"politics without principle, wealth without work, pleasure without conscience, knowledge without character, commerce without morality, science without humanity, worship without sacrifice." (Seven Social Sins, Mahatma Gandhi - 1925).
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2011

Membaca Kifayatul Akhyar secara Manhaji

Hukum Islam atau yang sering disebut Fiqih termasuk  disiplin ilmu  sangat diminati sebagian besar masyarakat Islam di Indonesia. Hal ini tampak dari tema-tema yang diangkat dalam pengajian umum maupun forum-forum diskusi di pesantren yang kerap menjadikan Fiqih sebagai pokok pembahasan. Bahkan, terkesan kalau Fiqih adalah ajaran paling inti dalam Islam. Akibatnya, menjadi sebuah aib atau bahan tertawaan jika ada santri setelah keluar dari pesantren tidak paham Fiqih atau tak mampu membaca kitab-kitabnya.

Posisi Fiqih bak penguasa dalam pemerintahan yang memiliki otoritas melakukan intervensi kepada siapa saja. Sehingga problem apapun bisa dipandang dan dijelaskan dalam perspektif Fiqih. Orang pesantren tidak perlu lagi belajar Ilmu Politik untuk menjelaskan bagaimana pemerintahan yang ideal. Akan tetapi, mereka cukup mengacu kepada kaidah Fiqih, “Tasharruful imam ‘alar-ra’iyyah, manuthun bil mashlaha." Begitu juga dalam membahas toleransi, mereka tidak perlu kuliah khusus toleransi untuk mengetahui kenapa toleransi itu adalah sebuah keharusan, tapi, cukup mengutip kaidah dalam Fathul  Mu’in, “daf’ dlarar ma’shumin.”

Sekilas hal ini menimbulkan kesan, Fiqih terlalu menghegomoni dalam tubuh orang Islam Indonesia, khususnya pesantren. Sebab, semuanya serba dijelaskan dengan Fiqih. Seolah-olah pesantren “lebay” dan terlalu kreatif dalam improvisasi. Apa hubungan Fiqih dengan Demokrasi, HAM, dan toleransi? Apakah dalam Fiqih dibahas mengenai Demokrasi, HAM, dan toleransi? Tentu saja tidak, namun begitulah kehebatan orang-orang pesantren dalam memahami turas agar relevan dengan konteksnya. Singkatnya, “al-muhafazhah alal-qadim ash-shalilh wal akhdz bil jadid al-ashlah.”
 
Fiqih bisa diibarat dengan pisau bermata dua, ia akan menjadi progresif apabila dibaca secara cerdas. Sebaliknya, bagi pembaca yang “salah paham” dengan Fiqih ia akan terjebak kepada taqlid yang membabi buta, atau kalau tidak ia akan menjadi orang yang anti Fiqih. Mengapa? Kita tahu bahwa kebanyakan kitab-kitab Fiqih yang diajarkan di berbagai pesantren di Indonesia, lebih kepada kitab yang ditulis dengan model komentar terhadap ulama salaf (model syarah).  Tradisi ini mulai perkembang pada era kemunduran umat Islam tepatnya ketika runtuhnya kota Bagdhad. Pada dekade ini, kebanyakan ulama tidak lagi produktif dalam menghasilkan karya-karya yang orginal, akan tetapi mereka lebih fokus dalam mengomentari karya ulama sebelumnya. Akhirnya, kita tidak lagi menemukan orang-orang seperti Imam Syafi’i, selaku penggagas Usul Fiqih dan lainnya pada tempo ini.

Kitab Fiqih yang ada dihadapan mata kita saat ini adalah hasil dari jerih payah ulama klasik. Pastinya, kitab ini ditulis dalam tempo waktu yang berbeda dengan saat ini. perbedaan waktu tentu juga berpengaruh terhadap kejadian, peristiwa, dan kondisi sosial yang ada pada waktu itu. walhasil, realitas ketika kitab terlahir dari pena penulisnya tidak  berbanding lurus dengan apa yang dihadapi oleh pembacanya saat ini.

