkan banyak figur dan pihak. Salah satunya adalah Alexa O’Brien, seorang ahli strategi kreasi IT berbasis utama di internet yang melakukan banyak kerja-kerja lapangan di awal dan tweeting. Lebih banyak lagi figur tanpa nama (anonymous) yang bergabung di akhir Agustus. Di New York, sebagian besar perencanaan dilakukan oleh orang-orang yang terlibat di Rapat Umum Kota New York meliputi sekumpulan aktivis, artis, dan pelajar/mahasiswa yang pertama kali dipertemukan oleh kawan-kawan yang selama ini terlibat dalam Gerakan New Yorker Melawan Pemotongan Anggaran (New Yorkers against Budget Cuts). Dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu orang atau satu kelompok saja yang menjalankan Pendudukan Wall Street.

Gerakan Pendudukan Wall Street bertujuan untuk memaksa otoritas untuk memberikan konsensus seperti yang terjadi di Spanyol, Yunani dan Mesir dan tidak ada yang mengetahui secara pasti berapa orang yang akan terlibat dalam aksi ini atau bagaimana segala sesuatunya akan berubah. Akan tetapi, para demonstran berkeyakinan jika mereka bersatu, ada potensi untuk mentransformasikan proses politik yang korup yang gandrung akan keuntungan materi belaka dengan proses politik masyarakat berbasis kebutuhan manusia.

Siapa yang menyangka setahun lalu rakyat Tunisia dan rakyat Mesir akan menggulingkan pemerintah diktator di sana? Di Plaza Liberty, dataran rendah Manhattan, ribuan orang berkumpul tiap hari untuk berdebat, berdiskusi dan mengorganisir apa yang harus dilakukan terhadap sistem gagal yang membiarkan 400 orang berada dalam tampuk piramida masyarakat sedangkan 180 juta sisanya berada di level bawah strata sosial. Suatu hal yang fenomenal melihat perayaan demokrasi seperti ini dapat merubah arah suatu kebiasaan pandangan politik dan media kepada Kepolisian Kota New York yang menerjunkan ratusan petugas kepolisian untuk mengurung dan mengintimidasi demontran damai dan dapat seenaknya menangkap mereka.

Meskipun hingga sampai beberapa waktu, mereka belum menangkap seorangpun karena menyerang atau menangkap kerumunan masa damai yang berkumpul di tempat umum dan meneriakkan demokrasi ekonomi sejati, bukan demokrasi politik an sich akan mengangkat kembali derita lama sejarah para otokrat arab yang secara brutal memperlakukan rakyat yang menginginkan keadilan, sebelum mereka luluh lantah pada momentum Arab Spring. Munculnya fakta kekerasan sudah berimbas balik kepada pemerintah setelah polisi menyerang parade hari Sabtu di Plaza Liberty dan menyebabkan semakin membludaknya kerumunan masa dan bertambahnya ketertarikan media.

Rapat Umum NYC benar-benar sangat jelas dengan tujuan; tidak dengan mengajukan berkas UU atau memulai revolusi, akan tetapi lebih pada membangun suatu jenis pergerakan baru. Pendudukan ini diharapkan dapat membangkitkan rapat-rapat umum serupa di seluruh kota dan di seluruh dunia yang akan menjadi basis baru bagi pengorganisasian politik melawan pengaruh luar biasa uang korporasi. Pendudukan Wall Street telah berhasil mengungkap bagaimana koorporasi, para politisi, media masa, dan polisi gagal memberikan hal positip bagi kemanusiaan. Para pemimpin di Amerika Serikat hanya mampu memberikan harapan akan menaikkan pajak yang tinggi bagi mereka yang notabene hanya satu potong kue kecil dari penghasilan mereka tiap tahunnya.

Gerakan yang dimulai bulan lalu oleh segelintir pemuda dengan mendirikan tenda di depan Bursa Efek New York, telah meluas menjadi gerakan berskala nasional. Sebuah gerakan lintas batas yang melibatkan beberapa aktivis, mahasiswa, serikat pekerja, dan buruh yang dipecat dari perusahaan. Aksi ini juga menyebar ke Philadelphia, Salt Lake City, Los Angeles, dan Anchorage, Alaska.

