"politics without principle, wealth without work, pleasure without conscience, knowledge without character, commerce without morality, science without humanity, worship without sacrifice." (Seven Social Sins, Mahatma Gandhi - 1925).
Tampilkan postingan dengan label Langkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Langkah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2013

Kompetisi: Bukan Sekadar Menang Kalah

Kehidupan adalah sebuah roda yang terus bergulir. Rangkaian waktu yang terus berkesinambungan. Di dalamnya terdapat kompetisi-kompetisi yang secara bergantian ikut serta mengiringinya. Terkadang secara langsung kita memang berada dalam kompetisi, seperti perlombaan. Terkadang juga kita tidak sadar bahwa selama ini setiap hari, secara tidak langsung kita terus berkompetisi.

Mengejar mimpi agar esok semakin baik bukankah termasuk kompetisi yang harus terus diupayakan?

Minggu ini kesibukanku penuh dengan kompetisi yang amat sangat. Secara profesional aku harus bisa mengelola dengan amat baik, secara personal juga demikian. Memang tidak mudah, terkadang diselimuti dengan derai air mata #Lebay hehehe

 Anandaku mengikuti banyak latihan untuk persiapan menghadapi lomba di sebuah sekolah swastar terkenal di Jakarta Selatan. Kebetulan ada sekolah swasta lain yang mengajak untuk latihan gabungan Futsal. Meskipun jauh dari sekolah kami (di daerah Tebet sementara sekolah kami di daerah Lebak Bulus) namun, kami memutuskan untuk tetap menerima tawaran tersebut. Selain untuk menambah pengalaman, juga dalam rangka persiapan tuk menghadapi lomba.

Saat perjalanan menuju ke lokasi, ananda sudah mulai berkata “waaah... kapan sampainya yaa..? dan aku cuma berkata “memang kan lokasinya jauh, jadi kita harus bagaimana?” Kata mereka “harus sabarrrrrrrr” aku hanya senyum-senyum simpul.

Akhirnya kami sampai juga. Ananda melakukan pemanasan kecil kemudian menyiapkan diri. Pelatih membriefing sebentar kemudian mulailah permainan tim pertama.

Tim pertama kami memulai dengan gol yang sangat indah. Tendangan sudut ananda Ravi menciptakan sebuah gol. Kamipun bersorak-sorak kegirangan. Kemudian apa yang terjadi....??? gol demi gol menghiasi gawang kami, sehingga kedudukan berakhir 2-4.

2 untuk tim kami dan 4 untuk tim lawan.

Kemudian bergantian, tim kami yang kedua mulai bermain. Tim yang pertama beristirahat, ada ananda yang terlihat murung sehingga tiba-tiba bilang “bu, aku pusing!” tapi ada juga yang nyantai aja. Yah itulah ananda, mereka mengekspresikan kekalahan dengan cara yang beraneka ragam.

Saat  tim kedua bermain, kami tetap memberi dukungan. Daan ternyata hasil tim kedua 7-2. Hmmm.... 7 untuk tim lawan dan 2 untuk tim kami. Hihihihi..

Setelah selesai permainan, antar tim saling bersalaman dan melempar senyum. Sebagai kenang-kenangan kami berfoto bersama.. “ayo semua siap yaa... Cis kacang buuuuunnnn....” kata mereka “ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiis” hehehe

Setelah berfoto, ananda kami kumpulkan sebentar untuk membahas permainan tadi..

Kemudian aku berkata “Menang atau kalah adalah....??? ananda melanjutkan  “hal yang. Biasaaaaaa!!!” yang penting kita bermain dengan senang!!

Setelah itu kami yel yel bersama. Menyebutkan nama sekolah kami. Kemudian kami pun pulang dengan riang gembira.

Sepanjang perjalanan pulang, ananda tidak terlihat kesal ataupun murung, malah mereka bermain-main, bercanda-canda daaaaaan bahkan ada yang inisiatif untuk solat Asar di mobil.. hehehe luar biasa!! Akhirnya kami bertayamum dan solat ashar di mobil. Untuk membunuh waktu karena macet, mereka terus bermain, seperti tidak merasa capai, bahkan kekalahan tadipun sudah terlupakan (mereka sama sekali tidak membahas itu selama perjalanan pulang).