Fakta semacam inilah yang penulis maksud dengan Fiqih ibarat bermata dua. Orang akan menjadi anti Fiqih atau jatuh kejurang taqlid ketika ia tidak memahami kapan Fiqih itu dibuat dan persoalan apa yang dihadapinya saat itu. bagi si pembaca yang seperti ini, ia kan mengklaim kalau kitab-kitab Fiqih klasik tidak relevan dengan zamannya, sebab tidak membahas persoalan aktual. Kemudian, bagi pembaca yang kedua akan terus menerus jatuh kejurang taqlid dan anti perubahan, karena yang ada dalam kitab Fiqih hanya pendapat-pendapat ulama yang terkadang tidak disebutkan alasan dan argumentasi. Sehingga menjadi sulit bagi kita untuk menumukan pijakan-pijakan rasionalitas dari pendapat yang ia munculkan. Padahal, permasalah selalu berkembang terus menerus tanpa henti, sedangkan teks sangatlah terbatas, demikian Ibn Rusyd menyebutkan. 

Disinilah membaca kitab Kifâyatul Akhyâr fî halli ghâyatul ikhtishâr menemukan konteksnya. kitab ini ditulis oleh Taqiyuddin Abi Bakar Muhammad al-Husaini al-Husni, seorang ulama yang berasal dari Damaskus. Sebenarnya kitab yang ditulis oleh ulama abad 9 ini adalah berupa komentar terhadap kitab ghayâtul ikhtisâr, karya Al-Qadhi Abu Syujak Ahmad al-Husain bin al-Isfahani (533-593 H). Imam al-Husni terbilang ulama yang prolifik sekaligus produktif kala itu, hal ini tampak dari banyaknya karya yang timbul dari ukiran pena beliau. Selain Kifayatul Akhyar beliau memiliki beberapa karya lain, seperti Syarah Tanbîh, Syarah Minhâj,  Syarah Muslim,  Talkhîs Takhrij AHadis Ihya, Talhkhisul Muhimmat,  Qawaid FiqihAhwalul Qubur, Siyaru Nisa` as-Salaf al-‘Abidat, Ta dibul Qaum, dan lain-lain.

Kifayatul Akhyar bukanlah kitab yang asing ditelinga kita. Kitab ini sudah dibaca berulang kali, bahkan ratusan kali oleh sebagian pesantren maupun kampus. Tapi persoalannya bagaimana cara membacanya, apakah dengan pembacaan taqlidi, “imani,” atau dengan pembacaan kritis-metodologis? Membaca Kifayatul Akhyar dengan model taqlidi atau “imani”, tidak akan menghasilkan sesuatu yang baru dalam kitab ini. sebab, kita hanyalah ibarat penumpang yang tidak tahu akan dibawa kemana. Dengan pembacaan seperti ini juga akan membuat Kifayatul Akhyar teraneliasi dengan konteks kekiniannya. Ia tidak lagi progresif sebagaimana dulu ketika ia dilahirkan oleh penulisnya. Tetapi, bedahlah kitab ini dengan model pembacaan yang ketiga, yakni kritis-metodologis (manhaji).

Jika ditelisik lebih dalam, sebetulnya Imam al-Husni sudah mendidik para pembacanya agar membaca persoalan Fiqih secara manhaji, bukan sekedar taqlid terhadap satu pendapat saja. hal ini dapat dilihat dalam penjelasan yang dipaparkan pada setiap babnya. Misalnya membincang hukum berwudhu` dengan air musyammas (air yang dipanaskan dengan cahaya matahari). Menurut ar-Rafi’i berwudhu`dengan air musyammas hukumnya makruh. Beliau berpendapat dengan Hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah, air musyammas dapat menimbulkan penyakit kusta (HR. al-Daraquthni dan al-Baihaqi). Kemudian pendapat ini juga didukung oleh pendapatnya Umar, yang juga memakruhkan berwudhu` dengan air musyammas

Namun, ketika menjelaskan persoalan ini, imam al-Husni tidak menerima begitu saja pendapat ar-Rafi’i yang juga diamini oleh Abi Syuja`. Beliau melakukan analisa yang tajam terkait hukum Hadis yang dijadikan pegangan oleh ar-Rafi’i dalam mengukuhkan pendapatnya. Menurut mayoritas ahli Hadis, sebagaimana yang juga dijelaskan dalam Syarah Muhadzab, Hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah hukumnya dhaif, bahkan ada yang mengklaim Hadis ini maudhu’.  Begitu juga dengan pendapat Umar Bin Khattab, riwayat ini dhaif karena ada rawi yang bernama Ibrahim bin Muhammad, menurut mayoritas ahli Hadis rawi ini adalah dhaif.

