"politics without principle, wealth without work, pleasure without conscience, knowledge without character, commerce without morality, science without humanity, worship without sacrifice." (Seven Social Sins, Mahatma Gandhi - 1925).
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2013

Lurah Santri


“Brag...brag..” suara pintu kobong tersebut memecah kesunyian disaat sang fajar tengah bersiap melintasi dusun Pungangan. Tidak ada yang istimewa di pagi buta tersebut  karena seperti hari-hari sebelumnya, aktivitas shalat subuh berjamaah di mushola yang kemudian dilanjutkan dengan mengaji sorogan kitab kuning di ponpes Al-karimiyyah berjalan roda sistem yang mengitari lembaga tersebut.

“Wah... sendal gua mana nih?” pertanyaan tersebut hampir terdengar setiap hari, tentu saja suara tersebut  keluar dari mulut santri yang berbeda. Rupanya selalu saja ada salah satu santri yang keluar dari mushola Al-Mukhtar dengan memakai sendal seketemunya dan kemudian ter-sistemkan sehingga teman-temannya yang lain pun memakai sendal yang ada di hadapannya.

Hari itu adalah hari minggu, para santri pun berleha-leha sejenak karena di hari tersebut mereka tidak perlu berangkat ke MI, MTs dan MA Al-Huda, tempat mereka menjalani pendidikan formal.

“Bangun!Bangun!” teriak Muslim yang membawa “tongkat sakti” yang ia dapatkan ketika disuruh mencari kayu bakar ke kebun kyai. Ia adalah santri senior yang belakang diketahui menjadi seorang “incumbent” lurah santri.

“Iya, Kang...,” hampir bersamaan para santri yang sedang tiduran menjawab.

“Sekarang ayo kita bersihkan aula!” lanjut Muslim memerintah.

“Siap, Kang....” semua santri menjawab.

***

“Alhamdulillah, sekarang aula sudah bersih. Ayo semuanya mandi, sejam lagi pesta demokrasi di pondok kita akan segara dilaksanakan,” ujar Muslim sambil melangkah menuju kobongnya. Satu jam kemudian, semua santri pun berkumpul di aula, tidak ada yang mewah dalam acara pesta demokrasi tingkat pesantren.

Al-Karimiyyah tersebut, tidak ada spanduk atau baliho yang memasang poto para kandidat. Tidak ada tim sukses yang berjualan visi misi para calon. Bahkan tidak ada serangan fajar yang semestinya dilakukan tadi pagi. Semua berjalan dengan sederhana.

Setelah Kyai memberikan sambutan, pesta demokrasi pun siap untuk dilaksanakan. Namun sebelumnya dijaring pemilihan bakal calon, dan nama-nama yang muncul adalah Sodik, Dedi, dan tentu saja Muslim. lurah santri “incumbent”.

Ketiga calon lurah tersebut kemudian dipersilahkan memberikan sambutannya, atau istilah kerennya, dibeberkan visi misinya jika nanti terplih menjadi lurah santri.

Pertama adalah Sodik, siswa kelas 2 MA maju dengan memakai seragam santri yang menurut prediksi Deki, teman sekobongnya, sepertinya seragam tersebut belum dicuci selama satu minggu, karena Deki tidak mencium aroma wangi dan selalu melihat pakian tersebut tergantung di pintu kobong.

“Jika saya terpilih menjadi lurah santri, saya akan menghapus senioritas, semuanya sama, saya dan teman-teman disini dalam pandangan saya sama, tidak ada yang berbeda” demikan kurang lebih inti

“Kampanye” Sodik. Tepuk tangan hadirin pun bergemuruh disertai dengan teriakan “Hidup Sodik! hidup Sodik!”

Selanjutnya Dedi, siswa kelas 3 MA yang terlihat perfectionis, memakai pakaian seragam yang wangi dan sudah disiapkan sejak hari kemarin, menurut Mustakim, teman sekampungnya, Kakaknya Dedi adalah seorang pemimpin mahasiswa di kampusnya di Jakarta sana.