Para demonstran kecewa dengan mengkritik kurang ngototnya Presiden Obama, Obama dianggap gagal menindak bank-bank setelah krisis hipotek tahun 2008 yang menyebabkab krisis keuangan. Para aktivis menyatakan frustrasi mereka yang mendalam atas kebuntuan politik Washington yang didominasi Demokrat. Sebagian lain menyalahkan Republik karena memblokade reformasi yang ingin dilakukan Obama. Para demontran menganggap tidak ada perbedaan antara George Bush dan Barack Obama, mereka memandang kondisi kelas menengah jauh, sekarang ini, lebih buruk daripada saat Obama terpilih. Para demonstran beranggap bahwa sistem di Amerika Serikat sudah rusak. Lebih dari 25 juta penduduk menganggur; lebih dari 50 juta hidup tanpa asuransi kesehatan; kemungkinan besar juga 100 juta berada dalam kategori miskin.

Mereka beranggapan seluruh bagian hidup mereka, mulai dari sistem kesehatan, pendidikan dan pekerjaan mereka hanya menambah kerakusan dan nafsu makan para kapitalis. Hal inilah yang menyebabkan semakin banyak orang bergabung dengan gerakan ini. Mereka yang berkeluh kesah kehilangan rumah mereka, menganggur tidak ada pekerjaan, gaji yang mencekik leher, membekaknya hutang demi sebuah cita cita mendapatkan pendidikan yang ideal dan hidup dalam kondisi kesehatan di bawah standar. Ini adalah fakta dan potret generasi Amerika yang dipaksa percaya kepada sistem yang mengkhianati mereka dan memaksa mereka melakukan rapat umum di wilayah publik Manhattan.

Rapat Umum telah menjadi badan pembuat keputusan de facto bagi pendudukan di Plaza Liberty, hanya beberapa blok ke utara Wall Street. Rapat Umum merupakan suatu sistem berdasarkan modifikasi konsensus yang horizontal, otonom, tanpa pemimpin, yang berakar dari pemikiran anarkis, dan ia serupa dengan berbagai rapat-rapat umum yang telah mendorong pergerakan sosial belakangan ini di seluruh dunia, di tempat-tempat seperti Argentina, Tahrir Square Mesir, Puerta del Sol Madrid, dll.

Berjuang untuk suatu konsensus memang benar-benar sangat sulit, membuat frustasi, dan sangat lambat. Tapi rakyat yang melakukan pendudukan terlihat sabar dalam melakukan perjuangannya. Seringkali mereka akhirnya baru dapat tiba pada konsensus terhadap beberapa isu, setelah berhari-hari mencoba dan perasaan dan semangat  yang muncul setelah itu rasanya luar biasa. Energi luar biasa selalu memenuhi plaza menyelimuti ratusan orang yang penuh semangat, berjiwa pemberontak, orang-orang yang kreatif, yang semuanya menuju satu kata; perubahan sosial.

Pada mulanya, seruan awal Adbusters bertemakan  “Apakah tuntutan kita?” Secara teknis, ketika itu, belum ada tuntutan apapun. Di minggu-minggu menuju 17 September, Rapat Umum Kota New York tampaknya mentransformasikan arah gerakan mereka dari ranah “tuntutan,” berdasarkan kondisi lembaga-lembaga pemerintah yang telah begitu dicekoki dengan uang korporasi sehingga membuat tuntutan-tuntutan spesifik menjadi tidak signifikan dan menunggu sampai pergerakan tumbuh menjadi lebih kuat secara politik. Malahan, untuk memulainya, mereka memilih membuat tuntutan menjadi pendudukan itu sendiri—walhasil, peseta demokrasi langsung terjadi di sana yang hasilnya bisa jadi, atau tidak, berupa tuntutan yang spesifik di kemudian hari.