Ternyata, perdabatan ini tidak selesai dengan mengklaim kalau riwayat ini dhaif. al-Husni membawa kita kepada persoalan yang lebih pelik lagi. Pasalnya, walaupun mayoritas ahli Hadis berpendapat bahwa Hadis ini ini Dhaif, akan tetapi, menurut as-Syafi’i riwayat ini adalah sahih, pendapat ini juga diamini oleh al-Daraquthni. Kondisi seperti ini membuat kita bimbang diantara dua pilihan, apakah berpatokan kepada as-Syafi’i atau berkiblat kepada mayoritas ahli Hadis? Jelas, perbedaan ini timbul karena berbedanya metodologi yang dipakai ulama dalam menghukumi sebuah Hadis. Oleh sebab itu, kita dituntut untuk menyelesaikan perdebatan ini dengan menganalisa manhaj (metodologi) yang digunakan masing-masing ulama. Bukan hanya sekedar taqlid terhadap satu pendapat tanpa mengetahui argumentasinya. Bisa jadi kesimpulan kita akan sama dengan ulama sebelumnya, bisa jadi tidak. Sebab yang diikuti bukanlah pendapatnya, akan tetapi metodologinya. 

Dengan pembacaan model ini akan menjadikan Fiqih lebih aktual dan relevan dengan zamannya. Sehingga persoalan apapun yang muncul akan terjawab, sekalipun itu tidak ditemukan dalam kitab klasik. Perdebatan mengenai hukum air musyammas ialah segelintir dari persoalan yang disinggung dalam Kifayatul Akhyar. Sangat banyak amstal yang harus diungkap dalam kitab ini, yang tidak mungkin untuk dijelaskan dengan keadaan kertas yang serba terbatas ini. Yang terpenting pelajarilah bagaimana metodologi (Mahhaj) yang dipakai al-Husni dalam menjelaskan masalah-masalah Fiqih. Setelah itu, bacalah Kifayatul Akhyar sebagaimana al-Husni membaca.    

Kuliah di Dirasah Islamiyah dan Studi Hadist

Sabtu, 29 Oktober 2011

Wasiat Gus Dur dalam Dialog Peradaban

Selasa 12 Desember 2010 saya merasa mendapat kehormatan diundang oleh seorang sahabat guna menghadiri jumpa pers dan peluncuran buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian antara Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dan Ikeda Sensei (Daisaku Ikeda, Presiden Soka Gakkai International ke-3) di Gedung Pusat Kebudayaan Soka Gakkai Indonesia di bilangan Jakarta Pusat.

Peluncuran buku ini dihadiri Ibu Shinta Nuriyah dan putri-putrinya termasuk Mba Yenny. Hadir juga rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri, Bapak JK (mantan wapres), dan Ibu Dewi Motik Pramono yang berimprovisasi saat didaulat melantunkan lagu Bengawan solo dalam iringan musik tradisional Jepang, Koto. Dan deretan tokoh masyarakat yang agaknya tidak perlu saya sebutkan satu persatu.

Saya tidak akan mengulas dialog peradaban antara Gus Dur dan Ikeda, yang proses wawancaranya antara lain dilakukan pada saat-saat Gus Dur melakukan cuci darah menjelang akhir pengabdian beliau di dunia ini (4 Agustus 1940 – 30 Desember 2010). Tapi saya akan menukilkan beberapa paragrafnya untuk para sahabat. Bagi yang tertarik, silahkan membelinya karena buku Best seller di Jepang ini, edisi Indonesianya telah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan tersedia di toko-toko buku.


Ikeda:
Kehangatan hati, keramah-tamahan orang-orang di negara Bapak telah menarik hati orang banyak. Indonesia memiliki banyak jenis bunga seperti kembang sepatu, bougenvil, katleya, wijayakusuma, dan raflesia yang disebut sebagai kembang terbesar di dunia, dan bunga-bunga lainnya.

Gus Dur:
Di Indonesia, bunga flamboyan adalah bunga yang dijadikan sebagai tanda akan menjelang masuknya musim hujan. Saat flamboyan berwarna merah berkembang adalah puncak hari-hari yang paling panas. Saat bunganya berguguran dan tersisa daun-daun berarti mulai masuk musim hujan. Kalau di Jepang, saat bunga sakura berkembang menandakan akan datangnya musim semi, ya?

Ikeda:
Ya, betul. Bunga sakura adalah bunga kenegaraan Jepang. Saya menyukai pohon sakura sejak kecil.
Bunga kenegaraan Indonesia adalah bunga melati, bukan?