Mereka mulai memahami bahwa setiap kompetisi memang ada yang menang dan ada yang kalah. Itu adalah hal yang biasa. Namun, yang paling penting mereka sudah bermain dengan riang, berupaya keras, tidak menyerah dan yang terpenting bermain sportif saat perlombaan.

Akhirnya, moment hari itu semoga membawa pengalaman bermakna bagi mereka. Agar kelak saat dewasa, jika nanti mengikuti perlombaan bola atau perlombaan yang lainnya kemudian mengalami kekalahan, tidak bersikap kecil hati dan melakukan tindakan anarki bahkan curang terhadap lawan. Tidak seperti yang sering terjadi saat ini, perlombaan bola dihujani kartu kuning atau merah karena para pemain saling melukai dengan cara-cara yang kasar. Bahkan penontonpun ikut memperkeruh keadaan dengan saling melempar batu atau benda yang lainnya. Akhirnya tak jarang sebuah perlombaan harus dihentikan bahkan ditunda.

Kompetisi bukanlah hanya sekedar menang atau kalau, namun lebih dari itu. Menerima hasil yang terbaik setelah berupaya keras, kemudian berbesar hati jika hasil tidak sesuai dengan yang diharapkan dan juga tidak patah semangat untuk terus berlatih. Hal tersebut adalah nilai-nilai yang harus terus ditanamkan sejak dini. Karena anak, adalah masa depan kita. Masa depan bangsa kita tercinta. Semoga nilai-nilai tersebut terus tertanam hingga mereka besar nanti. Amin.

Isma Bonita Sari, mengajar di sekolah Gemala Ananda, semasa kuliah aktif di Forum Studi MaKAR

Sabtu, 29 Oktober 2011

Tentang Amal


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, amal diartikan: 1. Perbuatan (baik atau buruk) => ia dihormati orang karena amalnya yang baik, bukan karena kedudukan atau kekayaannya. 2. Perbuatan baik yang mendatangkan pahala (menurut ajaran agama Islam) => berbuat amal kepada fakir miskin; salat adalah amal ibadat manusia kepada Allah. 3. Yang dilakukan dengan tujuan untuk berbuat kebaikan terhadap masyarakat atau sesama manusia (memberi derma, mengumpulkan dana untuk korban bencana alam, penyandang cacat, orang jompo, anak yatim piatu, dsb) => membuka dompet amal = mengumpulkan sumbangan melalui surat kabar untuk menyumbang korban banjir dsb.; penjualan prangko amal; penyelenggaraan pertunjukan amal dst. 
Meski saya pribadi tidak termasuk orang yang suka mengikatkan diri dengan pembakuan kamus dalam memakanai setiap kata, namun tetap mempertimbangkannya sebagai rujukan terutama yang berkaitan dengan lokalitas seperti pemaknaan kata amal dalam kosa kata Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa Arab ini. Dan karena saya juga bukan seorang ahli dalam bidang linguistik, maka saya pun hanya memaknainya sebatas rasa dan perasaan saya yang merupakan endapan dari beragam realitas yang saya hadapi dan selami. Tentu saja hal ini juga sangat dipengaruhi oleh apa-apa yang telah saya baca dan pelajari sebelumnya.

Ya, pada suatu masa dalam periode kehidupan saya, hampir saja saya berputusasa dalam artian yang sesungguhnya. Pada saat itu, amal jenis apa pun yang saya lakukan, saya merasa tidak akan lagi ada gunanya. Lalu saya pun bertemu dengan Syaikh ‘Athaillah Sakandariy yang mengupas panjang lebar tentang amal ini dalam kitabnya Al-Tanwiyr fiy isqathi al-tadbiyr, yang—sebagaimana terjemahan harfiah judulnya—kemudian saya jadikan  panduan atau penerang dalam berusaha. Kitab ini pulalah yang kemudian mendorong saya untuk memberanikan diri mengakrabi kitab Al-Hikam, opus magnum beliau.
Dan aforisma pembukanya yang berbunyi:

من علامات الإعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزل. 

Pun langsung saya maknai sebagai: Tanda bagi seseorang yang kelewat subyektif (berlebihan dalam mengekspektasi segala yang telah diperbuatnya), adalah berkurangnya pengharapan terhadap realitas obyektif yang harus dihadapinya saat ia merasa tidak sinkron. (Halaman 1)

Pemaknaan saya yang semacam itu, saya lakukan karena saya membaca aforisma beliau selanjutnya yang berbunyi:

مما يدلك على وجود قهره سبحانه أن حجبك عنه مماليس بموجود معه.  