Tindakan ini sebenarnya juga suatu pernyataan sikap yang kuat melawan korupsi, dimana Wall Street sebagai perwujudannya. Namun karena pemikiran yang muncul seringkali terlalu masif akibat banyaknya pertanyaan dari media massa Amerika mengenai tuntutan, terkadang membuat situasi gamang dan cair. Saat ini, Rapat Umum sedang menentukan bagaimana dapat melahirkan konsensus mengenai penyatuan tuntutan walaupun pemersatuan tuntutan dari gerakan ini sangat sukar untuk dilakukan. Akan tetapi, dialektika yang terjadi seperti diskusi intensip menarik untuk dicermati apalagi jika artikulasi dari gerakan ini mengarah pada ranah politik, entah menyatu dengan mainstream yang ada ataupun mendirikan kendaraan politik tersendiri.

Paska ajakaan awal Adbusters, diperkirakan sekitar 20.000 orang membanjiri Distrik Keuangan pada 17 September. Sepersepuluh dari angka yang disebut, diperkirakan hadir di sana. Kekuatan social network yang masif ‘menggempur’ media sosial, organisasi progresif tradisional, seperti serikat buruh dan kelompok-kelompok cinta damai, dan individu-individu yang merasa tidak nyaman dengan kondisi kehidupan mereka pun ikut terlibat dalam aksi tersebut. Memang banyak tantangan yang terjadi pada minggu-minggu pertama, namun, dengan penahanan yang terjadi hampir setiap hari, membuat wajah-wajah baru terus berdatangan, sementara mereka yang terjaring aparat dapat waktu untuk istirahat. Peliputan media setelah penahanan massal pada Sabtu 24 September kemudian serangan polisi, dan kemungkinan karena brutalitas polisi membuat lebih banyak orang datang.

Menurut seorang  profesor sejarah Universitas Georgetown dan penulis American Dreamers, Sejarah Sayap Kiri. Obama sebetulnya bisa mengambil sikap tegas, jauh lebih populis, agresif di awal melawan "bonus-bonus" Wall Street, menuntut perubahan tertentu dengan membantu bank. Akan tetapi dia tidak melakukannya yang berujung pada kondisi ekonomi yang belum juga membaik dan menggarisbawahi rasa frustrasi baik dari kalangan kanan dan kiri.”

Menarik untuk diperhatikan bahwa gerakan ini didukung oleh Partai Demokrat di sana. Ini bukan suatu hal luar biasa melihat kuatnya genggaman lobby Israel di Kongres yang selalu merongrong dengan lobbyist mereka untuk menggolkan kepentingan-kepentingan mereka di Amerika maupun global. Secara umum, masyarakat Amerika menyalahkan administratip sebelumnya; George W Bush, karena telah banyak merugikan rakyat Amerika demi perburuan energi yang membabi buta serta skandal likuiditas perusahaan investasi yang menguras habis devisa dan dana reserve mereka. Di situasi yang mencekik leher seperti ini, gerakan Demokrat untuk pendudukan Wall Street adalah suatu tindakan politik strategis tidak hanya untuk sekedar mencari nafas dari beragam persoalan yang mereka hadapai sekarang. Akan tetapi juga sebagai, tindakan kick back dengan mengkambing hitamkan partai Republik secara tidak langsung. Akan tetapi mereka, tidak peduli dengan dukungan dari pihak manapun yang masih bernoda dan beraroma mainstream lama.

Melihat kondisi bangsa Indonsesia dengan sistem kleptokrasinya sangat yang sudah sangat menggurita ini, mungkinkah gerakan serupa bisa terwujud di sini? apakah kita harus menunggu sampai negara kita mendapat label negara gagal di kancah global? apakah wacana pembentukan pemerintahan tandingan merupakan pra kondisi menuju kesana? atau, teringat dengan ucapan seorang sahabat, apakah kita harus menunggu "shopping nasional" datang dulu? bukankah kita sudah muak dengan proses politik korup dan praktik korupsi yang "gila-gilaan?." Apakaha harus ada Adbuster  a la Indonesia?
Wallahu a'lam,

Kp. Utan, Oktober 2011.