Gus Dur:
Ya, saya sangat menyukai bunga melati, karena sejak kecil diberitahu bahwa itu adalah kembangnya para wali. Melati bentuknya kecil, berwarna putih bersih dengan keharuman yang khas.

Ikeda:
Saya mengetahui pribahasa Jawa yang berbunyi “nyuwun sekar melati, ingkang mekar ning jeroning ati.” Jadi bunga melati sangat pantas dijadikan bunga Negara Bapak yang memiliki kerendahan hati.

Nichiren Daishonin yang kami ikuti, menjelaskan bahwa, “Jika hati orang-orang kotor, tempat mereka tinggal pun akan menjadi kotor. Sebaliknya, jika hati orang-orang bersih, maka tempat mereka tinggal pun akan menjadi bersih.”

Berarti hati yang indah membuat tanah suci dan melindungi lingkungan indah, lalu membuat alam yang indah menjadi berkilau.

Gus Dur:
Saya ingat saat berkunjung ke pameran foto Bapak Ikeda, Dialog dengan Alam yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2007. Saya berterimakasih atas penyelenggaraan pameran foto yang luar biasa di negara kami. Tema yang berjudul Dialog dengan Alam merupakan tema yang sangat penting.

Tuhan menganugerahkan alam secara keseluruhan kepada umat manusia supaya kita menggunakannya sebaik mungkin. Dengan arti demikian, bila manusia tak berbuat apa-apa terhadap alam, maka hal itu sama dengan merusak alam. Jadi merusak alam itu adalah merusak kemanusiaan.

Di dalam ajaran Islam ada sebuah ungkapan yang sangat bagus yang berarti misi Tuhan berada di dalam diri sendiri. Alam sangatlah dekat dengan kita, karena itu kita harus melestarikannya untuk selama-lamanya.

Ikeda:
Daya penyelaman dan perspektif Bapak tersebut sangat dalam. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa terimakasih atas bantuan dan kerjasama Bapak Wahid saat penyelenggaraan pameran foto saya.

Buddha Sakayumi menyinggung tentang keharuman bunga melati sebagai salah satu bunga yang harum luar biasa dengan berkata bahwa orang suci berkebajikan memiliki keunggulan yang lebih harum dari bunga melati.

“Keharuman bung tak akan melawan angin, begitu pula dengan keharuman bunga melati atau cendana maupun kemenyan. Namun keharuman dari orang bajik dapat berlawanan dengan hembusan angin. Keharuman dari orang yang bajik akan harum semerbak ke segala penjuru.”

Mereka yang suci dan memiliki kebajikan terus memberi semangat dan harapan kepada masyarakat dengan aroma wewangian yang dipancarkan lewat martabat orang tersebut, bukan hanya pada saat terhembus angin buritan saja, namun juga pada saat angin haluan.

Perkataan tersebut tepat sekali dengan jalan kehidupan yang Bapak Wahid tempuh, yang mengarahkan masyarakat ke arah pengembangan dan perdamaian dengan mengatasi berbagai kesulitan.

Gus Dur:
Terimakasih atas penilaian yang amat tinggi terhadap saya. Terusterang saja, sebenarnya saya tidak berpikir bahwa kesulitan itu bukan hal yang sulit bagi saya.

Saat saya mengalami kehilangan sebagian besar penglihatan, dan mengalami penyakit berat setahun sebelum pelantikan presiden pun, saya pikir yang utama adalah saya harus menerima nasib yang telah diberikan Allah kepada saya.

Namun saya juga tahu bahwa saya harus melakukan yang terbaik untuk menangani keadaan. Oleh karena itu, saya tidak pernah menyesali nasib saya. Sebaliknya, sampai hari ini saya terus melakukan berbagai usaha untuk mencegah diri saya berhenti bekerja.

Ikeda:
Hati saya amat tersentuh pada keyakinan tegar Bapak Wahid.

Saya pun mendapat banyak caci-maki maupun penindasan atas tuduhan yang tidak benar. Walaupun demikian, ketika menghadapi penindasan saat melakukan kebenaran dan mewujudkan perdamaian, saya menetapkan hati bahwa ini adalah suatu kehormatan. Dan saya maju terus.

Keyakinan saya sejak masa remaja adalah, orang yang kuat saat berdiri seorang diri merupakan pemberani yang sejati. Gelombang yang menghadang dan menggempurnya membuatnya semakin kuat.

Selama ini Bapak Wahid terlibat dalam dunia jurnalistik sebagai penulis yang penuh keyakinan. Dan juga terjun ke dunia politik yang harus mengemban tugas untuk kebahagiaan rakyat. Saya mengetahui bahwa Bapak Wahid pernah menerima kritikan yang bertujuan buruk.