Satu hal yang bisa memberimu pemahaman akan adanya sifat Pemaksa ( القهار ) bagi Allah adalah: Dia menghalangimu dari-Nya, dengan keberadaan sesuatu yang sesungguhnya tak pernah ada. (Halaman 21)

Dan diteruskan dengan:

متى فتح لك باب الفهم فى المنع عاد المنع عينِِ العطاء.  

Ketika Dia telah membukakan pintu pemahaman kepadamu akan arti sebuah ketercegahan, (biasanya, ketercegahan ini kita maknai sebagai kegagalan yang menyedihkan), maka (saat itu pula, setelah kita mampu mawasdiri dalam melakukan evaluasi terhadap ikhtiar kita secara holistik), kegagalan (atau istilah motivator; sukses yang tertunda) itu, hakekatnya adalah wujud anugerah  Allah (yang sesuai untuk kita pada masanya). (Halaman: 96)

Dari sinilah kemudian saya berusaha memberikan apresiasi secara positif terhadap mereka  yang memandang realitas obyektif dengan kacamata ala Darwin atau Richard Dawkins di abad ini. Dan apa yang mereka sebut sebagai saintis skriptural, atau yang mereka cibir dengan sebutan  junk science pun saya amini dengan istilah pseudo religious atau spiritualitas semu. Yaitu orang-orang yang berusaha memandang realitas obyektif dengan cara mencocok-cocokkan berbagai doktrin yang tertulis dalam kitab suci dan yang semacamnya dengan cara ilmiah (scientific).

Mengapa demikian? Karena science sejatinya lahir bukan dari kegiatan mengkaji kitab suci apa pun, melainkan dari berbagai percobaan yang dilakukan tanpa mengenal lelah dari beragam observasi atas segala fenomena alam yang telah diinstal oleh Tuhan dengan sedemikian rupa sebagai software. Sementara kitab-kitab suci sesungguhnya disusun hanya berdasarkan oleh suatu bentuk kepercayaan atau iman terhadap keberadaan sesuatu yang adikodrati seperti Sang Pencipta alam semesta ini secara absolute dan tidak memerlukan bukti-bukti empiris sebagai pembenar (tashdiq) atasnya.

Husnudhan saya terhadap orang-orang atheis di atas, secara langsung atau tidak langsung ternyata telah melahirkan kemuakan pada hipokritas kaum beragama. Dan saya tidak merasa perlu untuk menyesalinya, tepatnya bersyukur, karena kenyataan itu justru membukakan pintu ketertarikan bagi saya terhadap kejujuran Ki Ageng Suryomentaram. Seorang bangsawan Jawa yang anti feodalitas, dan tak sampai tergoda menjadi sok ilmiah dalam menyampaikan ajaran-ajarannya, padahal beliau adalah sahabat dekat Ki Hajar Dewantara yang kemudian kita kenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Dari sinilah kemudian lahir himmah saya untuk mwujudkan Manusia Kuasa, Kuasa Manusia yang tidak hanya sebatas wacana. Karena itu, jika pun nantinya Manusia Kuasa, Kuasa Manusia jadi diterbitkan dalam bentuk buku, itu semata-mata kami lakukan agar para sahabat juga berperan aktif dengan memberikan masukan yang konstruktif untuk memperkaya khazanah kita di masa mendatang.

Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getotet..!
Tuhan telah mati! Tuhan terus mati! Kita telah membunuhnya..!

Ungkapan Friedrich Nietzsche, seorang filsuf kelahiran 5 Oktober 1844 dari Röcken Jerman yang sempat dianggap gila pada masanya itu, yang kemudian memimpikan manusia luhur yang ia sebut sebagai Ubermensch karena telah berhasil “melucuti” kekuasaan Tuhan atasnya dan menjadikan dirinya berkuasa, menurut saya adalah cita-cita mulia yang hingga kini masih membutuhkan keseriusan langkah para penempuh untuk mewujudkannya.

Salam…

Bintaro, 27 Febriari 2011


Rabu, 26 Oktober 2011

Anak, Masa Depan Kita

Jika anak lahir tanpa membawa apapun, tentunya hal tersebut tidak terlalu tepat. Anak lahir membawa emosi-emosi dasar yang ia miliki.