Oleh: M. Kholis Hamdy

Botol Kosong Berijazah

“Kamu harus sekolah, supaya pintar, … dan jadi orang.” Kata-kata ini kerap terloncat dari orang tua-orang tua kita untuk mendorong agar kita mau sekolah. Seakan-akan kalau tidak sekolah, kita tak akan jadi orang.

Pendidikan formal agaknya merupakan bentuk pendidikan yang paling diinginkan oleh orang tua yang “waras” dewasa ini. Bagaimana tidak? Hanya dengan pendidikan formallah “masa depan”  si anak cukup bisa dipastikan. Lewat pendidikan formal si anak diharapkan bisa memasuki pasar tenaga kerja di sektor industrial masyarakat modern. Tersibak kemungkinan dia bisa menjadi dokter, perawat, dosen, tukang insinyur, hakim, jaksa, tentara, pilot, polisi, sekretaris, dan buruh. Dan, itulah makna kata-kata orang tua kita ketika menyebut kata ‘jadi orang’.

Kapan tepatnya permulaan masa yang bisa dilacak sebagai era formalisasi pendidikan berlangsung di Indonesia? Pertanyaan di atas agaknya akan menemukan jawabnya pada masa ketika penjajahan Belanda mulai mencengkeramkan kukunya di jagad nusantara ini. Ada perbedaan mendasar dalam filosofi pendidikan yang diintrodusir penjajah Belanda dengan filosofi pendidikan yang berkembang sebelumnya. Pada masa-masa sebelumnya, dunia pendidikan Indonesia tradisional lebih berkisar pada spektrum spiritual (keagamaan) yang bersumber baik dari agama lokal maupun agama-agama besar seperti Hindu, Budha, maupun Islam.

Jadi, tujuan utamanya lebih mengarah pada usaha memenuhi kebutuhan adanya generasi penerus yang siap mengambil peran-peran sosial kemasyarakatan dalam konteks budaya tradisional masyarakat yang agraris. Sementara itu, pendidikan modern yang diintrodusir penjajah Belanda lebih berlingkung di spektrum material yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan memenuhi pasar kerja sektor industrial modern pasca agraris. Meminjam Oom Weber, ranah pendidikan diupayakan membentuk subjek yang sesuai dengan kondisi masyarakat gesellschaft, sebagai ganti gemeinschaft. Di zaman Belanda (sampai kini), dunia pendidikan modern ini tercermin pada adanya pabrik-pabrik, perkebunan, kantor-kantor komersial dan administrasi pemerintahan. Nampak di sini bahwa filosofi dunia pendidikan bergeser dari semula memenuhi kebutuhan masyarakat menjadi mengisi kebutuhan penguasa, yakni mencetak tenaga terampil (profesional) untuk tujuan-tujuan pembangunan ekonomi industrial. Seiring dengan ini kultur yang bernama modernitas pun ditahbiskan.

Sebagai penandanya yang terpenting dibikinlah penanda formal yang menyatakan tingkat pendidikan yang diperoleh si peserta didik. Penanda formal ini terdapat pada secarik kertas yang menulis-absahkan tingkat pendidikan si pemegang kertas tersebut; itulah yang disebut dengan ijazah atau diploma. Ijazah ini dikeluarkan oleh lembaga sekolah yang resmi atau paling tidak diakui oleh pemerintah. Makna diakui ini boleh dibaca sebagai sah untuk mengisi peran-peran yang dibutuhkan oleh birokrasi pemerintahan. Era ‘pengijazahan’ inilah yang bisa dilihat sebagai masa formalisasi pendidikan.

Sampai saat ini, di Indonesia, dalam konteks negara dunia ketiga, ijazah sarjana masih dianggap memiliki nilai penghargaan sosial tinggi. Ada privilese dan kewibawaan di dalamnya. Memang, ijazah sarjana masih tetap dianggap sebagai sesuatu yang hebat, agung. Seakan-akan orang yang kuliah adalah manusia besar di antara sekian manusia. Pendidikan tinggi ini memiliki aura kehormatan yang diagungkan. Dengan alasan berpendidikan tinggi orang bisa menduduki jabatan-jabatan sosial yang berpengaruh di masyarakat. Bahkan meskipun tak memegang jabatan apa pun orang bisa saja dihormati hanya karena gelarnya semata.