Apakah Bapak Wahid pernah memendam rasa kecewa dan kesal karena dikhianati?

Gus Dur:
Terlalu sering dikhianati sehingga tidak merasakannya sebagai tantangan. Nanti akan ada hikmah dari tiap kali terjadinya pengkhianatan itu.

Saat saya mengundurkan diri dari jabatan sebagai presiden bulan Juli 2001, saya berjanji akan bekerja untuk demokrasi yang lebih baik. Saat itu saya juga tidak menyesal.

Satu-satunya hal yang menyedihkan bagi saya adalah kehilangan beberapa pita kaset musik Ludwig van Beethoven yang secara khusus saya koleksi. (tertawa)

Ikeda:
Selama ini, Bapak Wahid mengubah kesulitan menjadi bekal untuk kemajuan.

Saya ingat ketika bertemu dengan Bapak Wahid pertamakali setelah Bapak melepaskan jabatan sebagai presiden di bulan April 2002. Saya masih ingat sekali dan dapat merasakan keyakinan Bapak yang tak tergoyahkan, dengan suara yang penuh semangat dan keberanian.

Gus Dur:
Pada saat bertemu dengan Bapak Ikeda di Tokyo, Bapak memberikan banyak inspirasi kepada saya. Justru dengan adanya pertemuan itu, saya bertekad lagi menggunakan sisa hidup saya untuk mengabdi pada kepentingan Negara.

Ikeda:
Terimakasih, suatu pujian yang amat besar bagi saya. Ludwig van Beethoven, pemusik yang Bapak singgung tadi pernah berkata, “apa pun yang terjadi tak akan kubiarkan diriku hancur terkalahkan oleh nasib. Oh, alangkah hebatnya hidup seribu kali lipat dengan satu jiwa.”

Beethoven telah menciptakan aransemen musik Simfoni No. 5 dan Simfoni No. 9 yang dikenal sebagai Ode to joy, dan karya-karya lainnya. Itu menjadi pusaka tertinggi bagi umat manusia yang diperoleh melalui perjuangan hidup menghadapi badai kesulitan yang menerjang. Kehidupan yang ditempuhnya memberikan dorongan semangat kepada saya.

Masih teringat dalam kenangan saya saat remaja, ketika saya mendengar musik aransemen Beethoven yang diputar dengan gramophone player sederhana bersama dengan teman-teman. Sungguh menyegarkan diri untuk mengumpulkan semangat.

Gus Dur:
Saya pun suka karya Beethoven, terutama Simfoni No. 9. Simfoni itu mencerminkan kehidupan Beethoven yang penuh dengan perubahan-perubahan dan perjuangan yang keras.

Tema simfoni tersebut adalah menggapai kegembiraan dengan mengarungi badai kesulitan. Ini dialami sendiri oleh Beethoven ketika mencipta smfoni tersebut.

Karena pada waktu itu ia sudah tuli samasekali. Ketika ia sanggup menciptakan koor musik yang begitu tinggi dengan perasaan, maka para pendengar permainan Simfoni No. 9 menilainya sebagai ‘the inhuman voice’.

Ikeda:
Ya, lagu tersebut merupakan lagu abadi. Seni yang agung akan membawa kita kepada spiritualitas yang tinggi. Dan spiritualitas yang tinggi menumbuhkan daya cipta seni yang agung.

Dan seni sejati itu lahir dari adanya kesulitan, serta kegembiraan yang muncul dari lepasnya kesulitan tersebut. Seni sejati mengandung keyakinan dan kecintaan untuk berkontribusi kepada masyarakat dengan mengatasi kesulitan dan mendapatkan hikmahnya.

Justru itulah seni agung yang senantiasa menyentuh hati manusia dalam kehidupan sejati yang tak mengenal batas negara dan zaman.

Perkataan Beethoven yang berbunyi “seni menyatukan semua orang” sangat terkenal. Musik sebagai kembang unggul di setiap negara, bangsa, dan budaya merupakan kekuatan untuk menyatukan dunia.

Gus Dur:
Saya sependapat dengan Bapak. Saya masih ingat, saat mengunjungi Universitas Soka saya disambut dengan musik tradisional Koto (alat musik kecapi Jepang) oleh sejumlah mahasiswa.