“Jika saya terpilih menjadi pemimpin kalian semua disini, yang paling pertama sekali akan saya lakukan adalah mengganti istilah lurah dengan presiden. Jadi tidak ada lagi istilah lurah santri di sini, yang ada adalah presiden santri, kenapa? karena jabatan lurah itu adalah kecil, bahkan paling kecil sebelum RW dan RT. Lihat di lembaga pendidikan di sana. Lihat! Tidak ada istilah gubernur, bupati, camat, apalagi lurah. Tidak ada! Yang ada adalah Presiden...” demikian pidato Dedi yang cukup menggebu-gebu tersebut.

Terakhir adalah Muslim, teman sebangku Dedi di sekolah, sekali lagi (mungkin BUKAN untuk yang terakhir kalinya) dia adalah “incumbent” lurah santri. Semua santri sudah mengetahui bahwa orang tua muslim adalah sahabat karib pak kyai.

“Jika saya kembali terpilih menjadi lurah santri disini, saya tidak akan menghapus senioritas, karena hal ini penting untuk menjaga kedisiplinan kita semua, kemudian saya akan tetap memakai istilah lurah, karena hal ini sebagai bentuk tabarukkan kepada para pendahulu-pendahulu kita semua yang pernah mondok disini dan sekaligus menjaga tradisi kepesantrenan.

”Rupanya “kampanye” Muslim hanya sebatas itu, ia melupakan kampanye yang ia siapkan sejak tadi malam. Muslim hanya ingin menyampaikan ketidaksepakatnnya atas rencana-rencana “rival politiknya”,

Prosesi pemilihan pun dilaksanakan, dan Muslim berhasil meraup suara cukup luar biasa, yakni 89 suara yang kemudian di susul Sodik dengan 10 suara dan dedi yang hanya mendapat 2 suara.

Akhirnya“incumbent” lurah santri tersebut memegang jabatan untuk yang kedua kalinya, berbeda dengan “incumbent” pada jabatan publik lainnya, incumbent yang satu ini tidak melakukan intervensi kepada “rakyat”nya juga tidak menggunakan kas lembaga untuk kepentingannya demi mempertahankan jabatan yang dipegangnya.

Muhammad Ais Luthfi Kariem, Sekretaris Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pungangan, Patok Beusi, Subang. guru MTs/MA Terpadu Darul Ikhlas, Subang, Jawa Barat. Lulusan Universitas Islam Negeri Jakarta, aktif di Forum Studi MaKAR.

Kamis, 20 Oktober 2011

Tikus, Kodok, dan Kucing

Ada kesedihan mendalam jika aku pulang menjelang pagi. Jalanan kota ini adalah arena pembantaian. Bangkai-bangkai tikus bergelimpangan. Tubuhnya ringsek. Ususnya jebol. Moncongnya penyok. Kakinya penggal. Bulunya beterbangan. Nyawa melayang tak jelas nyangkut dimana. Aspal jadi kubur tanpa nisan. Tanpa bunga tertabur. Sonder peziarah.

Sebentar lagi, ribuan ban kembali menggilasnya, tanpa secuil pun belas kasihan. Pergi begitu saja bagai pesawat tempur.

Makhluk pengerat masyhur ini ternyata tak paham seninya nyeberang, mengukur laju kendaraan, dan kecepatan dirinya melintas.

Bagitu pula dengan kodok. Makhluk yang meloncat-loncat ini tak jauh beda nasibnya. Maksud hati hendak nyebrang, apa daya ban menggilasnya. Sretttt… hancur luluh tubuh korodoknya. Gepeng, pengsret dan tak sempat sekarat.

Keduanya mati tanpa dikebumikan sebagaimana mestinya. Tak ada tangis, ucapan bela sungkawa, bendera kuning di gang, upacara khidmat pemakaman, apalagi tahlilan. Dia mengering, jadi abu di jalanan.

Berbeda dengan kucing. Dia lebih beruntung karena mitos. Fatwanya demikian, jika kita menabrak kucing, segeralah kebumikan dengan wajar. Malah ada yang berbunyi demikian, kebumikan dengan kapan baju kesayangan supaya terhindar sial.

Meski mitos sering dihajar banyak orang. Tapi kadang menguntungkan, setidaknya bagi kucing.

2011

Oleh: Abdullah Alawi
Aktivis Forum Studi M@KAR yang sastrawan, menempuh studi Tafsir Hadist, kini bekerja sebagai jurnalis di www.nu.or.id.