Saat bayi, anak sudah memiliki rasa senang, misalnya ia tertawa saat orang di sekitar menggodanya. Bayi juga sudah memiliki rasa sedih, marah, kesal. Saat ada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman, seperti saat ia lapar, haus, popoknya basah, dan sebagainya.

Hal tersebut tentu adalah emosi yang dimiliki sejak lahir (given). Namun, apakah saat sang bayi tumbuh menjadi anak kecil kemudian ia hanya memiliki emosi-emosi itu saja?

Tentu tidak, sebagai orang dewasa yang berada di sekitar anak kecil, secara tidak langsung mempunyai tanggung jawab membantu mereka menemukan emosi-emosi positif, sehingga emosi anak perlu terus dikembangkan dalam kehidupannya.

Apakah anak bisa berkata "maaf aku salah" atau "terima kasih ya, sudah membantu," dengan sendirinya?

Tentu tidak, mereka akan meniru orang dewasa di sekitarnya. Hal tersebutlah yang terlewat dari pendidikan kita.

Saat kita sebagai murid, kita kurang mendapat kepekaan sisi-sisi kemanusiaan sebagai manusia. Kita menjadi murid pasif, tidak bisa bertindak apapun. Semua dominasi guru. Perkembangan sosialisasi jadi  terhambat. Di sekolah tidak menemukan ruang pemaknaan, pendidikan jadi terasa hampa. Semua senantiasa hal-hal kaku, monoton. Hadir ke sekolah, duduk, diam, catat, main, pulang.



Bebaskan Anak Bermain

Saat bermain, anak justru belajar banyak. Perhatikan saat mereka bermain. Sesekali ada benturan antarmereka. Misalnya rebutan mainan, tidak mau bergantian, berkata kasar. Hal-hal tersebut akan menjadi pembelajaran bermakna bagi anak saat orang dewasa sekitarnya mampu membimbing mereka memecahkan masalah. Kita perlu ingat, membimbing bukan membantu. Membimbing adalah sebuah cara dimana orang dewasa hanya berperan sebagai fasilitator yang mencoba memahami masalah anak.

Bagaimana kita bisa pahami masalah anak? Tentunya dengan mengajukan pertanyaan. Bukan dengan memberikan pernyataan. Misalnya, anak rebutan mainan. Orang dewasa acapkali melihat masalah dari sudut pandang mereka sendiri. Kemudian memberikan penyataan "heh udah jangan rebutan, kamu salah. Jangan narik mainan dia," padahal orang dewasa sendiri belum tahu alasan apa yang membuat mereka rebutan mainan? Alangkah bijaknya bila kita memulai dengan bertanya, "ada apa ini? Atau apa yang terjadi? Bagaimana agar bermainnya bisa menyenangkan?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan contoh sangat sederhana untuk membimbing anak berpikir mandiri saat menemukan masalah dan jalan keluar.

Jika diingat, apakah pernah kita mendapatkan pengalaman seperti itu di sekolah?
Hmmm… Rasanya tidak. 

Manusia makhluk sosial yang mendayagunakan komunikasi dalam keseharian. Sebagai mahluk sosial, umumnya manusia berkomunikasi, baik verbal maupun non verbal. Di sekolah, anak jarang atau bahkan sama sekali tidak dibimbing untuk bisa berkomunikasi dengan baik. Apakah dengan menggunakan intonasi yang tepat, pemilihan kata, misalnya.

Menurut Vigotsky, menjadikan anak berpikir mandiri adalah tujuan belajar. Dan penggunaan bahasa adalah kunci utamanya. Dalam hal ini anak-anak harus didorong menggunakan bahasa dalam mengekspresikan perasaannya. Misalnya, saat Jarwo kesal dengan Abi (hehe… ini nama teman-teman diskusi, teman cela-celaan). Karena Abi terus meledeknya kurus, item, hidup lagi. Nah, Jarwo langsung memukul Abi. Tentunya jika Abi dan Jarwo sudah dewasa hal tersebut tidak tepat dilakukan. Namun, bagaimana jika Abi dan Jarwo masih anak-anak? Misalnya kelas 1 SD. Bagaimana?