Di Min-On Concert Association (Min-On) saya mendapat kesempatan mendengar nada piano klasik yang sama digunakan oleh Wolfgang Amadeus Mozart, yang juga sangat dihargai Beethoven. Dan juga saya dapat mendengar langsung lagu Oh Ibu yang liriknya dibuat oleh Bapak Ikeda, dan seorang staf wanita Min-On menyanyikan lagu tersebut untuk kami.

Saya merasa terharu pada melodi yang sangat indah dan juga merasa kagum pada arti lirik lagu yang telah dijelaskan. Setiba di hotel, saya segera mendengarkan hadiah CD dari Min-On yang berisi aransemen musik Oh Ibu yang dimainkan dengan berbagai instrumen musik.

Di halaman lain yang membicarakan seputar perlawanan terhadap militerisme.

Ikeda:
Saya mengetahui bahwa Kakek Bapak Wahid pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia telah menjadi korban pemukulan tentara Jepang sehingga lengan kanannya cacat. Bukankah begitu?

Gus Dur:
Ya, betul. Kakek saya, Bapak KH Hasyim Asy’ari dan banyak orang yang berjuang untuk kemerdekaan negara ditahan. Kakek saya adalah seorang kiai, dipaksa harus membungkuk kea rah timur, arah matahari terbit, untuk menghormati Kaisar Jepang, tetapi kakek saya menolak perintah paksa tersebut sehingga ia mendapat perlakuan kekerasan.

Ikeda:
Saya sebagai orang Jepang memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para korban yang menderita akibat penjajahan Jepang ke negara-negara lain.

Yang menderita kesengsaraan bukan hanya Kakek Bapak Wahid saja, tetapi tidak diketahui entah berapa banyak orang yang telah direnggut nyawanya serta dihancurkan kehidupannya dan menderita kesengsaraan. Mereka ada di negara Bapak dan negara-negara Asia lainnya.

Makiguchi (Tsunesaburo Makiguchi, Presiden Soka Gakkai International pertama) menegaskan tentang perbuatan yang diluar batas-batas prikemanusiaan yang telah ia alami seperti pada saat ia diinterogasi dalam penjara. Ia mengatakan bahwa invasi Jepang ke Negara-negara Asia tidak mungkin bisa disebut sebagai perang suci. Kesalahan prinsipil dengan pengarahan psikologis yang diberikan oleh penguasa negara pada saat itu telah membuat semuanya terjerumus dalam kesesatan.

Agar tragedi tersebut tidak terulang lagi, maka kami telah memperluas pergerakan rakyat dengan tujuan untuk membangun perdamaian dunia dan melanjutkan estafet tujuan serta tekad Makiguchi. Universitas Soka dan SD, SMP, serta SMA Soka dan organisasi-organisasi pendidikan lain yang saya dirikan, juga bertujuan untuk membina orang-orang berbakat yang dapat memberi kontribusi untuk perdamaian.


Saya mengetahui bahwa Kakek Bapak Wahid, Bapak Hasyim Asy’ari berdedikasi untuk kemerdekaan Negara Bapak dan dihormati sebagai Pahlawan Nasional dan juga dikenal sebagai pendidik agung.

Bapak Hasyim Asy’ari berusaha untuk secepatnya menerapkan pendidikan modern yang reformatif saat itu seperti mata pelajaran matematika, ilmu pengetahuan, bahasa asing dan mata pelajaran lainnya. Bukankah demikian?

Gus Dur:
Ya, benar. Kakek saya, Hasyim Asy’ari mendirikan sekolah keasramaan yaitu pondok pesantren saat ia berusia 28 tahun. Kakek saya ingin meningkatkan moral dan rohani di masyarakat melalui pendidikan pesantren. Kakek saya mendirikan pesantren di dekat pabrik gula yang dikelola oleh orang Belanda.

Saat itu daerah dimana pesantren didirikan, moral manusianya tidak baik karena banyak bar atau tempat judi bermunculan. Namun orang-orang setempat terpaksa menyerah karena menggantungkan kehidupan pada pabrik gula tersebut.

Kakek saya mengharapkan perubahan keadaan buruk tersebut menjadi baik lewat pendidikan. Kakek saya meyakini bahwa jika seseorang tidak dapat mengubah ayahnya, maka seseorang harus berupaya mengubah ibu dan anak melalui pendidikan.

Ikeda:
Sangat jeli sudut pandang beliau.

Dari sudut pandang yang lain, baik buruknya keluarga amat tergantung peran ibu. Menurut saya semakin penting menyoroti ibu dan anak untuk masa depan.