Tetapi, meski pendidikan tinggi memiliki prestise sosial, ironisnya seringkali si “tukang sarjana” memiliki mentalitas yang kasarnya tak berbeda dengan mentalitas pekerja pabrik. Fungsi sosial yang sering dibangga-banggakan sebagai ‘agent of social change’, ‘man of analysis’, dll., hanyalah hiasan bibir semata. Keberadaannya tak ubahnya seperti bidak catur, baut bagi mesin besar dalam sistem raksasa kapitalisme.

Inilah memang, ruwet dan repotnya berbicara tentang dunia pendidikan. Ternyata, dari sejak awal brojol-nya modernitas, dunia pendidikan dikonstruk untuk melayani kebutuhan modernitas sendiri. Modernitas yang bersetubuh dengan kolonialisme, industrialisme, dan kapitalisme. Tak pelak, konstruksi dunia pendidikan yang berkembang pun sarat dengan ideologi-ideologi Barat ini. Apalagi ditambah kenyataan arus global transnasionalisasi pendidikan yang membuncah ke mana-mana. Dalam era kapitalisme global yang tak terbendung kini betapa dunia pendidikan Indonesia kian tersungkur dan ringkih dalam menghidupi masyarakatnya. Beberapa kejadian terakhir semacam pengesahan UU Sisdiknas dan jalur khusus masuk kampus unggulan menjadi indikasi kuat tentang gamang dan goyahnya dunia pendidikan kita. Di tengah derasnya proses arus transnasional pendidikan, para elit politik masih bersibuk ria dengan perdebatan tentang identitas keagamaan guru dalam pengajaran agama, dengan para pendukung yang beradu jotos di jalanan.

Kenyataan ini menunjukkan betapa carut-marutnya dunia pendidikan Indonesia. Carut-marut yang beroperasi baik padasoftware maupun hardware-nya. Pada level software, perundang-undangan tentang pendidikan yang sarat warna pertarungan politik-ideologis, hardware-nya tak memiliki visi pendidikan yang memihak dan mencerdaskan rakyat kecil. Pada ujungnya, pendidikan hanya menjadi proyek profit-oriented bagi kapitalis besar maupun kecil (baca: kabir, kapitalis birokrat). Muncul proyek untuk pengadaan buku-buku ajar yang seragam, proyek pengadaan seragam, penyeragaman sepatu nasional, dll. yang tujuannya proyek untuk mengisi kantong-kantong sendiri. Memang, di sini nampak kurang ajarnya kapitalisme. Ia merasuk ke mana-mana. Pendidikan yang dirasukinya, jelas tak bakalan menciptakan sistem yang menguntungkan bagi subjek. Sebaliknya, justru subjek itu dikeruk uangnya, didiamkan otaknya, dibodohkan nalarnya, diseragamkan pola pikirnya, dibikin patuh bak prajurit, dijahit bibirnya, dan dihadiahi gelar yang membuat terlena. Program NKK/BKK yang dilancarkan Daoed Joesoef cukup memiliki “dosa asal” juga di sini.

Ironisnya, perhatian terhadap dunia pendidikan kita yang carut-marut ini tak pernah fokus. Misalnya, pemerintah yang menyatakan niatnya untuk mengalokasikan 20 persen dari budjet negara kepada pendidikan tak mendekati kenyataan. Alokasi dana pendidikan hanya sekitar 2,8 persen pada tahun 1998 dan tidak lebih dari 5 persen pada budjet negara tahun 2000. Tak perlu heran, kalau ternyata peringkat kualitas pendidikan Indonesia hanya 109 (dari 174 negara), menurut UNICEF (2000).