Dalam situasi seperti ini, Jarwo memilih memukul Abi karena Jarwo berpikir hanya itulah cara yang tepat menyelesaikan masalah. Ini asal muasalnya tindak kekerasan, dan orang dewasa sekitarnya tidak membimbingnya. Malah bilang "Abi, pukul balik kalau dipukul" atau Jarwo yang dimarah-marahin karena mukul Abi.

Bimbing Anak Selesaikan Masalah

Anak perlu bimbingan dan perhatian besar dalam hal semacam ini. Kita bisa mulai dengan membawa Abi dan Jarwo duduk bersama. Kemudian, bungkukan badan kita sesuai tinggi badan anak-anak.  Bisa jongkok. Mata kita harus menatap mata mereka.

Kemudian mulai dengan pertanyaan "apa yg terjadi?"
Berikan aturan agar bicara bergantian. Biasanya masing-masing akan membela diri dan berebut bicara.
Pertanyaan berikutnya, "Jarwo mengapa memukul?"
Asumsinya Jarwo akan bilang , "abisnya aku dibilang kurus, item, jelek, hidup lagi."
Kemudian kita balik bertanya pada Abi, "Abi, bener kamu bilang gitu? Kenapa?"
Lalu Abi mungkin akan bilang , "aku iseng aja Bu, pengen ledekin Jarwo."
Kita bisa tanya lagi, "apa perasaan Abi, saat ada orang meledek kamu, Abi?"
Umumnya, anak akan menjawab "sedih/kesel."  
Saat ini kita membimbing Abi berempati pada Jarwo, "Itulah perasaan Jarwo, saat kamu meledeknya."
Namun apa yang salah di sini?
Jarwo memilih cara menghadapinya dengan kekerasan, dia memukul. Kita coba memahami perasaan Jarwo, "Jarwo kamu kesel ya? Sedih ya? Dibilang item, kurus, hidup lagi? Adakah cara lain yang bisa kamu pilih selain memukul Abi? Kamu bisa bilang apa sama Abi biar dia nggak meledek kamu terus?" Nah, pada proses ini kita membimbing Jarwo untuk menggunakan lisannya dalam mengungkapkan perasaanya, "aku nggak suka diledekin. Hentikan, jangan lakukan itu."

Dengan cara ini anak dibimbing memecahkan masalah tidak dengan kekerasan, melainkan dengan ucapan terlebih dahulu. Setelah Jarwo dan Abi mengungkapkan pikiran dan perasaanya, kita bisa tahu motivasi apa sehingga mereka melakukan itu. Untuk menutup proses ini kita bisa bertanya kepada keduanya, "Jarwo, Abi apa yang bisa kalian lakukan agar menjadi teman kembali dan dapat bermain bersama?" Kita fasilitasi mereka agar saling bermaafan. Bukan dengan berkata, "udah, ayo saling maafan. Salaman."

Dalam buku cerita untuk anak-anak, berjudul "STOP. Jangan Ganggu Aku," diceritakan tahapan mengatasi masalah jika ada orang lain menggangu kita. Anak-anak butuh bimbingan menerapkan hal tersebut. Jika sesuatu membuatmu terganggu, hal pertama yang dilakukan, hiraukan, setelah masih menggangu juga, kita bisa bilang, "aku nggak mau diganggu, STOP jangan ganggu aku!" Jika tetap diganggu juga, saat inilah mereka butuh orang dewasa di sekitarnya. Namun, cara memberitahu pada guru/orang tua belum tentu selesaikan masalah. Hal ini perlu dilakukan karena kerjadian ini sering sekali. Anak jadi pengadu sebelum mereka coba untuk mengatasi masalah tersebut.

Dengan cara-cara terbaik, kita menginginkan anak kita jadi yang terbaik. Anak adalah masa depan kita. Bantu mereka temukan diri mereka melalui belajar cara berkomunikasi yang baik dan tepat. Bimbing mereka memilih cara-cara dialogis memecahkan masalahnya. Jika sejak dini membiasakannya mengungkapkan perasaan, pikiran dengan cara yang baik, tentu esok, mungkin di kemudian hari, 20 tahun lagi, saat mereka sebagai mahasiswa, kalau demonstrasi ya nggak rusak-rusakan, nggak mukul-mukul, nggak berkata kasar.

Mudah-mudahan kekerasan bisa berangsur berkurang saat semua orang dewasa berpikir untuk terlibat sebagai orang yang bertanggung jawab membimbing anak-anak dalam memecahkan masalahnya melalui proses komunikasi.