Gus Dur:
Ya. Pada awalnya kakek saya membangun musholla sederhana yang terbuat dari bahan bambu. Anak-anak diberi tempat hidup di situ agar mendapat pendidikan dan juga dapat terlindungi dari pengaruh orang-orang jahat. Tidak lama kemudian, musholla tersebut dapat meraih penilaian tinggi di mata masyarakat sebagai tempat berbasis pendidikan yang penting.

Dan juga pesantren kakek saya menyebarluaskan metode pendidikan yang telah diperbaiki ke pesantren-pesantren lain. Saat kakek saya meninggal dunia, pesantren kakek telah berkembang sampai mempunyai murid sekitar 2.500 orang. Orang-orang yang telah lulus dari pesantren kakek banyak yang mengemban tugas di berbagai pesantren lain, atau ada juga yang mendirikan pesantren baru.

Ikeda:
Kehidupan Kakek Bapak Wahid sangat agung dan mulia. Dapat dikatakan bahwa makna tugas mulia yang disebut sebagai pendidikan akan menjadi kekuatan yang menyinari seluruh masyrakat lewat penerusnya.

Bapak Hasyim Asy’ari seorang pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama mempercayai dan menghargai cahaya pendidikan dan kekuatan pendidikan secara tuntas.

Bapak Wahid juga sangat mementingkan peningkatan kemanusiaan. Bapak Wahid dulu pernah menegaskan bahwa tugas utama agama adalah mengangkat derajat manusia dari kemiskinan dan kehinaan. Dan mengatakan juga bahwa moralitas yang harus ditumbuhkan haruslah memiliki watak utama, berupa keterlibatan kepada perjuangan si miskin untuk memperoleh kehidupan yang layak dan penghargaan yang wajar atas hak-hak asasi mereka. Moralitas Islam adalah moralitas yang merasa terlibat dengan penderitaan sesama manusia.

Saya yakin bahwa Kakek Bapak Wahid pasti sudah menjalankan hidup agung dengan kesungguhan hati sesuai dengan perkataan Bapak ini.

Gus Dur:
Tidak ada hal yang lebih menggembirakan hati saya selain dari kegembiraan atas pemahaman Bapak Ikeda yang tepat tentang kakek saya. Kakek saya selalu toleran kepada orang lain, hal ini sangat mempengaruhi saya. Kata santri memiliki maksud, murid sekolah agama Islam di Indonesia.

Sikap toleran saya secara konsisten terhadap sejumlah kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi para santri dan non-santri di Indonesia, berdasarkan sikap toleran kakek saya ini.


Note: Menurut Daisaku Ikeda, orang yang memperjuangkan kebaikan selama sehari adalah orang baik. Orang yang memperjuangkan kebaikan selama sebulan adalah orang yang lebih baik. Orang yang memperjuangkan kebaikan selama setahun adalah orang yang lebih baik lagi. Dan orang yang memperjuangkan kebaikan sepanjang umurnya adalah orang agung.


Bintaro, 07 Desember 2010.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Kalang Kabut: NU Miring

Apa boleh buat, buku sudah dicetak. Pikiran sudah tertuang jadi catatan. Perasaan yang mengisi dada, tumpah-ruah. Semua itu digarap dengan baik menjadi buku berjudul "Dari Kiai Kampung ke NU Miring: Aneka Suara Nahdliyyin dari Beragam Penjuru".

Bersampul hijau tua muda, tertampak bayang manusia dalam ruang geraknya yang konstan. Berkostum sorban dan kopiah. Sigaret di sela jari. Itulah sampul ­bayangan, bergambar Nahdlatul Ulama tercetak miring. Pembaca akan mengerti maksud sampul dan judul, tentu ­dengan membaca secara cermat dan kritis kandungan isinya. Sosok bayangan itu. Entah siapa mereka. Maka, baca dan ketahuilah.

Buku ini menjadi bermutu karena ­mengandung energi kritik luarbiasa. Bukan sembarang kritik, melainkan mengupas seluk-lilu kehidupan kaum Nahdliyyin--kiai, santri, warga NU yang dianggap dan warga NU biasa tidak dianggap. Warga NU terbagi-bagi begitu rupa. Untuk, oleh dan kepada siapa. Egalite dan elite, struktural dan kultural, kota dan desa, tua muda, serius nggak serius, dan sebagainya. Sehingga menjadi amat manusiawi, buku semacam ini ditulis. Tentu jika kita membacanya, para penulis seolah "kalang kabut" menghadapi kenyataan yang terjadi di tubuh NU akhir-akhir ini, khususnya pasca-Muktamar NU ke 32 di Makassar.