Sementara dunia pendidikan terintegrasi ke dalam pasar bebas akibat dicabutnya subsidi oleh negara, fenomena ketidakberdayaan ekonomi masyarakat menggantung di sudut lain. Pendidikan semakin naik ke atas angin, sementara mata pencaharian semakin terpelesak. Kapitalisme pendidikan berhadapan dengan krisis ekonomi masyarakat. Di tengah-tengahnya terjepitlah mahasiswa yang hanya menjadi objek eksploitasi karena ia dianggap sebagai kantong uang yang bisa dikeruk oleh kabir pendidikan. Selain itu juga menciptakan diskriminasi karena penciptaan jurang antara mahasiswa yang menempuh jalur khusus dan jalur konvensional.

Sampai titik ini, tak sedikit pihak yang mengutuk kenyataan dunia pendidikan kita yang acak-adul ini. Sampai-sampai ada yang mempertanyakan mengapa sistem pendidikan kita harus diorganisasi negara sedemikian rupa. Pada awalnya, tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi individu. Pendidikan diorganisir sebagai mekanisme pembangun kapasitas untuk memastikan, memberdayakan, dan memfasilitasi kemajuan individu berkaitan dengan budaya, etika dan kebaikan umum. Namun, dalam perspektif lain, yang lantas menjadi sangat kuat dan dominan, pemahaman bahwa pendidikan merupakan pelatihan persiapan untuk memasuki pasar kerja dan memenuhi kebutuhan pasar tersebut. Inilah akibat langsung dari cara baru pengorganisasian masyarakat, yang niscaya dituntut oleh ekonomi politik globalisasi modern dewasa ini. Pendidikan hanya menjadi komoditas; dijual dan diperdagangkan secara bebas.

Meminjam ilustrasi Paulo Freire, pendidikan yang dirasuki kapitalisme hanyalah menciptakan pendidikan gaya bank. Relasi yang dibangun adalah subjek-objek, penindas-tertindas, majikan-bawahan, tuan-budak. Kesadaran ontologisnya dikonstruk dalam pola mengada adalah memiliki, khas kesadaran penindas. Memiliki berarti menguasai. Lebih jauh, konstruksi kesadaran yang terbentuk hanya kesadaran penindas atau menjadi tertindas. Para peserta didik hanya menjadi sasaran dalam kehidupan. Kesadarannya adalah kesadaran yang mengalami dehumanisasi. Ia tak pernah dijadikan subjek. Ia tak pernah jadi pelaku. Ia tak pernah diarahkan menjadi manusia (human), sebaliknya kemanusiaannya tergerus terus menerus. Sisanya boleh jadi hanyalah seonggok benda.

Para peserta didik diumpamakan sebagai botol kosong yang hanya bisa menerima dan  menerima. Konsep pendidikan gaya bank mengkondisikan guru sebagai makhluk segala tahu. Ketika guru berbicara, murid duduk patuh mendengarkan. Ketika guru mengajar, murid tunduk diajar; guru berpikir, murid dipikirkan; guru bercerita, murid pendengar setia yang patuh; guru menentukan peraturan, murid diatur; guru memilih dan memaksakan pilihan, murid harus setuju; guru berbuat, murid membayangkan berbuat sama; guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid hanya patuh mengikuti; guru mencampuradukkan otoritas ilmu dan jabatan, murid dibatasi jadi bebek angonan. Murid tak pernah dilibatkan dalam dialektika keilmuan. Begitu terus menerus sampai si murid lulus dan dikasih ijazah. Tak pelak kultur pendidikan semacam ini menciptakan manusia-manusia yang kemudian bermental konsumeris, miskin mental produsen. Pelayan bagi produksi massal industri pendidikan. Kapitalisme pendidikan hanya memunculkan botol-botol kosong yang berijazah. Atau kalau pun ada isinya, hanya semata hasil dari pompaan seperti layaknya bensin yang disalurkan ke tangkinya.