Hayooo… Sebelum punya anak, cari tahu dulu gimana cara membimbingnya.. Karena anak, amanah Allah yang paling indah.. ^.^

Oleh: Isma Bonita Sari
Aktivis Forum Studi M@KAR, kini mengajar di Sekolah Dasar Gemala Ananda, Fatmawati Jakarta Selatan.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Kebaikan Kecil yang Indah

Alkisah suatu ketika ada seorang yang selalu kebingungan, sebab, setiap kali dia mencium sesuatu, dia merasa bahwa apapun yang dia cium, berbau terasi. Usut punya usut, akhirnya diapun sadar bahwa ada terasi menempel di dekat hidungnya. Demikianlah yang terjadi pada pikiran kita. Saat ia dipenuhi dengan pandangan-pandangan buruk, hidup kita akan selalu dipenuhi dengan kegelisahan, kesedihan, kebingungan, kebimbangan dan berbagai hal yang tak nyaman lainnya. Sebaliknya, saat pikiran kita jernih dan dipenuhi dengan keindahan serta pandangan-pandangan yang baik, hidup kita pun akan terasa nyaman, tenang, tenteram dan bahagia. Karena itu, membuat pikiran kita indah adalah salah satu hal yang sangat penting yang sangat menentukan kualitas hidup yang sedang kita jalani.

Begitu banyak cara yang bisa mengantarkan kita pada penjernihan pikiran, pada pembersihan batin, pada peningkatan kualitas kebahagiaan hidup kita. Salah satu diantara adalah dengan menerapkan kebaikan kecil yang indah setiap harinya. Hal yang saya kira menarik yang terlintas di pikiran menyangkut penerapan kebaikan kecil yang indah ini adalah dengan membuat program-program berkala untuk suatu kelompok atau suatu komunitas tertentu. Misalnya program mingguan seperti ini:

·         Minggu pertama: Setiap bangun tidur, berniat akan melakukan sebuah amal lillahi ta'ala dalam bentuk apapun.
·         Minggu kedua: Setiap hendak makan dan minum, membaca bismillah dan berusaha mengucapkannya secara sadar.
·         Minggu ketiga: Mendoakan kebaikan untuk 5 orang yang kita kenal setiap habis sholat lima waktu. dst..

Mari kita tegaskan pada diri kita sendiri bahwa kebahagian itu sama sekali tidak datang dari ketenaran, kekayaan, kemewahan, tingginya pangkat atau jabatan atau hal lain yang berada jauh di luar sana. Kebahagiaan itu datang dari dalam diri kita, terbangun dari dalam diri kita, berasal dari diri kita. Bagi para guru, bisa mencobanya dengan menyelipkan program ini sebelum atau sesudah menyampaikan pelajaran. Bagi yang aktif bermain facebook, bisa membuat sebuah grup yang update statusnya berfungsi mengingatkan untuk tetap melakukan kebaikan-kebaikan kecil yang indah itu setiap hari.

Bagi yang aktif di forum studi, bisa meluangkan waktu selama beberapa menit untuk mencoba program tersebut sebelum atau setelah acara diskusi berlangsung. Begitu pula bagi yang aktif di organisasi, yang sering berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, yang setiap harinya berkumpul dengan keluarganya, kita bisa saling mengajak dan saling mengingatkan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang indah itu dengan program yang sangat mudah dan sederhana. Mari kita ajak keluarga kita, teman sekamar kita, sahabat-sahabat kita, para tetangga kita dan siapapun yang ada di dekat kita, mari kita bahu-membahu dan saling membantu membangun kebaikan kecil yang indah itu, pada diri kita, bersama-sama. :)

Tambahan: Sebenarnya tulisan ini dikhususkan untuk saya sendiri yang sering melupakan hal-hal yang kecil yang sebenarnya sangat mudah saya kerjakan, namun sering saya remehkan dan saya lupakan. Ya, syukur2 jika bisa memberi inspirasi pada saudara-saudara dan teman-teman untuk mulai melakukannya. :D

Oleh: Muhammad Yazid
Aktivis Forum Studi M@KAR yang mencintai kehidupan batin tasawuf dan tradisi timur. Menempuh Tafsir Hadist, kini tinggal di Sumenep, Madura, Ponpes Annuqayah.