Terdiri dari 248 halaman dalam tiga bagian. Didahului asbab an-nuzul NU miring oleh Binhad Nurrohmat selaku editor. Bagian pertama, menonton NU. Kedua, mengulas NU. Ketiga, mencanda NU. Seakan tidak mencita-citakan sesuatu yang muluk-muluk.  Judul dan bagian isi memenuhi rasa bahasa kaum yang merasa memiliki masa depan. Mereka, kaum muda Nahdliyyin.

Ditulis sederhana dengan pilihan bahasa yang ringan tapi tajam. Mengalir mengisi ruang imaji pembaca, hingga selalu ada jeda menuai pertanyaan. Fakta diolah sedemikian rupa, sehingga jadi gurih sekaligus pedih. Nyaris tanpa kesalahan ketik pada ejaan.

Kalimat penutup di setiap tulisan, sangat berkesan. Seperti apa yang ditorehkan Acep Zamzam Noor berikut ini, "Kisah tentang NU mungkin tinggal episode-episode sinetron yang alur ceritanya klise, membosankan, dan mudah ditebak pemirsa." Mujtaba Hamdi, mengatakan "Usah berlebihan. Sebab di luar sana ada banyak mata menatap, dan tak semua mampu memahami gerak a la NU. Jangan sampai dikira sedang aksi goyang condong. Na'udzubillah..." dan Soffa Ihsan, menegaskan "Keteladanan itulah yang paling utama untuk diketahui. Sebab, ucapan tanpa ada bukti keteladanan takkan pernah bisa dipahami. Wallahu a'lam bi al-sawab."

Semua komentar di atas terasa bernada kurang ajar, menggurui. Meski tidak tepat disebut demikian. Karena itulah cara mereka menyapa persoalan yang tengah dihadapi. Suatu kesantunan tersendiri melalui satu tulisan yang tertata. Sekadar harapan kecil yang pedas didengar oleh beberapa kelompok, lantaran itu keluar dari pendirian nurani.

Keberanian seorang penulis lain dalam melihat persoalan NU juga bisa kita amati pada buku ini pada bagian "Menonton". Sudah sepantasnya penilaian dihargai. Kritik dipelihara dan dijaga demi perbaikan ke depan. Eyik Musta'in Romly menyuguhkan kesegaran yang menjadi kunci tulisannya. Dia melihat bahwa, "Hal yang harus dilawan adalah para penunggang NU yang memanfaatkan kebesaran NU demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, bukan demi kemakmuran warga NU. Hal yang mesti dikritisi adalah ulama dan pemimpin NU yang mendoktrin dan membodohi warganya demi keuntungan pribadi dengan memanfaatkan kekayaan untuk merebut NU struktural/kultural serta merebut kursi kekuasaan NU tanpa akhlaqul karimah. Juga mereka yang memutar uang dengan mengeruk kekayaan dengan menjual nama NU." Kekhawatiran yang mengandung harapan. Perasaan dan penilaian itu tidak bisa dianggap remeh. Perlu dipikir ulang dan dicari bagaimana cara penyelesaiannya, kalau memang itu dianggap masalah. Hanya tulisan, tapi jika mengandung kebenaran, tetap perlu diperhitungkan. Akhirnya mau jadi NU yang bagaimana? Mana saja boleh! Sebegitu seriusnyakah menjadi NU?

Kok ada, NU Miring? Macam mana...!!! Adakah NU tidak miring, NU lurus, berkelak-kelok bahkan bergelombang? Tawaran berbagai istilah, boleh saja. Tapi kebiasaan semacam ini terkesan hiperjargon. Persoalan yang menentukan masa depan, merah dan hitamnya kebenaran, tidak diselesaikan dengan cara demikian. Sekadar jeda kelakar, boleh saja. Tapi itu pun lebih baik, selama masih bisa menjiwai kegembiraan dengan NU gembira bersama saudara Binhad, Monggo mawon...

Judul Buku: Dari Kiai Kampung ke NU Miring
Penulis: Acep Zamzam Noer et.al
Penerbit: Ar-Ruzz Media
Tahun Terbit: 2009
Jumlah Halaman: 248 hlm


Oleh: Abi S Nugroho

Resensi ini kali pertama dimuat www.wahidinstitute.org