Realitas dunia pendidikan yang centang perenang merupakan hasil dari aktivitas kebudayaan yang beroperasi baik pada level pikiran maupun tindakan. Namun, yang menjadi karakter utama dari aktivitas kebudayaan ini adalah prakteknya yang dilakukan sehari-hari. Dengan praktek sehari-hari, suatu tindakan tertentu yang dilakukan berulang-ulang tapi rutin, akan menjadicommon sense. Pada titik ini, pelan namun pasti dikaitkan dengan konteks pendidikan, budaya pendidikan yang menjadi ranah konstruksi politik-ideologis rezim, menjadi terbentuk. Tak heran, meminjam Barthes, tokoh semiotika post-strukturalis, kehidupan sehari-hari tidak lain adalah kehidupan yang sarat dengan tindakan-tindakan ideologis.

Pendidikan Indonesia masih jauh dari upaya memanusiakan manusia. Yang terjadi hanyalah memposisikan manusia sebagai benda, bukan makhluk yang berpikir. Inilah fenomena kapitalisme yang menerpa dunia pendidikan.

Namun demikian, mungkinkah meretas jalan keluar? Freire yang merupakan salah satu kritikus paling berpengaruh terhadap fenomena kapitalisme pendidikan ini dikenal sebagai ikon pendidikan pembebasan. Freire mempertautkan konsep pendidikannya dengan revolusi. Baginya dibutuhkan pendidikan revolusi yang berkualitas sebagai aksi kebudayaan yang pada gilirannya menjadi revolusi kebudayaan. Freire sangat menekankan posisi kebudayaan sebagai faktor yang menentukan. Dengan mengubah pola pendidikan dari kebudayaan yang antidialogis menjadi kebudayaan dialogis diharapkan akan terjadi perubahan pada level kebudayaan pendidikan.

Saat ini, fakta kultural pendidikan diwarnai kebudayaan antidialogis yang merupakan unsur dasar pembentuk kapitalisme pendidikan. Namun, di sini juga dunia pendidikan ini sebagai faktor kultural bisa diubah dengan “revolusi kebudayaan”. Terma terakhir ini mengambil masyarakat secara total untuk direkonstruksi, termasuk semua aktivitas manusia, sebagai objek aksi konstruksi ulang. Masyarakat tidak dapat direkonstruksi secara mekanistis, ia dibentuk lewat aksi kultural. Kebudayaan yang diciptakan kembali secara-kebudayaan melalui revolusi inilah sarana dasar bagi rekonstruksi ini. Hal ini mesti terlaksana secara konkret dalam level praktek sehari-hari. Konkretnya adalah dengan tindakan dialogis yang meliputi kerjasama, persatuan, organisasi dan sintesa kebudayaan. [RB]


Data-data:
- Ilustrasi dari R. Sutomo dalam Polemik Kebudayaan. Jurnal ini memuat artikel polemik dari kalangan yang bergiat dalam bidang pendidikan di masa kolonial antara pertengahan tahun 30-an sampai pertengahan tahun 40-an.
“Anak-anak dari sekolah desa tercerai dari anak-anak sekolah standaard, sedang anak-anak dari sekolahan HIS atau ELS sudah merasa dirinya lebih tinggi daripada anak-anak lainnya.
[…] Orang akan heran bahwa mereka yang disebut pertama itu biasa memasuki semua lapangan pekerjaan, bisa menduduki pekerjaan-pekerjaan yang seakan-akan bersifat merdeka, sedang angan-angan anak-anak kita zaman sekarang hanyalah akan mencari pemburuhan, kebanyakan.” (Kebijakan Kebud Di Masa Orba (KK DMOB), h. 55)
 - Pendidikan tradisional yang berbeda dengan pendidikan modern yang diintrodusir penjajah Belanda (KKDMOB, h. 188)
 - Ariel Heryanto, “Globalisasi: dari Buruh sampai Mahaguru”, Tempo, 6 Juli 2003
 - Yanuar Nugroho, “Indonesia’s education system faces disaster,” The Jakarta Post, Friday, July 4, 2003.
 - Benny Susetyo, “Eksploitasi, Diskriminasi dan Komersialisasi Pendidikan,” Kompas Cyber Media, Jumat, 27 Juni 2003.
 - Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, LP3ES, Jak, 2000, Cet. 3.
Tulisan ini dimuat di dalam Diaspora edis gua lupa deh, pokoknya ada.